KabarTeknologiTerkini

Blackberry Dan Baidu Kembangkan Self-Driving Car. Bagaimana Peluangnya?

biem.co – Siapa yang tak kenal Blackberry? Handset dengan gaya khas qwerty keyboard ini sempat menjadi primadona telepon seluler di Indonesia selama beberapa tahun. Meski akhirnya harus kalah oleh kekuatan produsen-produsen inovatif seperti Iphone dan Samsung, serta produsen-produsen China yang masuk ke pasar Indonesia.

Setelah mencatat laporan keuangan terakhirnya pada 28 September 2016, dengan kerugian sebesar 372 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,8 triliun, perusahaan asal Kanada ini akhirnya gulung tikar.

Pendapatan perusahaan dikatakan hanya mencapai 334 juta dollar AS. Pangsa pasar smartphone BlackBerry juga menyusut hingga menjadi kurang dari satu persen.

Divisi ponsel BlackBerry pada kuartal kedua tahun fiskal tercatat hanya mampu menjual 400.000 unit perangkat dengan kerugian 8 juta dollar AS.

Setelah dialihkan atau dilisensi pihak ketiga, akhirnya Blackberry (RIM) fokus mengembangkan software. Strategi lisensi ini semata-mata untuk bertahan menghadapi gempuran produsen telepon seluler yang tidak terbendung.

Bukan Blackberry namanya jika tidak bisa menjawab tantangan ini. Awal 2018 ini, BlackBerry telah menandatangani kerja sama dengan perusahaan pencarian internet asal China, Baidu. Akan tetapi bukan membuat telepon seluler, kerja sama ini dimaksudkan untuk mengembangkan teknologi kendaraan self-driving (swa-kemudi).

Dilansir Daily Mail, (6/1/2018), kesepakatan tersebut seperti kesepakatan serupa Blackberry dengan perusahaan lainnya seperti Qualcomm Inc, Denso, dan Aptiv Plc. untuk mengembangkan teknologi penggerak otonom dengan perangkat lunak QNX BlackBerry, yang diharapkan mulai menghasilkan pendapatan pada 2019.

Dalam kerja sama ini, Baidu akan memanfaatkan QNX BlackBerry sebagai dasar dari sistem operasi mobil swa-kemudi buatan Baidu yang diberi nama Apollo.

Apollo sendiri adalah platform perangkat lunak open self-driving yang bisa digunakan oleh pengembang atau perusahaan manapun. Menurut CEO Baidu, Qi Lu, platform QNX Blackberry ini adalah “Androidnya industri swa-kemudi, tetapi lebih terbuka dan kuat.”

Platform Apollo sudah diperkenalkan sejak Juli 2016, namun telah menggunakan teknologi yang telah dikembangkan Baidu selama beberapa tahun termasuk teknologi dari Microsoft, Nvidia, dan Intel.

Para investor dan analis mengemukakan, QNX Blackberry bisa menjadi teknologi kunci dalam industri mobil swa-kemudi.

Kerja sama ini mendapat tanggapan positif pasar. Sejak ditandatangani, saham Blackberry naik 13% di bursa saham Toronto menjadi 16,95 dolar Kanada. Posisi tersebut menjadi tertinggi dalam sehari sejak April 2017 dan level penutupan terbesar sejak empat tahun terakhir, atau sekitar Maret 2013.

Menurut Todd Coupland, analis CIBC Capital Market, seperti dilansir Reuters, “QNX bisa menjadi teknologi kunci di industri ini. Peluangnya ada di seluruh dunia, teknologi ini ditujukan untuk pasar sangat besar”, menurutnya “ini akan menjadi kemenangan yang solid bagi Blackberry”.

Kita lihat ke depan. Mampukah QNX untuk Appolo ini menjadi kerja sama sukses Blackberry? (EJ)

Editor : Jalaludin Ega
Tags

Artikel Terkait

Berikan Komentar