ReviewUlasan Produk

Buku Pilihan: Apa yang Membuat Rindu?

Judul Buku: Rindu

Penulis: Tere Liye

Penerbit : Republika

Jenis: Fiksi/Novel

Jumlah halaman: 544

Tahun Terbit: Cetakan 1 Oktober 2014

 

biem.co – Novel ini berjudul sangat singkat, hanya satu kata, Rindu. Namun jangan harap mendapatkan permasalahan sesingkat judul novelnya. Mau bukti? Silakan lihat halaman 222. “Kisah ini adalah tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ada lima pertanyaan yang dibawa oleh lima penumpang dalam kapal Blitar Holland. Takdir mengguratkan, pertanyaan pertama yang muncul adalah dari seorang penumpang perempuan berusia empat puluh tahun, seorang guru mengaji anak-anak. Sayangnya, lazimnya pertanyaan, maka tidak otomatis selalu ada jawabannya. Terkadang, tidak ada jawabannya. Pun penjelasannya.”       

 

Seperti buku-buku sebelumnya yang ditulis Tere Liye, Rindu sangat mudah diikuti alur ceritanya meskipun menghadirkan banyak tokoh dan banyak permasalahan. Namun, Tere Liye menghadirkannya secara runut, sehingga tidak menjadi benang kusut. Pembaca diajak untuk menyelami satu-persatu watak tokoh. Dan seperti biasa, Tere Liye mampu menyuguhkan pesan moral yang menyentuh tanpa harus menggurui dan menceramahi pembaca. Sangat Tere Liye. Lalu apakah yang membuat Rindu?

 

Cerita bermula dari kapal perang yang diubah menjadi kapal penumpang yang mengantar jamaah menuju Mekkah untuk ibadah haji. Tanggal 9 Desember 1938, sore pukul 17.30, Kapal Blitar Holland berangkat meninggalkan Batavia. Menuju perairan terbuka. Bersiap melanjutkan perjalanan panjangnya. (Hal. 227).

 

Konflik dimulai dari Gurutta, seorang kiyai yang dianggap musuh berbahaya oleh Belanda, diwakili tokoh Sergeant Lucas. Hingga ia diikuti ke manapun. Namun poin utama cerita pada novel ini bukan pada hal tersebut, melainkan pertanyaan-pertanyaan para penghuni kapal yang dilanda keraguan saat menuju jazirah yang dirindukan untuk memenuhi panggilan Allah.

 

Pertanyaan pertama muncul dari seorang guru ngaji bekas cabo. Malam itu saat hujan lebat membungkus Kota Bengkulu, kapal terikat mantap di dermaga, sebuah kisah masa lalu yang amat memilukan kembali diceritakan. Tapi kabar baiknya, ia diceritakan kepada seseorang yang tepat. Tidak diumbar, tidak dibiarkan berceceran di tempat umum, untuk kemudian menjadi gunung aib tak teperikan. (Hal. 299). Begitulah Tere Liye menggambarkan betapa rumitnya saat seseorang mengutarakan kegundahan untuk mencari jawaban yang tepat. 

 

Pertanyaan selanjutnya datang dari kelasi pendiam, Ambo Uleng yang patah hati karena sang kekasih akan dinikahkan dengan orang lain. Pertanyaan selanjutnya datang dari Daeng Andipati. Ini dijelaskan di halaman 371. “… Bagaimana mungkin aku pergi naik haji dengan kebencian sebesar ini? Apakah Tanah Suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci ayahnya sendiri? Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan, melupakan semua? Bagaimana carnya agar semua ingatan itu enyah pergi. Aku sudah lelah dengan semua itu, Gurutta. Aku lelah dengan kebencian ini.” Daeng Andipati tergugu pelan. Ia sudah tiba di pertanyaan besar dalam hidupnya.

 

Untuk menyelesaikan konflik tersebut, Tere Liye dengan cerdik membahasnya di halaman 374. “… Ketahuilah, Nak, saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian dalam hati.”

 

Pertanyaan keempat datang dari sepuh, Mbah Kakung yang ditinggal mati Mbah Putri di atas kapal. Ia merasa janjinya belum tertunaikan, yakni berpegangan tangan di depan Baitullah. Pada halaman 470, melalui Gurutta, Tere Liye menjabarkannya dengan baik. “Kang Mas, Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi baik untuk kita. Sebaliknya, segala sesuatu yang kita anggap baik, boleh jadi amat buruk bagi kita.”

 

Dan pertanyaan kelima yakni dari Gurutta sendiri. Namun penyelesainnya dengan cara berbeda. Simak halaman 540,Pertanyaan kelima telah genap dijawab. Bukan dengan penjelasan lisan atau tulisan, tapi dengan perbuatan tangan.”

