Boyke PribadiKolom

Kolom Boyke Pribadi: Sang Pemimpi

biem.co – Sekitar tahun 1990-an, sebuah perusahaan pembuat kendaraan bermotor di dunia, Honda, bermimpi membuat sebuah robot yang bisa melakukan interaksi dengan manusia. Sejak tahun 2000, telah diperkenalkan kepada dunia luas  pengembangan robot tersebut, bahkan pada hari ini setelah empat belas tahun, perusahan yang mengusung semboyan “The Power of Dream” tersebut telah mampu secara bertahap mewujudkan robot humanoid  ASIMO (Advanced Step in Innovative Mobility) yang memiliki kemampuan meniru manusia.

Demikianlah hebatnya kekuatan mimpi yang diusung oleh perusahaan sebesar Honda. Bahkan beberapa puluh  tahun sebelumnya, ketika Amerika Serikat (AS) mampu menerberangkan dan mendaratkan manusia di bulan pada tahun 1969, yang sebelumnya hanya merupakan sebuah mimpi, satu tahun sebelumnya, seorang penulis cerita fiksi, Jules Verne telah menulis buku berjudul “From the Earth to the Moon” yang menggambarkan tentang pesawat luar angkasa yang bertenaga cahaya melakukan perjalanan dari bumi menuju bulan. Lebih menarik lagi, Jules Verne ternyata banyak menuliskan cerita fiksi yang merupakan gambaran mimpi dirinya, yang ajaibnya, hari ini menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari hari kita. Sebut saja buku yang berjudul “20.000 Leagues Under The Sea” yang dirilis tahun 1870 bercerita tentang gambaran kapal selam sebagaimana wujudnya pada masa sekarang.

Dalam beberapa bulan terakhir, saya diminta menjadi narasumber pada beberapa kegiatan, seperti latihan kepemimpinan, seminar motivasi, bahkan dipercaya untuk memberikan pembekalan materi pengembangan diri bagi para peserta ajang pemilihan duta pariwisata Kang Nong di sebuah wilayah Provinsi Banten.

Beberapa materi yang saya sampaikan di antaranya tentang betapa pentingnya seseorang untuk memiliki mimpi yang ingin dicapai di beberapa masa ke depan. Karena mimpi dan cita-cita yang kita miliki akan menjadi semacam titik koordinat yang akan dituju melalui serangkaian jalan yang harus dibuat dan dipetakan untuk membawa kita mencapai tujuan tersebut.

Saya sempat merasa prihatin, hampir sebagian besar dari peserta kegiatan tersebut ternyata tidak memiliki mimpi atau cita-cita yang ingin mereka capai. Bahkan dari dialog yang kami lakukan, kebanyakan mereka memiliki ketakutan untuk bermimpi, bahkan sekadar menyatakan mimpi dan cita-cita mereka, dengan alasan takut tidak tercapai karena terlalu tinggi. Hal ini justru bertentangan dengan kalimat yang sering diucapkan presiden pertama RI. Saat itu Ir. Soekarno menganjurkan agar setiap anak Indonesia memiliki cita-cita setinggi langit. Sekalipun tidak kesampaian atau terjatuh, maka jatuhnya pun masih di antara bintang-bintang atau awan yang melayang di atas tanah.

Banyak motivator yang sepakat dengan pernyataan Soekarno tersebut. Karena sesungguhnya semua kemajuan dan keajaiban teknologi yang terjadi pada hari ini adalah hasil mimpi dari orang-orang yang kreatif di masa lalu. Sebut saja bagaimana legenda Icarus membayangi mimpi Wright bersaudara sehingga berhasil menguji coba pesawat terbang dengan tenaga dikayuh seperti sepeda. Atau bagaimana Jues Verne mengkhayalkan perjalanan manusia ke bulan dengan mengandalkan proyektil yang diberi ruang di tengahnya lalu ditembakkan ke angkasa.

Itulah sebabnya, Honda, sebuah perusahaan otomotif kelas dunia menjadikan ’mimpi’ sebagai kekuatan untuk mendorong lahirnya teknologi teknologi baru di dunia nyata. Dengan semangat ”the power of dream”, Honda banyak memelopori penemuan-penemuan canggih, termasuk robot ASIMO.

Bagi anak muda pada masa kini, dengan mimpi yang dimilikinya, maka dia bisa mulai memiliki ’focal concern’ atau peminatan yang dapat disesuaikan guna menunjang pencapaian mimpi tersebut. Sebagai pemisal, bila mimpi atau cita-cita itu diibaratkan sebuah batu yang besar, maka kita membutuhkan pengungkit untuk mengangkatnya, sehingga panjang pengungkit dan tenaga yang dibutuhkan dapat disesuaikan dengan ukuran atau berat batu tersebut. Artinya, bila memiliki cita-cita atau mimpi yang besar dan berat, maka dibutuhkan pengungkit yang lebih panjang ketimbang bila memiliki mimpi atau cita-cita yang sederhana. Dengan kata lain, bila mimpi itu dimiliki sejak dini, maka cukup banyak waktu yang tersedia untuk melakukan berbagai persiapan yang dibutuhkan guna meraih mimpi tersebut.

Contoh aplikasinya adalah sebagai berikut: bila seseorang memiliki cita-cita menjadi diplomat, tentunya selain mendaftarkan diri pada jurusan dan jenjang pendidikan yang sesuai, maka ia pun harus juga banyak belajar bahasa asing sebagai modal untuk menjalankan profesinya kelak. Sehingga berbagai waktu dan sumberdaya yang tersedia akan diarahkan untuk memenuhi kompetensi dan keahlian serta wawasan yang sejalan atau menjunjang cita citanya tersebut.

Dan hebatnya, ditengah “krisis mimpi” yang melanda sebagian besar anak muda yang saya temui, ada seorang alumni Fakutas Pertanian Untirta yang memiliki mimpi “rrruarrr biasaaa!” (yang sangat lebih hebat dari luar biasa). Sebuah mimpi yang mungkin belum pernah hinggap di benak para dosennya yang sekalipun bergelar doktor ataupun dengan jenjang kepangkatan profesor. Mimpi sang alumni tersebut adalah meraih hadiah nobel untuk bidang sains. Dan mimpi tersebut ia tuliskan dengan jelas dan tegas di halaman Facebook miliknya.

Dari obrolan sepintas lewat media sosial, memang banyak bahasa rumit dan tingkat tinggi untuk diterjemahkan oleh orang yang awam akan kemajuan sains dan teknologi, terlebih dalam bidang bioteknologi. Namun bagi seseorang yang memahami, sesungguhnya dia sedang berusaha melakukan metode berpikir out of the box sebagai mana cara berpikir para penemu pada masanya, yang selalu dianggap aneh oleh orang kebanyakan—karena mereka belum mampu menjangkau pemikiran dari para penemu tersebut. Sehingga banyak orang awam yang menganggap sang penemu tersebut nyeleneh atau yang lebih ekstrem dianggap ’gila’.

Barangkali bagi sebagian orang, cita-cita hanyalah sebuah angan-angan kosong. Tapi secara pribadi, saya yakin dan percaya dengan teori "mestakung" (semesta mendukung.red) milik Prof. Johanes Surya, yang hampir mirip juga dengan semangat buku “The Secret” karya  ‎Rhonda Byrne yang dikenal dengan hukum ketertarikan atau law of attraction, yang berbicara tentang bagaimana alam semesta akan bekerja harmonis untuk mendukung keinginan keras kita dalam mencapai tujuan.

Bukti dari bekerjanya “mestakung” dan law of attraction tersebut sudah terlihat manakala Erwin Fajar, nama sang alumni tersebut mampu memasuki   Wageningen University di Belanda guna menempuh pendidikan lanjutan. Dia tetap mengobarkan semangat untuk meraih nobel dalam bidang sains. Boleh percaya boleh tidak, saya berkeyakinan, beberapa belas tahun ke depan, nama sang alumni tersebut akan moncer (benderang) sebagai seorang saintis yang diperhitungkan dalam dunianya, sepanjang dia bisa terus menjaga api semangat mimpi tersebut. Semoga.


 

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *