Teknologi

Musisi Anji Menyoal Generasi Tik Tok Indonesia

biem.co — Sejak satu tahun lalu, aplikasi video musik dan jejaring sosial Tik Tok telah meramaikan industri digital di Indonesia. Sebagai pengguna internet terbesar keenam di dunia, Indonesia memang menjadi pasar yang cukup bagus untuk menerima perkembangan teknologi yang ada.

Aplikasi Tik Tok banyak digemari oleh warganet karena memungkinkan penggunanya bisa membuat video-video pendek yang unik. Aplikasi ini tak hanya dimainkan oleh orang dewasa saja, bahkan anak-anak kecil pun tak sedikit yang ikut serta membuat video di sana.

Salah satunya adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar 2-3 tahun yang bermain Tik Tok sambil menyanyikan lagu-lagu dewasa. Kala itu, anak tersebut me-lipsync-kan lagu ‘Ilusi Tak Bertepi’ dari grup band Hijau Daun dengan memperagakan gaya sesuai isi lagu. Video itu sempat viral di Instagram dan di-repost oleh berbagai akun.

Anji Manji, yang belakangan ini tengah mengampanyekan #SaveLaguAnak dan #KembalikanLaguAnak menyayangkan hal tersebut. Menurutnya, jika anak sekecil itu bisa membuat postingan seperti itu, artinya keluarga atau orangtuanya membolehkan dia mendengarkan dan juga membuat postingan itu dengan Tik Tok.

“Ketika seorang anak diperbolehkan mendengarkan atau menyanyikan lagu-lagu dewasa, atau di lingkungan dia mendengarkan lagu-lagu dewasa yang dia bisa tangkap, dia bisa dengar, dia bisa contoh dan bisa ikutin, dan bahkan dia diizinkan juga untuk mengikuti, jangan salahkan kalau lagu-lagu anak semakin berkurang,” ungkap Anji dalam vlog pribadinya yang diunggah pada Jumat (18/05).

Meski begitu, ia sendiri tak menyalahkan aplikasi tersebut. Karena baginya, platform media sosial itu bisa macam-macam dan penggunaannya pun sama seperti juga pisau; bisa bagus, bisa juga tidak.

“Kalau kamu sebagai orang tua, sebagai kakak, sebagai paman, sebagai bibi, mengizinkan anaknya, adiknya, saudaranya, keponakannya, untuk mendengarkan lagu-lagu dewasa dan bahkan juga membuat video dengan lagu-lagu tersebut di aplikasi apapun, berarti ada yang salah dengan perkembangan digital ini,” tutur pria bernama asli Erdian Aji Prihartanto.

Anji sendiri mengakui, bahwa dirinya pernah melakukan kesalahan itu. Ia merasa bangga saat anaknya bisa menyanyikan lagu yang secara teknik cukup sulit dinyanyikan. Namun akhirnya ia berpikir kalau ternyata itu adalah lagu dewasa dan tidak cocok untuk dinyanyikan oleh anaknya. Ia pun kemudian membatasi mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu dewasa di depan anak-anaknya.

“Jangan salahkan medianya, jangan salahkan pencipta lagunya, jangan salahkan pemusik, kalau lagu anak semakin sedikit. Tapi mungkin kita harus berkaca kepada diri sendiri, apakah kita mau memperdengarkan lagu anak kepada anak-anak? Kalau nggak, sia-sia aja semua usaha untuk #SaveLaguAnak dan #KembalikanLaguAnak,” ujarnya.

“Ayo #SaveLaguAnak. Bukan buat saya, bukan buat orang tua, tapi buat anak-anak Indonesia,” pungkasnya. (HH)

Editor : Redaksi

Berikan Komentar