HiburanKomunitas

Berkarya Lewat Bengkel Menulis dan Sastra

KOTA SERANG, biem.co – Mencari ‘rumah’ untuk menyalurkan hobi, menjadi penting untuk bisa menggerakkan semangat kita dalam berkarya. Seperti kegemaran akan menulis, misalnya. Dari ‘rumah’ itulah, kita bisa semakin mengasah bakat yang dimiliki dengan menambah wawasan dari orang-orang yang ahli dalam bidangnya, atau paling tidak memiliki ketertarikan yang sama. Dan ‘rumah’ itu disebut dengan ‘bengkel’ oleh teman-teman dari Belistra.

Belistra (Bengkel Menulis dan Sastra) merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang bergerak di bidang literasi dan sastra. Lahir pada tahun 2007, Belistra awalnya adalah sebuah kelas menulis yang diprakarsai oleh (Alm) Muhammad Wan Anwar, Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Untirta. Setelah melalui berbagai hal, akhirnya pada tahun 2010, Belistra diangkat menjadi UKM di jenjang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Wahyu Rustanto, Kepala Departemen Kaderisasi Belistra mengatakan, sebelumnya, tidak ada kata ‘dan’ dalam kepanjangan nama Belistra. Namun, atas usul seorang senior, perlu ada pemisahan antara menulis dan sastra agar tidak tergabung. Jadi, bukan hanya orang-orang yang ingin menulis sastra saja yang bisa bergabung di Belistra, tetapi semua orang yang suka menulis apapun.

Yang menarik dari Belistra adalah, bahwa tidak ada jangka waktu bergabung dengan Belistra, sehingga anggota yang sudah masuk ke dalam Belistra, sifatnya adalah anggota seumur hidup.

“Iya, jadi anggota-anggota lama pun masih menjadi anggota Belistra. Kalau keluar, malah kena denda 10 juta. Serius, ada di ADRT-nya,” ujar Wahyu, saat diwawancarai biem.co di sela-sela acara Pertemuan Penyair Nusantara, beberapa waktu lalu.

Selama tujuh tahun berdirinya UKM ini, Wahyu menuturkan, masih kerap dihadapi oleh kendala soal produktivitas menulis para anggotanya. “Anak-anak Belistra juga belum memiliki kepercayaan diri untuk mengirimkan karyanya ke media atau berbagai ajang lomba. Tapi selebihnya kita have fun, sering kumpul-kumpul, dan seneng-seneng aja, sih,” tandasnya.

Tentunya, di dalam Belistra juga terdapat berbagai program, seperti kajian karya, baik yang mengkaji karya sendiri maupun orang lain. Ada HUT Belistra yang setiap tahunnya berbeda, juga ada perjalanan kebudayaan, yaitu menjelajahi situs-situs penting yang ada di Banten untuk mempelajari sejarah yang goal point-nya sebagai acuan bahan menulis juga. Sementara di Bulan Ramadhan, Belistra biasanya mengadakan berbagi tulisan sambil berbuka puasa dengan anak-anak yatim.

Meski Belistra ini merupakan UKM Fakultas, akan tetapi Wahyu mengatakan, tidak menutup kemungkinan mahasiswa dari jurusan dan fakultas lain untuk ikut menjadi anggota Belistra.

“Sebenarnya, kalau kita mengikuti peraturan fakultas itu anggotanya harus dari FKIP, cuma kita tidak menutup kemungkinan untuk fakultas yang lain untuk ikut bergabung, dan biasanya kita sebut sebagai anggota istimewa,” ujar pria yang tengah menjalani kuliah semester 5 tersebut.

Untuk Belistra sendiri, Wahyu berharap, anggota-angota Belistra bisa lebih produktif lagi dalam menulis. “Jangan stuck, jangan kebanyakan becandanya, terus semoga karya-karya dari teman-teman Belistra bisa tembus ke koran-koran nasional dan bisa dibukukan,” pungkas Wahyu. (HH)

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar