KabarTerkini

PMI Nilai Pendonor Darah dari Generasi Muda di Banten Masih Minim

KABUPATEN SERANG, biem.co — Tingkat donor darah di Banten dari generasi muda masih di bawah harapan. Hal itu terungkap dalam pemberian penghargaan kepada ratusan warga pendonor darah yang telah mendonorkan darahnya di atas 75 kali dan 100 kali yang di gelar di Kantor PMI Provinsi Banten, kemarin.

Ketua PMI Provinsi Banten, Ratu Tatu Chasanah mengatakan, regenerasi sangat diperlukan mengingat kebutuhan stok darah juga tinggi, namun tingkat donor darah terutama generasi muda masih rendah harusnya tingkat pendonor itu bisa mencapai tiga persen dari jumlah penduduk dan wilayah.

“Untuk mendorong minat para pemuda untuk aktif dalam mendonorkan darahnya perlu dilakukan upaya. Salah satunya melakukan sosialisasi, mengingat minat pendonor darah masih kesulitan,” terang Tatu, kepada biem.co.

Diketahui, dari data tahun 2017 tercatat sebanyak 82.288 pendonor darah sukarela tersebar di Banten dan peningkatan jumlah pendonor memerlukan upaya lebih maksimal lagi, terutama mendorong kaum muda untuk aktif jadi pendonor darah.

Salah satu pendonor yang sudah 75 kali mendonorkan darahnya, Ahmad Sumaryoto dari Kabupaten Tangerang berharap pendonor darah bisa meningkat, mengingat ada manfaatnya melakukan donor darah.

Ke depan, PMI akan mengajukan penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial kepada pendonor yang telah mencapai 100 tingkat Nasional, mengingat hal itu juga penting karena masih ada warga yang rela mendonorkan darahnya. (firo)


Berita Terkait :

Pertama di Banten! Festival Keraton Surosowan 2017 Siap Digelar
Indra Martha Rusmana: Mengintegrasi Kebahagiaan dengan Hidup Konsisten
Sisi Gelap Kepribadian Manusia di Balik Kisah-Kisah Horor
Komunitas Serang Running Club: Membumikan Olahraga Lari dan Silaturahmi

Editor : Andri Firmansyah

Related Articles

Berikan Komentar

4 Comments

  1. Assalamu’alaikum
    saya dinda tantri ingin menanggapi artikel diatas. Saya sangat merasa terharu saat melihat anak muda yang saat ditanya petugas transfusi “donor untuk siapa?” dia menjawab “enggak untuk siapa-siapa kok, untuk sukarela”. Kenapa sebegitunya?
    Yang pertama karna gak semua anak muda berani disuntik😂 mending kalo suntikan biasa, lah ini udah disuntiknya bermenit-menit, pusing, muntah, bahkan pingsan, kan nyusain😑 itu pengalaman pertama saat saya donor darah😂 terus yang kedua karna gak memenuhi syarat, pernah gajadi donor karna hb rendah yg ternyata kurang zat besi (makan hati ayam bagus tuh, apalagi hatinya doi bhahaha), karna hari terakhir menstruasi (paling bagus itu pas pertengahan siklus menstruasi, sist), karna tensi tinggi (bukan gegara ngomel ngomel kok, tapi karna semalemnya begadang. So, kalo pas ditanya “semalem tidur jam berapa?” dan kamu jawab boong, tensi gak bisa dikadalin, gaes). Trus yg ketiga karna mereka belum paham betapa untungnya saat kita donor darah, dengan donor darah kita jadi tau apa golongan darah kita (harga cek goldar di klinik 40ribu gengs), bisa rutin kroscek bb kita, bisa konsultasi soal kesehatan secara gratis, bisa tau kita punya penyakit serius atau enggak (kalo darahnya bermasalah pihak RS atau PMI bakal nginfoin kita), bisa kenalan sama petugasnya *eh.
    Cukup sekian, wassalamu’alaikum

  2. Assalamu’alaikum
    saya dinda tantri ingin menanggapi artikel diatas. Saya sangat merasa terharu saat melihat anak muda yang saat ditanya petugas transfusi “donor untuk siapa?” dia menjawab “enggak untuk siapa-siapa kok, untuk sukarela”. Kenapa sebegitunya?

    Pertama karna gak semua anak muda berani disuntik😂 mending kalo suntikan biasa, lah ini udah disuntiknya bermenit-menit, pusing, muntah, bahkan pingsan, kan nyusain😑 itu pengalaman pertama saat saya donor darah😂

    Terus yang kedua karna gak memenuhi syarat, pernah gajadi donor karna hb rendah yg ternyata kurang zat besi (makan hati ayam bagus tuh, apalagi hatinya doi bhahaha), karna hari terakhir menstruasi (paling bagus itu pas pertengahan siklus menstruasi, sist), karna tensi tinggi (bukan gegara ngomel ngomel kok, tapi karna semalemnya begadang. So, kalo pas ditanya “semalem tidur jam berapa?” dan kamu jawab boong, tensi gak bisa dikadalin, gaes).

    Trus yg ketiga karna mereka belum paham betapa untungnya saat kita donor darah, dengan donor darah kita jadi tau apa golongan darah kita (harga cek goldar di klinik 40ribu gengs), bisa rutin kroscek bb kita, bisa konsultasi soal kesehatan secara gratis, bisa tau kita punya penyakit serius atau enggak (kalo darahnya bermasalah pihak RS atau PMI bakal nginfoin kita), bisa kenalan sama petugasnya *eh.
    Cukup sekian, wassalamu’alaikum

  3. Assalamu’alaikum
    saya dinda tantri ingin menanggapi artikel diatas. Saya sangat merasa terharu saat melihat anak muda yang saat ditanya petugas transfusi “donor untuk siapa?” dia menjawab “enggak untuk siapa-siapa kok, untuk sukarela”. Kenapa sebegitunya?

    Pertama karna gak semua anak muda berani disuntik😂 mending kalo suntikan biasa, lah ini udah disuntiknya bermenit-menit, pusing, muntah, bahkan pingsan, kan nyusain😑 itu pengalaman pertama saat saya donor darah😂

    Terus yang kedua karna gak memenuhi syarat, pernah gajadi donor karna hb rendah yg ternyata kurang zat besi (makan hati ayam bagus tuh, apalagi hatinya doi bhahaha), karna hari terakhir menstruasi (paling bagus itu pas pertengahan siklus menstruasi, sist), karna tensi tinggi (bukan gegara ngomel ngomel kok, tapi karna semalemnya begadang. So, kalo pas ditanya “semalem tidur jam berapa?” dan kamu jawab boong, tensi gak bisa dikadalin, gaes).

    Trus yg ketiga karna mereka belum paham betapa untungnya saat kita donor darah, dengan donor darah kita jadi tau apa golongan darah kita (harga cek goldar di klinik 40ribu gengs), bisa rutin kroscek bb kita, bisa konsultasi soal kesehatan secara gratis, bisa tau kita punya penyakit serius atau enggak (kalo darahnya bermasalah pihak RS atau PMI bakal nginfoin kita), bisa kenalan sama petugasnya *eh.
    Cukup sekian, wassalamu’alaikum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *