InspirasiOpini

Aprilia Dwi Tirani: Merah Putih Indonesiaku

“Indonesia …

Merah darahku, putih tulangku

Bersatu dalam semangatmu

Indonesia …

Debar jantungku, getar nadiku

Berbaur dalam angan-anganmu

Kebyar-kebyar, pelangi jingga…”

( Lirik lagu Kebyar-Kebyar – Gombloh )

biem.co – Lirik lagu di atas rasanya cukup menggambarkan bagaimana seharusnya semangat kemerdekaan berkobar. Khususya bagi para remaja yang akan menjadi para penerus bangsa.

Remaja sendiri adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa untuk itu banyak sekali adaptasi yang perlu dilakukan oleh remaja. Dimulai dari lingkungan kecil seperti keluarga hingga lingkungan yang luas di masyarakat. Semua hal itu turut andil dalam pembentukan identitas remaja. Tak jarang justru lingkungan sekitar remajalah yang menjadi racun sehingga remaja menjadi pribadi yang arogan dan apatis.

Bicara soal remaja seakan tidak ada habisnya mengingat kualitas suatu bangsa akan ditentukan dari kualitas generasinya yang dalam hal ini adalah remaja. Tidak hanya itu, bahkan kerusakan suatu negara juga  bisa diakibatkan oleh remajanya. Wah.. kalau begitu remaja ada di posisi yang cukup rentan ya..

Jika melihat kondisi remaja saat ini tentu membuat hati kita merasa miris karena banyak remaja yang kini lupa akan perannya dalam mengisi kemerdekaan. Bukankah seharusnya remaja semangat dalam mengisi kemerdekaan? Percaya atau tidak lebih banyak remaja lebih cinta dengan budaya barat daripada budaya sendiri. Misal lebih seringnya diputar lagu-lagu barat daripada lagu daerah atau lagu nasional Indonesia juga mulai lunturnya norma-norma atau batasan yang sejak dulu telah ada seperti minum alkohol dan budaya clubing yang dianggap hal yang biasa.

Lingkungan sangat memiliki andil yang besar dalam pembentukan jati diri remaja khususnya lingkungan yang paling dekat dengan mereka seperti lingkungan keluarga dan teman-teman di sekitarnya. Keluarga yang acuh  tentu akan membentuk remaja yang acuh pula. Karena, jika di tinjau dari keadaan psikologisnya remaja adalah cermin dari keadaan sekitarnya. Adapun lingkungan teman-teman yang menyimpang akan membentuk identitas yang menyimpang pula.

Maka tak heran banyak sekali remaja yang salah jalan seperti masuk ke lingkungan narkoba, seks bebas, dan tindakan-tindakan kriminal. Pada tahun 2014 saja dari data Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait pengguna narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) menyebutkan bahwa 22 persen pengguna narkoba di Indonesia merupakan pelajar dan mahasiswa.

Sementara, jumlah penyalahgunaan narkotika pada anak yang mendapatkan layanan rehabilitasi pada 2015, tercatat anak usia di bawah 19 tahun berjumlah 348 orang dari total 5.127 orang yang direhabilitasi di tahun itu, dan dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan kementrian kesehatan pada tahun 2013 saja ada sekitar 62,2% remaja Indonesia yang melakukan seks pra nikah.

Semakin lunturnya nilai-nilai Pancasila membuat semakin mudahnya pengaruh buruk masuk. Tidak dihayatinya lagu kebangsaan, dan nilai-nilai dalam UUD juga membuat mental remaja semakin bobrok! Jangankan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila,  isi dari pancasilanya saja banyak yang tidak hafal.

Sekitar 40 persen mahasiswa pun tidak hafal pancasila seperti yang telah disampaikan oleh ibu Eni dalam sosialisasi bidang keagamaan Kowani “Hasil penelitian kami dengan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Barat menyebutkan sebanyak 40 persen mahasiswa tidak hafal Pancasila”.  

Penelitian lain menyebutkan bahwa 53 persen penduduk Indonesia, tidak bisa lagi hafal lagu kebangsaan Indonesia Raya. “Tahun 2015, BPS melakukan survey nilai kebangsaan ini,”  kata  Yudi Latif PhD selaku Direktur Eksekutif Reform Institute pada seminar nasional dengan judul “Menakar Masa Depan NKRI”  yang digelar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Medan, dalam  menyambut 64 Tahun Dies Natalis GMKI Cabang Medan pada hari sabtu tanggal 25 Maret 2017 lalu.