 

Banten, Pelajaran Sejarah, dan Ajakan Menulis

Pada halaman 38, pembaca juga akan sedikit mendapatkan ulasan tentang salah satu tokoh masyhur bernama Syekh Yusuf. Ini diksiahkan melalui tokoh antagonis Sergeant Lucas. "Kalian tidak ada di sini Ketika kesultanan Gowa memberontak. Ribuan serdadu Belanda tewas karena hasutan seseorang yang sama persisnya dengannya, Syekh Yusuf. Dibuang orang itu ke Banten, dia malah menghasut Sultan Ageng Banten agar berperang dengan Belanda. Lagi-lagi ribuan serdadu tewas dibantai inlander bengis. Dibuang lagi ke Sri Lanka. Tapi orang itu tidak berhenti, tetap bisa bicara dengan ribuan muridnya, orang-orang yang singgah naik haji. Itu orang terus menyebarkan paham penuh kebencian, hingga akhirnya kami buang ke Cape Town, Afrika Selatan. Tamat riwayatnya di sana."

 

Penulis mengenalkan Syekh Yusuf dengan cara yang tidak rumit. Begitu pula dengan latar sejarah lain. Misalnya tentang Oud Batavia di halaman 201. “Oud Batavia dirancang dengan gaya Eropa dengan benteng, dinding kota, dan kanal-kanal. Selesai dibangun tahun 1650, kemudian menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Beratus tahun kemudian, karena kebutuhan area yang lebih besar, semakin bertambahnya penduduk, Oud Batavia meluas ke selatan…. Kota Batavia memiliki sistem transportasi yang maju. Jalur kereta api luar kota terhubung ke kota-kota di sekitarnya….”

 

Luar biasa bukan? Bayangkan jika sejarah ditampilkan menarik seperti ini di bangku sekolah? Tak mustahil para generasi mudah tetap berpegang teguh pada akar budayanya untuk menghargai jasa para pahlawan. Namun faktanya, sejarah menjadi pelajaran yang dibenci di kelas, karena membosankan dan mengundang kantuk. Alhasil, jadilah Indonesia yang seperti sekarang ini. Generasi yang enggan mengenal sejarah dan mudah dicekoki kebudayaan asing melalui musik, film, dan ajang hiburan lainnya.

 

Tidak hanya menjelaskan sejarah dengan pilihan kata menyenangkan, sang penulis juga memaparkan makna pentingnya menulis. Tentu saja melalui para tokoh yang dihadirkan. Lihat halaman 196. "Apakah untuk menjadi penulis kita harus banyak membaca, Gurutta?" Elsa bertanya lagi, menatap hamparan buku. "Tentu, Elsa. Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca."

Pada halaman 501 juga dijelaskan alasan menulis dengan cara yang tak kalah luar biasa. “Menulis adalah salah satu cara terbaik menyebarkan pemahaman, Ruben.” “Ketika kita bicara, hanya puluhan atau ratusan orang saja yang bisa mendengar. Kemudian hilang ditelan waktu. Tapi tulisan, buku-buku, bisa dibaca oleh lebih banyak lagi. Satu buku bisa dipinjam dan dibaca berkali-kali oleh orang yang berbeda, apalagi ribuan buku. Dan jangan lupakan, buku bisa abadi.  Terus diwariskan, dicetak kembali. Itu sangat efektif untuk membagikan pemahaman baik.”

 

Lalu Apa Makna Rindu?

Baiklah, lalu apa makna dari judul novel ini? Tentu pembaca sangat penasaran dan menerka-nerka mengapa sang penulis atau bahkan sang penerbit dan editor menamai novel ini sedemikian rupa.

 

Pada halaman 482, Tere Liye seakan membaca kegelisahan pembaca untuk mendapat jawaban tentang judul novel yang dipilihnya. Ini ditampilkan dalam jawaban Gurutta pada Ambo Uleng. “Perjalanan haji adalah perjalanan penuh kerinduan, Ambo. Berjuta orang pernah melakukannya. Dan besok lusa, berjuta orang lagi akan terus melakukannya. Menunaikan perintah agama sekaligus mencoba memahami kehidupan lewat cara terbaiknya.”

 

Kata rindu pun bisa ditemukan pada halaman 495. “… Wahai langit yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

 

Akhirnya, Tere Liye menutup novel ini dengan kalimat yang menyimpulkan kegelisahan pembaca dari rangkaian cerita yang dirajut para tokoh dalam novel. “… Lihatlah kerinduan ini telah genap. Juga ribuan jamaah lainnya, terharu menatap selubung Ka’bah. Sungguh beruntung mereka telah melengkapi kerinduan ini.” (hal.542).

 

Sesaat setelah menyelesaikan novel ini, kalimat demi kalimat masih membekas di benak. Dan sukses membuat pembaca semakin rindu menanti karya Tere Liye berikutnya. Bukan begitu? (*)


Resensi ditulis oleh Hilal Ahmad, penikmat buku-buku Tere Liye, tinggal di Kota Serang.

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *