Eko SupriatnoKolomTerkini

Laut Bercerita dan Luka Sejarah

Oleh Eko Supriatno, Dosen, pencinta film, dan pegiat Komunitas Bunga Rumput serta Pandeglang Creative Hub

KOLOM, biem.co – Ada luka yang tidak sembuh hanya karena sebuah rezim tumbang. Ia tinggal dalam ingatan, menyelinap di antara percakapan keluarga, dan sesekali datang bersama kabar dari masa lalu. Kita menyebutnya sejarah, seolah segala sesuatu telah selesai karena waktu terus berjalan. Padahal, bagi mereka yang kehilangan orang tercinta, sejarah bukan sekadar peristiwa dalam buku pelajaran. Ia adalah kursi makan yang tetap kosong, pintu rumah yang tak kunjung diketuk, dan harapan yang menua bersama orang-orang yang memeliharanya. Kalender boleh berganti, kota boleh berubah, tetapi di sebuah rumah seseorang masih menunggu kepulangan yang tidak pernah memperoleh kepastian.

Membaca Laut Bercerita karya Leila S. Chudori seperti memasuki kembali sebuah zaman ketika pikiran dapat dianggap sebagai ancaman dan keberanian anak muda harus berhadapan dengan kekuasaan yang begitu besar. Melalui Biru Laut dan kawan-kawannya, kita mengenal mahasiswa yang membaca buku, memperdebatkan ketidakadilan, jatuh cinta, bercanda, dan memimpikan negeri yang lebih manusiawi. Mereka bukan manusia tanpa rasa takut. Mereka merindukan keluarga, mencemaskan masa depan, dan memiliki keinginan sederhana sebagaimana anak muda lainnya. Justru karena itulah keberanian mereka terasa dekat. Mereka tidak sedang mencari tempat dalam buku sejarah. Mereka hanya percaya bahwa ada keadaan yang tidak boleh terus dibiarkan.

Kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya membawa persoalan politik kembali kepada kehidupan manusia. Negara, kekuasaan, dan perlawanan bukan lagi istilah besar yang dibicarakan dari kejauhan. Semuanya hadir melalui sepiring makanan, selembar surat, percakapan yang terputus, atau suara seorang ibu yang memanggil nama anaknya. Di tangan sastra, sejarah memperoleh wajah. Kita tidak hanya mengetahui bahwa seseorang telah dihilangkan, tetapi mulai memahami apa artinya kehilangan bagi orang-orang yang masih harus meneruskan hidup.

Sejarah Belum Pulang

Sebelas tahun lalu, ketika menulis tentang film Di Balik 98, saya menyimpan kegelisahan tentang cara sejarah dihadirkan melalui layar. Peristiwa 1998 kerap dikenang melalui mahasiswa yang memenuhi jalanan, gedung parlemen yang diduduki, dan berakhirnya pemerintahan Soeharto pada 21 Mei. Semua itu penting. Namun, sejarah selalu lebih luas daripada peristiwa yang paling sering difoto dan diceritakan. Di belakang pergantian kekuasaan terdapat krisis ekonomi, ketakutan masyarakat, pertarungan kepentingan, serta keluarga-keluarga yang kehidupannya berubah tanpa pernah dimintai persetujuan.

Kegelisahan itu kembali ketika saya membaca Laut Bercerita. Reformasi merupakan tonggak penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia, tetapi kemenangan politik tidak selalu berarti berakhirnya penderitaan manusia. Ada orang-orang yang tidak sempat menyaksikan perubahan yang mereka perjuangkan. Ada keluarga yang kehilangan anak justru ketika bangsa ini sedang menyambut zaman baru. Di jalanan orang merayakan kebebasan, sementara di sebuah rumah seorang ibu masih menyimpan pertanyaan yang jauh lebih sederhana: di mana anak saya?

