Kesehatan

Peneliti: Kesepian itu Buruk bagi Jantung. Yuk! Bersosialisasi

Isolasi sosial dan kesepian secara signifikan meningkatkan risiko masalah kardiovaskular.

biem.co Telah lama diketahui bahwa kesehatan emosional mempunyai pengaruh besar terhadap kesehatan fisik seseorang. Selain itu, ternyata ada banyak manfaat kesehatan dari kehidupan yang dihiasi dengan cinta dan persahabatan yang bahagia. Sebaliknya, kehidupan cinta dan persahabatan yang bermasalah pun akan berimbas pada kesehatan seseorang.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Heart, Senin (26/03/2018) juga mengamati hal ini. Para peneliti menemukan bahwa ‘terisolasi secara sosial’ (dipisahkan dari orang lain) dan kesepian berdampak buruk bagi kesehatan seseorang.

Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa orang yang terisolasi secara sosial atau kesepian lebih mungkin mengalami serangan jantung dan stroke.

Namun, Isolasi sosial terlepas pada kesepian, juga meningkatkan risiko kematian pada orang dengan riwayat penyakit jantung. Hal ini mendukung temuan dari penelitian lain.

“Memiliki dukungan sosial dari orang lain yang punya situasi mirip memiliki efek baik untuk kesehatan Anda, dan individu yang terisolasi secara sosial atau kesepian mungkin tidak memiliki kemungkinan dukungan semacam ini,” ungkap Christian Hakulinen, penulis utama penelitian ini dikutip dari Time, Senin (26/03/2018).

Para peneliti telah melakukan survei pada 480.000 orang dewasa di Inggris. Para peserta diberi pertanyaan seputar kehidupan sosial, kesepian, riwayat medis, dan gaya hidupnya.

Peneliti juga mengukur metrik kesehatan termasuk tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh, dan kekuatan genggaman. Selanjutnya, para peneliti mengamati peserta selama tujuh tahun.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan, peneliti menyimpulkan isolasi sosial dan kesepian tampaknya secara signifikan meningkatkan risiko seseorang terhadap masalah kardiovaskular.

Peneliti mengungkapkan, kesepian dikaitkan dengan risiko 49 persen untuk serangan jantung. Selain itu, kesepian juga berkaitan dengan risiko 36 persen lebih tinggi untuk stroke. Hasil tersebut berbeda tipis dengan isolasi sosial yang dikaitkan dengan risiko 43 persen lebih tinggi dari serangan jantung pertama kali. Keadaan ini juga dikaitkan dengan 39 persen lebih tinggi untuk stroke pertama kali.

Setelah memperhitungkan berbagai faktor biologis, kesehatan, dan sosial ekonomi, hal berbeda terlihat.

“Secara teori, mungkin orang-orang yang merasa kesepian memiliki setidaknya beberapa jejaring sosial aktif setelah sakit. Tapi orang yang terisolasi sosial tidak,” kata Hakulinen, dikutip dari laman kompas.com.

Untuk itu, Hakilunen menyarankan kita untuk aktif secara sosial di mayarakat.

“Penting untuk mempertahankan hubungan yang ada dengan bertemu anggota keluarga atau teman secara tatap muka,” tutupnya. (iqbal)

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar