Film & MusikHiburan

Review Film Jailangkung: Ketika Kematian Harus Direlakan

biem.co – Lebaran kali ini, bioskop tanah air menawarkan film-film dengan genre yang beragam untuk menemani liburan. Sebut saja Film “Jailangkung”. Film yang bergenre horor ini mengisahkan tiga perempuan bersaudara yang diperankan oleh Hanna Al-Rasyid (Angel), Amanda Rawles (Bella), dan Gabriella Quinly (Tasya) untuk mencari tahu apa yang membuat ayah mereka, Ferdi (diperankan oleh Lukman Sardi), terbaring koma.

Cerita diawali saat dokter yang merawat Ferdi mengatakan, bahwa meski dalam keadaan koma, kondisi Ferdi terbilang baik-baik saja. Lantas, Bella pun akhirnya meminta pertolongan teman kuliahnya yaitu Rama (diperankan oleh Jefri Nichol), yang memiliki pengetahuan tentang hal-hal bernada mistis untuk membantu masalah yang dihadapinya.

Menurut Rama, apa yang terjadi pada Ferdi biasa disebut dengan ‘ketempelan’, dimana terdapat makhluk mistis yang menempel di tubuh Ferdi. Didapat informasi dari Kapten Wardana (diperankan oleh Augie Fantinus), bahwa sebelum dibawa ke rumah sakit, Ferdi ditemukan pingsan di sebuah pulau yang diketahui merupakan tempat rumah lama ayahnya berada. Bella dan Rama pun kemudian memiliki ide untuk mengunjungi tempat tersebut. Sempat tak percaya dengan apa yang dikatakan Rama, Angel sang kakak pun akhirnya turut ikut ke sana, juga bersama adik bungsunya Tasya.

Di rumah lama tersebut, mereka menemukan kaset-kaset yang merekam kegiatan yang dilakukan oleh Ferdi beserta keluarga, sejak Angel dan Bella kecil sampai remaja, hingga rekaman saat ibunya meninggal setelah melahirkan Tasya. Dari rekaman tersebut pula, Angel-Bella-Rama mengetahui bahwa Ferdi melakukan ritual jailangkung untuk memanggil roh istrinya. Hal itu dilakukan Ferdi karena dirinya percaya bahwa istrinya (yang diperankan oleh Wulan Guritno) masih ada di sisinya. Konflik pun semakin memuncak ketika Bella dan Rama melakukan hal yang sama; ritual jailangkung. Alih-alih mengembalikan kesadaran Ferdi, makhluk mistis itu pun malah menempeli Angel dan Tasya.

Berbeda dengan film bertema jailangkung sebelumnya yang pernah rilis pertama kali pada tahun 2001 lalu, Film “Jailangkung” ini memiliki mantra ritual yang berbeda, yakni “datang gendong pulang bopong”. Selain itu, terdapat juga istilah baru, seperti halnya “mati anak”.

Film ini, sesungguhnya mengingatkan kita, bahwa kita harus mengikhlaskan kepergian seseorang yang sudah mati, walaupun ia adalah orang yang paling kita sayang. Meski menerima kehilangan adalah hal yang berat, namun hal tersebut terkadang membuat kita semakin kuat. Bagi yang penasaran, Film “Jailangkung” ini sudah bisa dinikmati sejak 25 Juni kemarin. (happy)


Happy Muslimah, adalah mahasiswa AIKA 2016.

Editor :

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button