Sangat miris memang tapi itulah kenyataan yang ada di negara kita. Jika tidak mau hal seperti ini berlanjut maka kita sendirilah yang harus membenahinya, siapa lagi yang akan membenahi negara ini jika bukan kita? Bukankah menjadi sia-sia perjuangan para pahlawan untuk merebut kemerdekaan lenyap begitu saja?

Kita haruslah ingat bahwa tujuan dari kemerdekaan adalah “keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia”. Lalu, apa yang kita lihat dari keadaan remaja sekarang ini? apakah sudah sesuai dengan tujuan kemerdekan negara Indonesia? Sayangnya sikap remaja saat ini tidak mencerminkan keinginan dari para pendiri bangsa.

Remaja saat ini lebih terpesona terhadap dunia barat dan cenderung meremehkan bangsa sendiri, seringkali kita dengar kata-kata seperti “Indonesia gak ada apa-apanya” atau “ah..! Indonesia terus saja tertinggal dari negara-negara lain, kapan mau majunya?” seharusnya kalimat seperti itu tidak keluar dari mulut kita. Daripada kita hanya bisa bicara tanpa usaha bukankah akan jadi lebih baik jika kita memikirkan apa yang harus kita lakukan untuk bangsa ini.

Salah satu pendiri negara ini pernah berkata “ Jangan tanyakan apa yang telah negara berikan kepadamu, tanyalah pada dirimu sendiri apa yang bisa kau berikan kepada negara ini.” Membaca kutipan tersebut tentu sangat menjadi pukul berat bagi kita generasi bangsa APAKAH  PERNAH KITA MEMBERIKAN SESUATU PADA BANGSA INI?

Jika jawabannya tidak maka, tidak ada hak bagi kita untuk mencemooh negara ini apalagi kita sendiri adalah bagian yang di dalamnya karena itu sama saja dengan menghina diri sendiri “Kita ada disini bukan diciptakan sebagai seorang pengeluh melainkan sebagai pemberi solusi”.

Kita harus menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah generasi yang berkualitas yang bisa membanggakan negara. Sebagai generasi bangsa haruslah bagi kita untuk bisa mencerminkan falsafah negara ini dengan menerapkan sikap cinta terhadap bangsa dalam segala segi kehidupan yang kita jalani.

Jika kita sudah mencintai negara ini maka tidak akan sulit bagi kita untuk melakukan hal apapun untuk kemajuan negara ini. Jika semua rakyat Indonesia bisa mencintai negara dengan sepenuh hati maka tidak akan menjadi hal mustahil bagi Indonesia untuk dapat menyaingi negara-negara lain karena adanya rasa  persatuan dari rakyatnya.

Biarpun Indonesia memiliki banyak suku bangsa serta ribuan budaya di dalamnya hal itu seharusnya tidak membuat adanya perpecahan. Melainkan hal ini membuat kita menjadi semakin kaya dan hal itulah yang tidak dimiliki oleh negara lain dan hal ini sesuai dengan slogan negara kita yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Jika diibaratkan dengan sesuatu, semangat kita dalam mengisi kemerdekaan itu bagaikan api yang harus  terus dijaga agar tidak mudah padam. Yaitu dengan cara menumbuhkan sikap cinta pada negara, menanamkan nilai-nilai yang ada pada Pancasila. Berusaha mengisi kemerdekaan dengan hal yang positif seperti berprestasi dalam hal akademik maupun non akademik.

Ketika api itu mulai mengecil dan seakan mau padam maka hendaklah kita mengobarkannya kembali dengan cara mengenang semua perjuangan dan penderitaan yang harus dihadapi oleh para pahlawan untuk merebut kemerdekaan negara ini. Dengan kata lain, kita harus mengetahui dan mengenal sejarah dari negara ini karena “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.

Jadi, pada intinya posisi kita sebagai remaja memiliki andil yang besar dalam kemajuan bangsa sampai-sampai Ir. Soekarno pun pernah berkata “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”. Jangan biarkan api semangat dalam dirimu padam ya teman-teman… MERAH DARAHKU PUTIH TULANGKU!!!!

(Artikel ini menjadi Juara III dalam Lomba Penulisan Artikel yang diselenggarakan oleh biem.co dalam rangka HUT RI yang ke-72 dengan tema Anak Muda dan Kemerdekaan.)


Aprilia Dwi Tirani

Dilahirkan pada tanggal 23 April 2000. Saat ini penulis merupakan Siswi di SMK Kesehatan Husada Pratama Kota Serang. Penulis dapat dihubungi melalui alamat email [email protected]


Berita Terkait:

Itsnaeni Rasikhah: Pentingnya Generasi Muda

Restiana: Satukan Jiwa Untuk Merdeka


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *