BANTEN, biem.co – Kemarahan warga bukanlah anarki. Ia adalah jeritan nurani yang menuntut koreksi. Nabi mengajarkan bahwa amanah kepemimpinan lahir dari keberpihakan, bukan dari kemewahan yang pongah.
Kemarahan warga sangat berdasar. Elite korup, pongah, dan busuk hidup mewah di tengah penderitaan rakyat. Tetapi rakyat yang berlawan mesti saling menjaga, agar energinya tidak terserak. Fokus perjuangan harus terarah pada tiga tuntutan mendasar: pendalaman demokrasi, redistribusi kekayaan, dan perlindungan sosial.
Realitas getir itu terekam gamblang: rakyat diam, dipajaki. Rakyat protes, ditolol-tololkan. Rakyat demo, ditembaki, dilindas, digebuki. Dalam kondisi inilah spirit profetik menemukan relevansinya: keberanian untuk mengoreksi, bukan sekadar dengan amarah, tetapi dengan visi perubahan.
Demokrasi di Persimpangan Jalan
Maulid Nabi adalah momentum menimbang kembali arah demokrasi kita: apakah ia masih menjadi jalan menuju keadilan rakyat, atau telah dibajak oligarki menjadi sekadar panggung kuasa.
Ironi hari ini jelas terlihat. Demokrasi kita semakin prosedural, kehilangan substansi. Undang-undang lahir bukan dari denyut nadi rakyat, melainkan dari kepentingan elite politik dan pemilik modal. Demokrasi yang mestinya memberi ruang luas bagi rakyat berubah menjadi arena transaksi kekuasaan.
Spirit profetik menuntut koreksi atas kondisi ini. Demokrasi yang sejati adalah demokrasi yang menyalurkan aspirasi rakyat, membuka partisipasi, dan menegakkan keadilan sosial. Tanpa itu, demokrasi hanya menjadi topeng legitimasi bagi oligarki.
Keadilan Sosial, Cermin Kenabian
Risalah kenabian menegaskan bahwa hukum tak boleh tunduk pada status, dan kekuasaan tak boleh dimonopoli segelintir elite. Spirit ini menuntut koreksi atas hukum yang tumpul ke atas, tajam ke bawah.
Sejarah mencatat, Nabi Muhammad SAW menolak privilese hukum. Ia bersabda tegas: “Seandainya Fatimah, putriku, mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.” Pesannya terang: keadilan tidak mengenal kasta.
Namun di negeri ini, keadilan masih sering dipermainkan. Rakyat kecil masuk penjara karena kasus sepele. Sementara koruptor miliaran bahkan triliunan mendapat potongan hukuman, fasilitas mewah, dan keistimewaan. Ironi ini adalah penghinaan bagi martabat hukum dan pengkhianatan atas spirit profetik.
Refleksi Maulid, Jalan Perubahan
Koreksi untuk perbaikan kehidupan sosial dan perikehidupan rakyat adalah terjemah nyata dari spirit profetik. Inilah inti risalah kenabian: menghadirkan keberpihakan kepada yang lemah, menyalakan kesadaran kritis, dan menegakkan keadilan sebagai fondasi kemanusiaan.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriyah bukan sekadar nostalgia ritual, melainkan momentum reflektif—ajakan untuk menyalakan api kesadaran. Nabi hadir di tengah bangsa Arab yang tercerai-berai, penuh feodalisme, ketidakadilan, dan diskriminasi. Kehadirannya membawa revolusi nilai: dari kesukuan menuju ukhuwah, dari ketidakpedulian menuju kepedulian, dari keserakahan menuju keadilan sosial.
Spirit profetik hari ini berarti koreksi. Koreksi atas kemiskinan yang melilit rakyat. Koreksi atas birokrasi yang menjauh dari rakyat kecil. Koreksi atas oligarki yang membajak demokrasi.
Koreksi atas feodalisme yang membungkam daya kritis. Koreksi atas kesenjangan pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang mestinya hak dasar warga bangsa.
Namun koreksi bukan sekadar kritik kosong. Ia harus menghadirkan solusi, menyalakan harapan, meneguhkan jalan perubahan. Spirit profetik berdiri di dua kutub: tajam melawan kebatilan, lembut menumbuhkan kemanusiaan.
Indonesia memerlukan keberanian moral untuk menghidupkan kembali nilai kenabian itu. Kepemimpinan bukan kursi, melainkan amanah. Pembangunan bukan gedung menjulang, melainkan senyum rakyat desa. Kemajuan bukan statistik belaka, melainkan keadilan sosial dan martabat kemanusiaan.
Maulid sebagai Momentum Refleksi Kolektif
Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriyah hendaknya menjadi ruang jeda yang dalam. Pertanyaan penting perlu diajukan: sudahkah kita meneladani keberpihakan Nabi pada kaum miskin, anak yatim, para mustadh’afin? Ataukah kita sibuk membangun simbol-simbol keagamaan, tetapi lalai menegakkan keadilan sosial?
Spirit profetik adalah jalan tengah: ia mengajarkan keseimbangan antara spiritualitas dan praksis sosial, menyambungkan langit dan bumi, doa dan kerja, ibadah dan pengabdian. Iman sejati hanya berarti jika melahirkan keberanian moral: membela yang lemah, mengoreksi yang salah, memperjuangkan kehidupan yang adil dan bermartabat.
Selamat Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriyah. Semoga peringatan ini menggetarkan hati, menyalakan kesadaran kolektif, dan menggerakkan langkah untuk merawat cita-cita profetik: menjadikan bangsa ini lebih adil, beradab, dan manusiawi. (Red)
Bung Eko Supriatno, Penulis adalah pengurus ICMI Banten, Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Mathla’ul Anwar (BRIMA), Dosen Universitas Mathla’ul Anwar Banten.








