InspirasiOpini

Uus Muhammad Husaini: Diam Itu “Bukan” Emas

Oleh Uus Muhammad Husaini

biem.co — Orang tua kita dahulu ataupun guru-guru kita sering mengajarkan bahwa “diam itu adalah emas”. Dan kita terkadang mengajarkan kepada anak-anak kita baik di sekolah maupun di rumah kata-kata mutiara yang sama. Seakan-akan ingin mengajarkan bahwa diam itu adalah yang terbaik, mulia dan lain sebagainya.

Di sisi yang lain, manusia adalah makhluk sosial yang perlu dan akan selalu berinteraksi dengan yang lainnya. Dan bicara, baik secara lisan maupun tulisan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Banyak orang kemudian berbicara, mulai dari hal-hal yang sangat penting bahkan sampai hal-hal yang sangat tidak penting. Tak jarang kita menemukan orang yang rela menghabiskan waktunya untuk berbicara tentang sesuatu yang tidak penting, tidak bermanfaat, bahkan cenderung masuk kepada perbuatan gibah yang sangat dibenci oleh agama (red. Islam).

Lalu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita menyikapi dua hal tersebut di atas? Dalam sebuah riwayat hadis, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A., dari Rasulullah Saw, Beliau bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata benar atau diam, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya. [H.R. Bukhari dan Muslim]. Hadis ini diriwayatkan melalui banyak jalur dari Abu Hurairah, dan disebagian lafadznya hendaknya tidak menyakiti tetangganya.[1]

Dari hadis ini, rasa-rasanya kita sudah bisa menyimpulkan bahwa “diam adalah emas” bukanlah konsep yang mutlak benar, namun tidak pula salah sama sekali. Saya merasa ungkapan “diam adalah perak” adalah konsep yang lebih tepat, mengapa? Mari kita simak pembahasan berikut.

Pada hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim di atas, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita agar berusaha untuk melakukan “berkata baik” terlebih dahulu, jika tidak bisa maka barulah diam dijadikan pilihan selanjutnya. Inilah makna Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan terlebih dahulu kata-kata fal yaqul khoiro (berkata yang baik) ketimbang au liyashmut (atau lebih baik diam). Di sinilah seorang muslim dituntut untuk membiasakan diri mempertimbangkan kemanfaatan ucapannya sebelum mulutnya terbuka. Jika dirasa lebih bermanfaat maka hendaklah mengatakannya namun jika kesia-siaan atau mudharatnya lebih besar ketimbang manfaatnya hendaklah menahan lisannya.

Dalam hadis yang lain, dalam kitab Hadis Arba’in Imam Nawawi, hadis nomor 12 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

Dari Abu Hurairah R.A. berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda Diantara ciri baiknya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya. [hadis hasan, riwayat al-Tirmidzi dan yang lainnya][2]

Berdasarkan kedua hadis di atas, kita dapat mengambil beberapa kesimpulan:

Pertama, ada sekelompok orang yang banyak bicara dan perkataannya sia-sia, tidak bermanfaat, suka menyakiti dan lain sebagainya. Mereka tidak mempertimbangkan terlebih dahulu apa yang ingin mereka katakan dan mengikuti kecenderungannya yang banyak bicara. kelompok ini adalah kelompok yang paling buruk harus kita hindari karena pertanda Islamnya tidak baik.

Kedua, ada juga sekelompok orang yang mempunyai kecenderungan pendiam namun tidak mendorong diri untuk berbicara yang bermanfaat. Pada beberapa kesempatan dimana mereka bisa mengingatkan seseorang atau berbagi ilmu namun tidak mereka lakukan. Ini juga perilaku yang harus dihindari. Kita harus senantiasa berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain. Bukankah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda;

“Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” [HR Bukhari dan Muslim]

Ketiga, ada sekelompok orang yang cenderung pendiam karena hawatir akan menimbulkan kesia-siaan jika terlalu banyak bicara. Kelompok inilah yang kita bisa masukkan ke dalam golongan “perak”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa inilah orang-orang yang baik Islamnya. Namun seharusnya mereka tidak berpuas diri dengan peringkat peraknya. Hendaknya mereka memperdalam ilmu, wawasan, kepekaan, dan keterampilan berbicaranya agar dapat berhijrah ke golongan yang keempat.

Kelompok yang keempat, yaitu orang-orang yang banyak bicaranya tapi dengan pembicaraannya ia bermanfaat bagi lingkungannya dan pada hakekatnya dirinya sendiri. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menobatkan mereka sebagai manusia yang terbaik.

Dengan demikian, ungkapan yang lebih tepat berdasarkan uraian di atas adalah bahwa “banyak bicara (yang baik) adalah emas”. Dan mudah-mudahan kita semua tergolong golongan ini, yang kalau berbicara akan memberikan manfaat dan kebaikan bagi orang-orang sekitarnya. Wallahu ‘alam bi al-showab***


[1] Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami al-Ulum wa al-Hikam, (Muassasah al-Risalah: 2001), h. 332, hadits 15.

[2] Muhyiddin Yahya bin Syaraf Nawawi, Hadis Arbain Nawawiyyah, (Riyadh: al-Maktab al-Ta’awuny li al-Da’wah wa al-Tau’iyah, 2010), hadits. 12.


Uus Muhammad Husaini, adalah Pengurus Forum Dosen Agama Islam Universitas Serang Raya dan Alumni Universitas Al-Azhar Mesir. 

Editor : Andri Firmansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *