ResensiReview

Resensi Buku: Belajar Tersenyum dari Dahlan

Judul Buku: Senyum Dahlan

Jumlah Halaman: 320 hlm.

Penulis: Tasaro GK

Penerbit: Noura Publishing

 

Berapa banyak buku tentang Dahlan Iskan yang kalian temukan di toko buku? Baik ditulis oleh Dahlan Iskan sendiri atau ditulis orang lain, baik ditulis secara fiksi atau nonfiksi? Lebih dari jumlah jari di tangan kalian bukan?

Oke, kalau dikerucutkan lagi, berapa judul yang pernah kalian ingat tentang Dahlan Iskan? Ganti Hati adalah salah satunya bukan? Buku yang ditulis Dahlan beberapa tahun lalu ini sampai diterbitkan ulang oleh penerbit berbeda.  Buku ini memang fenomenal. Gaya bahasa Dahlan yang sederhana dan tidak bertele-tele namun detail dan langsung pada sasaran, ditambah dengan diksi memikat, menjadi salah satu kekuatan tulisan-tulisan Dahlan yang sangat berkarakter.

Dan inilah yang membuat candu bagi para pembaca setiap kali tulisan Dahlan muncul di koran Jawa Pos grup se-Indonesia yang jumlahnya lebih dari 200 itu. Sepertinya ini juga yang ingin disampaikan sang penulis pada halaman 51 di buku fiksi trilogi Senyum Dahlan. "Sangat suka." Kanday tidak menunggu pertanyaan susulan. Dia sudah tahu apa yang akan ditanyakan Pak Purwa. "Alasannya… tulisan Dahlan Iskan itu detail, lugas, menyentuh."

Nah, pada buku yang ditulis Tasaro GK inilah, pembaca dapat menemukan betapa besar pengaruh tulisan dan gerak-gerik Dahlan Iskan di dunia media massa pada seseorang. Kanday namanya. Seseorang yang terobsesi untuk bertemu sang idola, yakni Dahlan Iskan, dan akhirnya bergabung di grup Jawa Pos sebagai salah satu dari motor penggerak koran di anak perusahaan Jawa Pos.

Spin Off

Jangan bandingkan buku Senyum Dahlan ini dengan dua buku pendahulunya yakni Sepatu Dahlan dan Surat Dahlan. Walaupun Senyum Dahlan adalah buku ketiga dari trilogi Senyum Dahlan dan Sepatu Dahlan, dari sisi cerita dan penggarapan sangat berbeda. Hal paling mencolok tentu saja gaya penceritaan. Ini karena dua buku terdahulu ditulis orang berbeda yakni Khrisna Pabichara.

Jangan pula berpikir sepanjang buku akan diceritakan tentang senyum-senyum Dahlan dalam arti sempit. Baiklah, pada buku ini memang secara luas, dijelaskan tentang kiprah Dahlan dalam mewujudkan mimpinya membangun koran Jawa Pos dari nol sampai memiliki berbagai cabang perusahaan koran di daerah lain, sehingga Jawa Pos menjadi raksasa media. Namun pada buku ini, jarang sekali ditemukan kata senyum saat menceritakan Dahlan. Kalaupun ada, dijelaskan cara Dahlan tertawa.

Buku ini memang unik. Selain menceritakan tentang Dahlan juga tentang Kanday. Bagi pembaca yang tak menyukai cerita dengan dua tokoh berbeda dan cerita berbeda namun pada akhirnya saling bertautan lalu akan bertemu dalam 'satu layar' pasti akan jengah. Namun Tasaro bukanlah penulis kemarin sore yang membiarkan pembacanya jenuh begitu saja. Tasaro adalah penulis dengan buku-buku best seller, sebut saja seri Lelaki Penggenggam Hujan atau Galaksi Kinanti. Namun lagi-lagi, pembaca memang harus sabar menunggu kejutan-kejutan pada buku ini.

Trilogi yang ditulis dengan orang berbeda memang jarang ditemui. Apalagi di sampul buku tertulis spin off. Baiklah, beberapa film atau novel laris memang menghadirkan spin off. Misalnya Despicable Me yang menghasilkan Minion dan akan memproduksi film dengan kisah tersendiri. Atau The Hobbit dari seri Lord of the Ring. Namun spin off versi buku ini sangat berbeda, karena tokoh Kanday memang belum pernah muncul pada dua buku sebelumnya. Label spin off bisa jadi untuk memberitahu pada pembaca, buku ini masih bertautan meski tidak melulu menceritakan perjuangan Dahlan saat kanak-kanak seperti pada buku Sepatu Dahlan yang sudah difilmkan dan best seller atau perjuangan Dahlan saat remaja ketika di Makassar di buku Surat Dahlan. Spin off pada buku ini menghadirkan tokoh lain yang terinspirasi oleh kiprah Dahlan.   

