CerpenInspirasi

Serial Ramadhan: 30 Hari Menafsir Kehidupan (Bagian 9)

Episode Berbagi, Bikin Hidup Lebih Hidup

 

Baca kisah sebelumnya, yuk! Klik di sini!

 

JALANAN mulai padat ketika Adi keluar rumah selepas Asar menuju rumah Muttaqie, sahabatnya yang mejadi pengurus lembaga filantropi yang bergerak di bidang pembaerian santuan dan pemberdayaan kaum dhuafa dan anak yatim.

 

Sebetulnya, tadi pagi Adi sudah bertemu Taqi, mengutarakan keinginannya untuk mengikuti kegiatan Taqi dalam mengurus pemberdayaan kaum dhuafa dan anak yatim. Gayung bersambut, Taqi menjanjikan sore ini untuk mengajak Adi berbuka puasa bersama para pemulung  yang tinggal di bawah jembatan dekat alun alun di kota mereka.

 

“Assalamualaikum,” sapa Adi di depan rumah Taqi.

 

Taqi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Adi langsung berdiri, menyambut kedatangan Adi.

 

“Waalaikum salam, Bang…” jawab Taqi sembari mengulurkan tangannya menjabat tangan Adi.

 

“Jadi, kan, kita buka puasa bersama saudara-saudara kita yang kurang beruntung?” tanya Adi meyakinkan rencana yang sudah di buat tadi pagi.

 

“Jadilah, Bang, program ini sudah kami susun bersama para pengurus sejak sebulan sebelum Ramadhan dimulai,” jawab Taqi seraya menerangkan bahwa lembaga amal yang diasuhnya memang banyak membuat program untuk memberikan santunan dan melakukan pemberdayaan kaum dhuafa secara terjadwal jauh-jauh hari.

 

“Ayo, Bang, kita naik motor saya saja supaya lebih praktis,” ajak Taqi. Anak muda itu mengeluarkan motornya.

 

“Ok, Dik!” Adi menjawab sambil menyimpan motornya di dalam teras rumah Taqi.

 

Perjalanan dari rumah Taqi menuju tempat tinggal para pemulung tidaklah terlalu jauh, namun memerlukan waktu yang cukup lama karena kemacetan yang terjadi bersamaan dengan jam pulang kantor beberapa pekerja dan karyawan. Ditambah pula dengan masyarakat kota yang hendak mencari makanan untuk berbuka, jalanan jadi semakin padat.

 

Dua puluh menit, kedua sahabat itu membelah jalan kota yang riuh. Setibanya di tempat acara, Taqi sudah ditunggu oleh tiga orang pengurus lembaga yang berasal dari relawan dengan status mahasiswa.

 

“Assalamualaikum,” sapa Taqi.

 

Ketiga relawan itu, Rudi, Indra, dan Sofyan yang sejak tiga puluh menit lalu sudah berada di lokasi acara menjawab serentak. “Wa alaikum salam….”

 

“Makanan untuk buka puasa dan sembako serta bingkisan sudah siap?” tanya Taqi, memeriksa kesiapan perlengkapan sekaligus materi acara.

 

“Sudah, Bang, jumlahnya sudah kami lebihkan, kuatir ada yang belum terdata bulan lalu,” jawab Rudi selaku mahasiswa yang paling senior di antara para relawan.

 

“Bagus kalau begitu. Oh ya, perkenalkan, ini Bang Adi, senior saya ketika dulu ada kegiatan organisasi di kampus,” Taqi memperkenalkan Adi kepada teman-temannya.

 

Satu per satu relawan itu disalami Adi. Sementara Pak Jarot selaku kasepuhan di kumpulan para pemulung tersebut mendatangi mereka.

“Ayo kita segera mulai! Orang-orang sudah berkumpul sejak tadi,” seru Pak jarot memberitahukan bahwa 60 anak pemulung sudah menanti rangkaian kegiatan buka puasa bersama yang direncanakan.

 

Sepanjang perjalanan menuju tempat acara yang teramat sangat sederhana itu, mata adi berpendar memandang gubuk-gubuk yang tidak layak, tempat para pemulung itu tinggal. Ada yang menggunakan triplek rombeng sebagai tembok penutupnya, dan tidak sedikit pula yang sekadar menggunakan kardus-kardus bekas sebagai pelindung dari panasnya terik matahari dan dinginnya udara malam.

 

Terbayang olehnya, bagaimana keadaan mereka ketika rehat atau tidur di tempat yang sangat tidak layak itu. Bau tidak sedap menyengat di hidung Adi dan belasan lalat berlintasan di matanya, serta beberapa nyamuk yang berebutan singgah di kulit tangannya.

 

Acara kegiatan pemberian santuan tersebut adalah sebuah tempat seluas 10×10 meter yang dialasi plastik berwarna biru. Dinaungi sebuah tenda parasut yang penuh lubang di sana-sini. Sekitar 60 orang tampak dengan sabar duduk lesehan mendengar taushiyah sebagai pengantar kepada pemberian santunan yang sangat dinanti oleh warga.

