KOTA SERANG, biem.co – Mahasiswa, yang kerap disebut-sebut sebagai agen perubahan bangsa, memang selalu punya cara untuk berperan dalam membangun negara. Salah satu yang bisa kita temukan adalah adanya Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam (FoSSEI), yang merupakah organisasi kemahasiswaan yang memiliki fokus untuk pengembangan ekonomi Islam atau disebut sebagai forum ukhuwah dakwah ilmiah antara kelompok studi ekonomi Islam.
FoSSEI sendiri telah terbentuk sejak 13 Mei 2000, yang sebelumnya diusung oleh beberapa universitas, yakni Unibraw, UGM, Undip, UI, dan UNS. Agung Wicaksono, yang kini menjabat sebagai salah satu Presidium Nasional FoSSEI menyebutkan, bahwa FoSSEI dibentuk atas adanya rasa kegundahan (red: mahasiswa) terhadap ekonomi pada umumnya yang memang telah goyah, di mana pada waktu itu sempat terjadi krisis ekonomi.
“Pada saat krisis itu, bank-bank syariah di Indonesia tetap bertahan. Akhirnya kita sebagai mahasiswa, sejak tahun 90-an sudah mulai membentuk kajian-kajian kecil mengenai ekonomi Islam, walaupun belum ada jurusannya saat itu,” ujar Agung kepada reporter biem.co, usai ditemui menghadiri salah satu acara di Kota Serang, beberapa waktu lalu.
Agung mengatakan, bahwa FoSSEI terdiri atas beberapa tingkatan, yaitu nasional, regional, komisariat, dan kelompok studi ekonomi Islam. Ada sebanyak 7000 anggota yang tersebar dalam 14 regional dan 165 kelompok studi ekonomi islam di seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Diketahui, FoSSEI saat ini menjadi pelopor dan asosiasi mahasiswa di bidang ekonomi islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia.
Lebih lanjut Agung menyampaikan, pada tingkat nasional, FoSSEI memiliki beberapa agenda yang sering dijalankan seperti temu ilmiah nasional, kampanye nasional, dan juga musyawarah nasional. Namun, ucap Agung, kegiatan yang paling banyak dilakukan memang terdapat di tingkat kampus.
“Biasanya di tingkat kampus melaksanakan kajian, seminar atau workshop, serta nanti kayak buat paper. Karena kita arahnya lebih ke ilmiah, ya. Jadi kita lebih seringnya riset, bikin paper, bikin karya tulis. Nanti dibahas di temu ilmiah regional kemudian disaring dan dibahas di nasional. Terus biasanya kita prosesin jadi buku yang kemudian disalurkan ke pemerintah agar bisa menjadi pertimbangan kebijakan, khususnya dalam pengembangan ekonomi islam,” jelas mahasiswa asal Universitas Brawijaya tersebut.
Dalam perjalanan sampai 17 tahun ini, Agung berharap, ke depan, FoSSEI bisa tetap ada pada jalannya, tetap kepada idealismenya, dan tetap pada arah gerak yang dituju.
“Karena saya yakin, Indonesia masih butuh kita (red: FoSSEI), bahkan dunia, bahkan ekonomi islam itu sendiri. Selama itu, kita masih harus punya semangat bergerak untuk pembangunan. Karena masih banyak sekali yang harus diperbaiki. Dan itu bisa kita mulai dari FoSSEI,” pungkasnya. (HH)