Dalam kebudayaan kita, kematian masih memberi kesempatan untuk berpamitan. Keluarga berkumpul, doa dipanjatkan, makam diziarahi. Kesedihan tidak serta-merta hilang, tetapi setidaknya ada kepastian tentang siapa yang telah pergi. Penghilangan paksa merampas bahkan kesempatan itu. Keluarga tidak mengetahui apakah orang yang dicintainya masih hidup, telah meninggal, atau berada di suatu tempat yang tidak dapat dijangkau. Mereka tidak sepenuhnya dapat berkabung, tetapi juga tidak mempunyai alasan untuk berhenti berharap. Barangkali itulah salah satu bentuk penderitaan paling panjang: dipaksa hidup di antara kehilangan dan penantian.

Di sinilah sejarah tidak cukup dipahami sebagai urutan tanggal dan pergantian pemerintahan. Kita dapat menghitung berapa tahun sebuah rezim berkuasa, berapa banyak demonstrasi berlangsung, atau berapa undang-undang berubah setelah Reformasi. Tetapi bagaimana menghitung panjangnya penantian seorang ibu? Bagaimana menjelaskan kehilangan kepada anak yang tumbuh tanpa mengetahui nasib ayahnya? Angka diperlukan untuk memahami besarnya peristiwa. Namun, angka tidak pernah sepenuhnya sanggup menerangkan penderitaan seseorang.

Sejarah memerlukan arsip, dokumen, kesaksian, dan pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sastra mempunyai tugas berbeda: mendekatkan kita kepada pengalaman manusia yang sering luput dari catatan resmi. Novel bukan pengganti penyelidikan sejarah atau putusan pengadilan. Namun, tanpa kepekaan manusiawi, sejarah mudah berubah menjadi daftar peristiwa yang kehilangan manusianya. Korban menjadi statistik, penderitaan menjadi catatan kaki, sementara nama para penguasa terus dihafalkan dari generasi ke generasi.

Ingatan dan Kekuasaan

Dalam tulisan saya, Sejarah Menggugat Soeharto, saya pernah menyinggung persoalan bagaimana bangsa ini memperlakukan masa lalunya. Perdebatan tentang Soeharto menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya berkaitan dengan apa yang terjadi, tetapi juga dengan siapa yang berhak menentukan apa yang patut dikenang. Sebagian masyarakat mengingat pembangunan, stabilitas, dan pertumbuhan ekonomi. Sebagian lainnya membawa pengalaman tentang pembatasan kebebasan, kekerasan politik, ketakutan, dan persoalan hak asasi manusia yang belum terselesaikan. Semua ingatan itu hidup dalam masyarakat yang sama, meskipun tidak selalu memperoleh ruang yang setara untuk didengarkan.

Kita tidak perlu menghapus pencapaian pembangunan untuk mengakui penderitaan korban. Sebaliknya, keberhasilan membangun jalan, sekolah, bendungan, atau gedung-gedung pemerintahan tidak dapat digunakan untuk membenarkan perampasan kebebasan manusia. Jalan raya dapat memperpendek jarak antarkota, tetapi tidak menghapus tanggung jawab atas orang-orang yang kehilangan hak dan kehidupannya. Kemajuan ekonomi dan keadilan bukan dua perkara yang harus dipertentangkan. Sebuah pemerintahan patut dinilai dari apa yang berhasil dibangunnya, sekaligus dari bagaimana ia memperlakukan manusia ketika menjalankan kekuasaan.

Bangsa yang dewasa tidak membutuhkan sejarah yang seluruh tokohnya tampak sempurna. Ia membutuhkan keberanian untuk melihat masa lalu secara utuh, termasuk bagian-bagian yang tidak menyenangkan. Menghormati seorang pemimpin tidak berarti membebaskannya dari penilaian kritis. Mengagumi suatu zaman juga tidak mengharuskan kita melupakan orang-orang yang menderita di dalamnya. Nostalgia memang sering terasa hangat, tetapi kenangan yang terlalu indah kadang menyisihkan mereka yang dahulu tidak mempunyai kesempatan untuk bercerita.