 

“Saudara-saudara sekalian, Ramadhan adalah bulan ujian, bulan pendidikan, dan bulan solidaritas,” teriak Taqi ketika menyampaikan tausiah kepada mereka.

 

“Di sebut bulan ujian, karena memang kita sedang  diuji apakah sanggup menjalankan perintah agama, sekalipun berada di tengah-tengah berbagai kekurangan hidup,” ujar Taqi penuh semangat.

 

“Sebagai bulan pendidikan, karena kita berlatih berbagai hal, termasuk kesabaran dalam menjalani rukum Islam yang ke lima ini,” tambah Taqi.

 

“Bagi kalangan Muslim yang mampu, Ramadhan juga digunakan untuk menguji apakah perasaan solidaritas di antara sesama umat muslim tumbuh dan tetap terjaga bila melihat saudara lainnya ditimpa kesulitan,” lanjut Taqi.

 

Ketika Taqi memberikan tausiahnya, Adi menyapa seorang anak kecil yang dari perawakannya, Adi mengira anak itu berusia  sekitar 10 tahun.

 

“Siapa namamu, Nak?” tanya Adi sambil mengelus bahu anak tersebut.

 

“Amir…” jawab anak itu singkat.

 

“Kamu sekolah di mana?”

 

Amir menatap Adi sejenak. Tak langsung menjawab pertanyaan yang ditanyakan Adi padanya.

 

Adi mengulas senyum, “Lho, kok nggak dijawab?” tanyanya sembari mengelus kepala Amir.

 

“Saya tidak bersekolah,” lirih Amir. Namun jawaban itu begitu tegas menyentil bagian terkecil di sudut hati Adi. Ada desir yang tak dikenalnya lantaran mendengar jawaban itu. Desir yang membuat hati Adi pilu.

 

“Kenapa tidak bersekolah?” Adi masih berusaha mencari tahu alasan dari jawaban singkat Amir. Ada sesuatu yang gaib dari dalam dirinya menuntun untuk bertanya lebih jauh tentang Amir.

 

“kata bapak, tidak ada biaya,” sudut mata Amir menangkap mata Adi, lalu buru-buru ditundukkannya kepalanya, seperti menyimpan sesuatu yang dia tak ingin Adi melihatnya. “Saya harus membantu bapak mencari sampah,” katanya kemudian. Masih menunduk.

 

Adi kehilangan kata. Lidah kelu. Tak kuasa, bening yang sedari awal telah berpendar di matanya, tumpah juga. Setetes. Adi berusaha mengerjap, tak ingin bening itu bertambah, dan Amir mengathui kalau dia menangis. Adi tak mau menambah nelangsa yang bersarang di pulau kecil di jantung anak itu bertambah-tambah olehnya.

 

Sementara sebagai guru, batinnya  tidak bisa menerima kenyataan bahwa seorang anak dalam usia belajar namun tidak dapat bersekolah karena alasan ekonomi.

 

Namun, sialah yang mampu menolak malang, siapa pula yang mampu memaksa mujur. Kenyataan hidup memperlihatkan bahwa masih ada-anak yang tidak bisa bersekolah meski untuk tingkat Sekolah Dasar. Padahal, untuk tingkat itu, biayanyahanya berkisar ratusan ribu. Adi membandingkan biaya yang dikeluarkan oleh atasannya di kantor untuk makan siang bersama para pengawas yang bisa menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk sekali makan siang bersama.

 

“Ah, betapa tak adilnya…” hati Adi perih. Tumbuh kesadarannya, selama ini dirinya sibuk memikirkan hidup dan kebutuhan hidup sendiri. Sangat jarang memikirkan, bahwa hidup akan terasa lebih hidup bila bisa membantu kehidupan orang lain. Adi benar-benar insaf akan hal itu. Dan kesadaran itu mengalir dari seorang anak kecil yang kini berada di sampingnya. Amir.

 

“Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, bersyukur kami memiliki donator yang peduli dan memiliki rasa solidaritas untuk saling membantu sesama. Sehingga kami bisa hadir di sini dan membagikan santunan. Semoga saudara-saudaraku bisa mendokan agar para donator kami mendapatkan keberkahan dalam hidupnya,” ucap Taqi masih dalam tausiahnya.

 

Mendengarkan kalimat tersebut, Adi merasa mendapat semangat baru. Ya, semangat baru. Semangat untuk berbagai sehingga hidup bukan untuk menghidupi diri sendiri, melainkan hidup juga untuk membantu kehidupan orang lain. Adi menyadari bahwa berbagi… bikin hidup lebih hidup.

(Bersambung)


Penulis: Boyke Pribadi

Editor: Setiawan Chogah

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *