CILEGON, biem.co – Cilegon selama ini identik dengan industri. Cerobong pabrik, kawasan industri, pelabuhan, hingga aktivitas perdagangan menjadi wajah yang paling sering terlihat dari kota di ujung barat Pulau Jawa ini.
Namun, di balik wajah industrial tersebut, Cilegon menyimpan cerita panjang tentang sejarah, tradisi dan kebudayaan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Jejak-jejak itulah yang kini coba ditelusuri oleh 78 mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Para mahasiswa tersebut diterjunkan ke delapan kecamatan di Kota Cilegon melalui kegiatan Praktikum Profesi Mahasiswa (PPM) dengan tema “Menelusuri Jejak Peradaban: Dokumentasi Sejarah dan Budaya Kota Cilegon.”
Mereka resmi dilepas dalam kegiatan yang berlangsung di Kantor Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Kota Cilegon, Selasa (1/9/2026).
Selama 17 hari, mulai 1 hingga 17 September 2026, para mahasiswa akan melakukan penelusuran dan pendokumentasian berbagai potensi sejarah serta kebudayaan yang ada di masyarakat.
Sebanyak 78 mahasiswa dibagi menjadi delapan kelompok. Masing-masing kelompok akan menyisir satu kecamatan untuk mencari berbagai informasi mengenai situs sejarah, bangunan bersejarah, tradisi lisan, kesenian, tokoh lokal, peninggalan budaya, hingga cerita-cerita masyarakat yang selama ini belum banyak terdokumentasikan.
Bukan Sekadar Tugas Kuliah
Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai tugas akademik mahasiswa.
Sebab, bagi Kota Cilegon, pendokumentasian sejarah dan budaya memiliki arti penting di tengah pesatnya perkembangan kota sebagai salah satu pusat industri nasional.
Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon (DKKC), Ayatullah Khumaeni, mengatakan keberadaan mahasiswa SPI UIN Banten di delapan kecamatan menjadi kesempatan untuk melihat Cilegon dari perspektif yang berbeda.
“Cilegon jangan hanya dikenal karena industrinya. Kita punya sejarah, tradisi, kesenian, tokoh dan cerita masyarakat yang membentuk identitas kota ini. Persoalannya, sebagian belum terdokumentasikan dengan baik,” ujar Ayatullah.
Menurutnya, sejarah lokal tidak selalu ditemukan dalam buku atau arsip pemerintahan. Banyak cerita justru tersimpan dalam ingatan masyarakat dan para sesepuh.
“Karena itu mahasiswa harus turun ke lapangan. Temui masyarakat, dengarkan cerita para sesepuh, lihat langsung peninggalannya, kemudian dokumentasikan. Jangan sampai ketika generasinya sudah tidak ada, cerita itu ikut hilang,” katanya.
Ayatullah berharap penelitian tersebut dapat menjadi langkah awal membangun dokumentasi sejarah dan budaya Cilegon yang lebih sistematis.
“Kalau hasilnya bagus, ini bukan hanya bermanfaat bagi mahasiswa. Pemerintah, akademisi, komunitas budaya dan masyarakat Cilegon juga akan memiliki referensi baru,” tuturnya.
Disdikbud: Sejarah Harus Menjadi Identitas Kota
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon Heni Anita Susila juga memberikan apresiasi terhadap kegiatan PPM tersebut.
Menurutnya, penggalian sejarah dan budaya lokal merupakan bagian penting dalam menjaga identitas daerah, terutama di tengah perubahan Cilegon yang berlangsung sangat cepat.
“Cilegon berkembang sangat pesat sebagai kota industri. Tetapi pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan pembangunan karakter dan pelestarian identitas budaya. Karena itu, pendokumentasian sejarah dan budaya lokal menjadi penting,” ujarnya.
Ia menilai keterlibatan mahasiswa menjadi nilai tambah karena proses penelitian dilakukan langsung di tengah masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga memberikan gambaran mengenai potensi sejarah dan budaya yang bisa dikembangkan serta dilestarikan oleh pemerintah dan masyarakat,” katanya.
Pemkot Cilegon, lanjutnya, terbuka terhadap kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam upaya menggali potensi sejarah dan kebudayaan daerah.
“Ini bisa menjadi bentuk kolaborasi yang baik antara pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat. Hasilnya nanti bisa menjadi bahan untuk pengembangan literasi sejarah dan kebudayaan di Kota Cilegon,” tambahnya.
Targetkan Terbit Buku Ber-ISBN
Ada target yang cukup serius dari kegiatan ini. Seluruh hasil penelusuran mahasiswa, mulai dari wawancara, dokumentasi hingga kajian sejarah dan budaya di delapan kecamatan, ditargetkan dihimpun menjadi sebuah buku ber-ISBN.
Jika terealisasi, buku tersebut tidak hanya menjadi produk akademik mahasiswa, tetapi juga dapat menjadi salah satu referensi mengenai sejarah dan kebudayaan Kota Cilegon.
Bagi DKKC, dokumentasi tersebut juga dapat menjadi pintu masuk untuk melakukan pemetaan lebih luas terhadap potensi kebudayaan di setiap wilayah.
“Setiap wilayah punya cerita. Jangan melihat budaya hanya sebagai pertunjukan di atas panggung. Tradisi masyarakat, cerita kampung, permainan tradisional, kesenian, makanan, bahasa, sampai sejarah sebuah tempat juga merupakan bagian dari kebudayaan,” kata Ayatullah.
Ia berharap hasil penelitian mahasiswa nantinya dapat terus dikembangkan.
“Ini baru langkah awal. Setelah ditemukan, harus ada upaya untuk merawat, mendokumentasikan dan memperkenalkannya kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Dengan turun langsung ke delapan kecamatan, 78 mahasiswa UIN Banten kini memiliki misi untuk menemukan sisi lain Kota Cilegon yang mungkin selama ini luput dari perhatian.
Bukan tentang seberapa banyak pabrik berdiri. Bukan pula tentang seberapa cepat kota berkembang. Tetapi tentang cerita apa yang masih tersimpan di balik kampung-kampung Cilegon dan bagaimana cerita itu bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena sebuah kota tidak hanya dibangun dari beton dan industri. Kota juga dibangun dari ingatan, sejarah dan kebudayaan masyarakatnya. (Arief)