Persoalan lain muncul ketika kita melihat perjalanan sebagian generasi yang pernah memperjuangkan Reformasi. Anak-anak muda yang dahulu memenuhi jalanan kemudian memasuki pemerintahan, parlemen, partai politik, dunia usaha, dan berbagai lembaga negara. Perjalanan itu wajar. Demokrasi membutuhkan orang-orang berpengalaman untuk mengelola kehidupan bersama. Namun, pernah menjadi aktivis tidak dengan sendirinya menjamin seseorang akan tetap setia kepada nilai yang dahulu diperjuangkannya. Ada jarak yang kadang sangat jauh antara keberanian mengkritik kekuasaan dan kesediaan menerima kritik ketika seseorang telah memilikinya.

Kekuasaan tidak selalu mengubah manusia melalui peristiwa besar. Ia dapat bekerja melalui penghormatan yang terus-menerus, fasilitas yang semakin nyaman, pertemanan yang menguntungkan, dan kompromi kecil yang lama-kelamaan dianggap biasa. Seseorang mungkin masih mengingat nyanyian demonstrasi, menyimpan foto ketika berhadapan dengan aparat, dan fasih berbicara tentang rakyat. Tetapi kesetiaan kepada masa lalu tidak cukup dibuktikan dengan kenangan. Ia harus terlihat dari keputusan yang diambil hari ini, terutama ketika keputusan itu menyangkut kepentingan orang-orang yang tidak memiliki kuasa.

Reformasi telah membuka ruang kebebasan yang jauh lebih luas. Pers dapat bekerja dengan lebih terbuka, pemilihan umum berlangsung lebih kompetitif, dan masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan menyampaikan pendapat. Pencapaian ini penting untuk dijaga. Namun, demokrasi tidak cukup hidup dari pemilihan umum dan pergantian pejabat. Ia membutuhkan hukum yang adil, lembaga yang dapat diawasi, serta pemimpin yang tidak menganggap kritik sebagai permusuhan. Kekuasaan selalu memerlukan batas, termasuk ketika dijalankan oleh orang-orang yang dahulu pernah memperjuangkan kebebasan.

Sastra dan Nurani

Saya selalu percaya bahwa kebudayaan mempunyai peran penting dalam menjaga ingatan masyarakat. Sastra, film, lukisan, dan kesenian tidak harus berbicara dengan suara keras untuk menyampaikan kritik. Kadang sebuah cerita tentang ibu yang menunggu anaknya jauh lebih menggugah daripada pidato panjang tentang keadilan. Kita melihat ketidakadilan bukan sebagai istilah dalam perdebatan politik, melainkan sebagai pengalaman yang memasuki rumah, mengubah kebiasaan keluarga, dan meninggalkan kesunyian yang tidak mudah diterangkan.

Kebudayaan juga tidak boleh berhenti sebagai tempat memuliakan masa lalu. Kita gemar mengisahkan keberanian para pahlawan, tetapi sering kurang sabar memeriksa kekeliruan mereka. Kita mudah terharu mendengar cerita pengorbanan, tetapi belum tentu bersedia mendengarkan keluarga korban yang masih menuntut kejelasan. Padahal, kepekaan budaya tidak hanya diukur dari kemampuan mengagumi karya seni. Ia juga tampak dari kesediaan menghadapi kenyataan yang tidak nyaman, terutama ketika kenyataan itu mengganggu cerita besar yang telanjur kita banggakan.

Generasi yang lahir setelah 1998 berhak memperoleh pemahaman sejarah yang lebih utuh. Mereka perlu mengenal keberanian mahasiswa, peran masyarakat sipil, perubahan politik, dan berbagai persoalan yang melatarbelakangi Reformasi. Mereka juga perlu mengetahui bahwa perubahan tidak selalu berjalan sebagaimana diimpikan para pelakunya. Ada cita-cita yang belum terwujud, ada kekuasaan yang kembali menunjukkan watak lamanya dalam bentuk berbeda, dan ada keluarga yang masih menunggu jawaban. Pendidikan sejarah seharusnya memberi ruang untuk bertanya, bukan hanya mengajarkan siapa yang harus dipuji dan siapa yang harus dibenci.

Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi berita singkat dan percakapan yang cepat berlalu, membaca novel memberi kesempatan untuk tinggal lebih lama bersama pengalaman orang lain. Kita belajar memahami ketakutan yang tidak pernah kita alami, kesedihan yang tidak pernah memasuki rumah kita, dan harapan yang mungkin tidak pernah menjadi bagian dari kehidupan kita sendiri. Itulah kekuatan humanistik sastra. Ia tidak menggantikan pengalaman korban, tetapi dapat menumbuhkan kesediaan untuk mendengarkan mereka dengan lebih sungguh-sungguh.

Laut Bercerita penting bukan semata karena mengisahkan keberanian anak-anak muda melawan ketidakadilan. Novel ini juga mengingatkan bahwa pergantian pemerintahan tidak otomatis menyelesaikan persoalan kemanusiaan. Sebuah bangsa dapat mengubah undang-undang, membentuk lembaga baru, dan menyelenggarakan pemilihan umum yang lebih terbuka, tetapi keluarga korban tetap membutuhkan kebenaran dan kepastian. Keadilan tidak cukup diukur dari perubahan sistem politik. Ia juga harus dapat dirasakan oleh manusia yang pernah menjadi korban dari sistem tersebut.

Luka yang Tinggal

Saya tidak ingin mengenang 1998 hanya sebagai kisah kepahlawanan yang indah untuk diceritakan kembali. Terlalu banyak kehidupan yang terputus untuk menjadikannya sekadar perayaan kemenangan. Kita patut menghargai keberanian generasi yang memperjuangkan perubahan, tetapi penghargaan itu seharusnya disertai kesediaan mengakui persoalan yang belum selesai. Mengingat sejarah bukan berarti memelihara dendam tanpa akhir. Mengingat adalah cara menjaga agar penderitaan manusia tidak dianggap wajar, apalagi diulangi dengan alasan yang berbeda.

Bagi saya, membaca Laut Bercerita berarti mendengarkan kembali suara orang-orang yang pernah dibungkam. Ada keberanian yang tidak sempat menikmati kemenangan, cinta yang kehilangan kesempatan untuk berpamitan, dan keluarga yang meneruskan kehidupan tanpa mengetahui nasib orang yang paling mereka rindukan. Mereka tidak selalu meminta sesuatu yang besar. Barangkali hanya kebenaran. Barangkali hanya kepastian. Barangkali hanya kesempatan berdiri di hadapan sebuah makam, menaburkan bunga, lalu berdoa tanpa harus bertanya lagi kepada siapa doa itu ditujukan.

Waktu terus bergerak. Kota-kota bertambah ramai, jalanan diperlebar, nama pemimpin berganti, dan generasi baru tumbuh dengan persoalannya sendiri. Namun, di suatu rumah mungkin masih tergantung foto seorang anak muda yang tersenyum dari masa ketika seluruh hidup terbentang di hadapannya. Wajah dalam foto itu tidak pernah bertambah tua. Hanya orang-orang yang memandanginya yang perlahan menua. Mereka belajar hidup dengan kehilangan, tetapi tidak pernah memperoleh jawaban yang membuat penantian itu benar-benar selesai.

Mungkin pada suatu sore, seorang ibu masih menoleh ketika mendengar kendaraan berhenti di depan rumah. Bukan karena ia tidak memahami bahwa puluhan tahun telah berlalu, melainkan karena tidak seorang pun pernah memberinya kepastian untuk berhenti menunggu. Di luar, orang-orang pulang bekerja, anak-anak bermain, dan lampu rumah mulai dinyalakan. Kehidupan berjalan seperti biasa. Ia memandang jalan yang semakin lengang. Tidak ada siapa-siapa.

Betapa panjangnya sebuah penantian ketika sejarah belum memberikan jawaban.

Laut boleh menyimpan rahasia. Sejarah tidak boleh kehilangan suara.

31 Oktober 2026

 

Editor: admin

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button