Pada bab-bab awal di buku ini, sang penulis yang direpresentasikan dalam tokoh Saptoto mengatakan, ia ingin menuliskan sesuatu tentang Dahlan (yang saat itu masih menjadi menteri) namun dari sudut pandang berbeda. Dan hal ini tentu tidak mudah. Itu karena hampir segala sesuatu tentang Dahlan sudah banyak ditulis di beberapa buku bukan? Dan Saptoto akhirnya menceritakan kisah sahabat karibnya semasa kuliah bernama Kanday, yang kebetulan salah satu petinggi di anak perusahaan Jawa Pos. 

Jadilah Pewarta yang Baik

Buku ini memang tidak berisi sanjungan-sanjungan kepada Dahlan Iskan sebagai salah satu tokoh inspiratif dan berpengaruh di Indonesia terutama di bidang media massa. Buku ini mengajarkan banyak hal, seperti perjuangan hidup, mengejar mimpi, loyalitas, dan kerja keras. Dan hal terpenting lainnya, buku ini bisa menjadi panduan yang baik bagi para wartawan yang masih memulai karier atau yang tengah mengelola perusahaan koran.

Beberapa hal yanng menarik pada buku ini ada pada halaman 307. Saptoto pernah meminta tolong lurah kenalannya untuk membuatkan KTP, tapi tidak lebih dari itu. Berkali-kali dia dikejar-kejar camat atau kepala desa yang ingin menyisipkan amplop kepadanya. Menjadi wartawan sejak pertama, Saptoto menghindari amplop dua golongan; pejabat dan kepolisian. Bagi para pewarta pasti sangat mengenal apa amplop yang dimaksud pada buku ini.

Pada halaman 324 pun jangan lewatkan untuk disimak. Septoto banyak belajar. Tentang pentingnya konfirmasi, pikiran jernih, dan ketenangan. Juga, untuk tidak pernah percaya begitu saja berita kloningan. Lebih dari segalanya, Saptoto semakin mengagumi Kanday dalam diam.

Wartawan adalah manusia yang tak lepas dari khilaf. Dan kekhilafan itu diceritakan secara apik oleh Tasaro pada buku ini. Belum lagi berbagai 'penyakit' wartawan lainnya berupa kloning. Ini terdapat pada halaman 312. Kloning tidak hanya terkenal karena domba Dolly, tapi juga karena kebiasaan sebagian wartawan yang bertukar-tukar berita di lapangan. Barter berita yang tak sempat mereka liput sendirian. Kalau wartawannya tidak kreatif, besok paginya, redaksi berita di beberapa media akan persis sama.

Tasaro juga menuliskan tentang kriteria kelayakan sebuah berita dimuat di koran yang ia kemas dalam 10 rukun iman Dahlan Iskan. Trik ini memang cerdas, karena Tasaro meramunya dalam bentuk dialog dramatis antara Dahlan sebagai pimpinan Jawa Pos dan seorang wartawan baru. Bisa dilihat di halaman 222 sampai 227.  Rukun Iman Dahlan Iskan buat para wartawan mulai dari tokoh, besar, dekat, yang pertama, human interest, bermisi, unik, ekslusif, tren, dan prestasi. Nah inilah yang menjadikan sebuah tulisan jadi wow dan tidak hanya deretan huruf membosankan karena saat menulisnya diawali rasa bosan.

Hmmm, begitulah. Tasaro menuliskan ini dengan baik bukan tanpa alasan. Di akhir paragraf novel ini, Tasaro menuliskan dirinya adalah pernah menjadi pewarta. Jadi, tak heran jika ia tahu seluk-beluk kewartawanan. Saya jadi curiga jangan-jangan tokoh Saptoto sendiri adalah Tasaro? Ah sudahlah, itu hanya dugaan. (*)


Resensi oleh Hilal Ahmad. Penulis adalah salah satu pewarta di Kota Serang, Banten.

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *