Teknologi

Animo Masyarakat Tinggi, Kemenperin Usulkan PPh E-Commerce 0,5 %

Rata-rata penjualan e-commerce sekitar Rp40 juta per tahun

biem.co — Laporan yang bersumber dari Google menyebut ketertarikan konsumen terhadap e-commerce tumbuh pesat di Asia Tenggara. Ini berdasarkan jumlah search-volume dari nama-nama e-commerce yang meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 2 tahun di Google Search.

Pada tahun 2017, terlihat beberapa fenomena menarik terkait pertumbuhan e-commerce di Indonesia

Melihat dari data dan animo masyarakat terhadap dunia e-commerce, dilansir dari laman Tempo.co, Menteri Perindustrian (MENPERIN)  Airlangga Hartarto mengusulkan pengenaan pajak penghasilan (PPh) untuk pelaku perdagangan elektronik atau e-commerce sebesar 0,5 persen.

Menurutnya, angka tersebut dinilai cukup tepat karena industri yang tergabung dalam e-commerce masih terbilang baru dan perlu dukungan dari pemerintah.

Airlangga dalam siaran pers Kementerian Perindustrian, Kamis, 22 Februari 2018. “Kami usul yang lebih rendah. Mungkin pemerintah akan settle di 0,5 persen untuk PPh.”

Airlangga beralasan, pengenaan pajak yang rendah tersebut karena rata-rata penjualan e-commerce hanya sekitar Rp40 juta per tahun yang masuk dalam skala pendapatan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM). Selain itu, keuntungan per-user juga relatif masih rendah dengan jumlah US$228 juta.

Namun,  karena nilainya relatif lebih rendah dibandingkan dengan yang offline, hingga saat ini perbedaan pajak itu masih dikaji di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Dengan populasi dan produk domestik bruto (PDB) terbesar di Asia Tenggara, Indonesia merupakan pasar potensial bagi sektor ekonomi digital. Bahkan, pemerintah menargetkan Indonesia sebagai pusat ekonomi digital di Asia Tenggara pada 2020.

Jumlah populasi di Indonesia mencapai 264 juta jiwa, dan sekitar 55% merupakan kaum urban yang tinggal di daerah perkotaan yang sudah melek terhadap perangkat-perangkat digital.

Adapun penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 133 juta jiwa atau sekitar 50 % dari total populasi. Sementara pengguna aktif media sosial mencapai 115 juta jiwa atau sekitar 44 % dari total populasi.

Dengan tarif pajak yang lebih rendah tersebut, Airlangga berharap semakin banyak produk IKM nasional yang bergabung dengan toko online, mengingat produk impor yang beredar di pasar online saat ini masih mendominasi.

“Kami ingin barang yang dijual itu produksi dalam negeri, bukan impor. Ini juga bertujuan meningkatkan daya saing Indonesia,” ujarnya

Ia menambahkan, penggunaan ponsel di Indonesia saat ini sudah mencapai 371 juta atau 141% dari total populasi. Dengan keadaan tersebut, Indonesia berpeluang besar menjadi negara ketiga terbesar di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat yang memiliki pendapatan dari bisnis online.

Airlangga berstatement penuh percayadiri “Dengan melihat iklim seperti itu, perusahaan retailonline akan terus bermunculan dan sedikit demi sedikit akan bertransformasi menjadi salah satu sektor penggerak ekonomi nasional,”. (IY)

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar