KolomRois Rinaldi

Muhammad Rois Rinaldi: Pemimpin yang Salah Sejak dalam Pikiran

biem.co — Pengertian-pengertian tentang pemimpin pada umumnya sudah sangat dipahami oleh kebanyakan orang, terutama orang-orang yang bergelut di suatu organisasi (formal). Hanya saja, apa yang dipahami di dalam teori kerap sekali berlawanan dengan realitas. Pengertian pemimpin pada beberapa kasus seakan-akan tidak berbeda dengan pengertian “boss” atau “tuan” dari para budak yang memiliki dua pasal ajaib, pasal 1 dan pasal 2: Pasal 1, boss atau tuan tidak pernah salah. Pasal 2, jika boss atau tuan salah, lihat pasal 1.

Akibatnya, orang-orang di dalam suatu organisasi, selain pemimpin, apapun nama dan bentuk organisasinya, diperlakukan seperti kacung-kacung yang tidak dipikirkan pikirannya (bahkan tidak boleh benar-benar berpikir di luar pikiran pemimpinnya), tidak dirasa-rasa bagaimana perasaannya (semakin tidak bisa mempertimbangkan rasa semakin baik), tidak ditimbang-timbang pertimbangan-pertimbangannya (jika terlalu banyak mempertimbangkan apatah lagi membuat pertimbangan di luar pertimbangan pemimpin biasanya akan disingkirkan atau menyingkir dengan sendirinya), dan tidak dilahirkan apa yang menjadi kebutuhan lahir batinnya yang berkaitan langsung dengan visi dan misi organisasi.

Pemimpin-pemimpin semacam itu, hanya ingin didengar ketimbang mendengar. Tidak peduli siapa yang sesungguhnya perlu bicara. Misalkan pada sebuah rapat, perwakilan Departemen A mestinya memaparkan program dan konsep-konsepnya, tapi sebelum sempat perwakilan Bidang A bicara, ia mendahului dengan memaparkan konsep-konsep bahkan hingga bagaimana pelaksanaannya. Sebelum perwakilan Bidang A menyampaikan bagaimana program yang baik, ia lebih dulu mengutarakan bahwa program yang baik itu begini dan begitu, serta konsepnya mesti begono dan begono.

Jika ada seorang atau beberapa orang pengurus atau anggota datang terlambat atau bahkan malas-malasan ikut rapat, pemimpin model beginian akan marah. Ia marah bukan karena merasa butuh dengan pikiran dan pendapat pengurus dan anggota-anggotanya. Ia marah karena ia butuh orang-orang yang mengangguk di setiap akhir kalimatnya. Ia butuh orang-orang untuk berhalusinasi bahwa semua orang yang datang terperangah dengan kecerdasannya dan memberikan tepuk tangan yang sangat gemuruh. Ia akan lebih marah lagi jika ada pengurus dan anggota yang kritis. Bukan hanya marah. Akan lahir kecurigaan terhadap orang-orang kritis bahwa yang kritis tersebut tidak menyukai dirinya secara pribadi. Kadang-kadang dalam menghadapi orang-orang kritis, pemimpin semacam ini akan merasa terhina. Padahal ada orang-orang yang menghina dengan diam. Misalnya, seorang pengurus yang malas menegur pemimpinnya karena ia menganggap pemimpin tersebut tidak cukup cerdas untuk memahami kalimat-kalimatnya. Itu jauh lebih menghina.

Dalam keadaan yang sedemikian, dapat diperkirakan bahwa organisasi yang dihuni oleh pengurus dan anggota yang tidak memiliki kebebasan berpikir, tidak diberi hak penuh menjalankan tugas dan kewajiban organisasi, serta tidak dibuka daya ciptanya adalah organisasi Madesu (masa depan suram). Kemungkinannya: (1) organisasi terus berjalan dengan program yang terseok-seok d imana orang-orang di dalamnya tidak lagi peduli pada akal pikiran yang rasional; (2) organisasi yang berjalan bertentangan dengan aturan-aturan organisasi itu sendiri; (3) perpecahan internal yang mengakibatkan bubarnya suatu organisasi; (4) perpecahan internal yang tidak mengakibatkan bubarnya organisasi, tapi organisasi cacat; dan (5) terjadi upaya penggulingan-penggulingan terhadap ketua oleh pengurus atau anggota yang berusaha menyelamatkan organisasi.

Boleh saja bila ada yang berpendapat bahwa dengan mencucuk hidung pengurus dan anggota di dalam suatu organisasi akan memudahkan setiap harapan dan tujuan organisasi. Lantaran semua akan mudah diarahkan sesuai keinginan pemimpin. Tidak ada perlawanan. Tidak memakan waktu untuk berdiskusi, berdebat, atau bahkan tidak ada kemungkinan munculnya orang-orang yang berseberangan pandangan. Boleh saja berpendapat bahwa keadaan yang sedemikian akan menghemat energi sehingga energi yang dimiliki dapat dimaksimalkan untuk kerja-kerja organisasi. Tetapi sebelum terlalu percaya diri dengan pandangan semacam itu, mari merasionalisasikan kembali.

Misalkan di dalam organisasi ada 5 Departemen, setiap departemen dipimpin oleh satu orang ketua, satu orang sekretaris, dan satu orang bendahara. Dianggotai oleh sekurang-kurangnya 10 orang. Masing-masing departemen bertanggung jawab terhadap programnya masing-masing. Dengan demikian, masing-masing Departemen tahu betul apa yang harus dilakukan agar program-program organisasi berjalan dengan baik. Beban pertanggungjawaban masing-masing departemen dipegang oleh masing-masing Ketua Departemen. Sehingga masing-masing ketua yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap departemennya berlomba-lomba untuk bekerja sebaik mungkin, melahirkan inovasi-inovasi, dan berupaya sampai pada capaian-capaian yang masimal.

Dalam keadaan normal, masing-masing Departemen akan bersaing (positif) dan saling bersinergi menciptakan kemungkinan-kemungkinan terbaik bagi organisasi. Karena sudah sifat alami manusia diberikan kemampuan mengeksplorasi apa saja yang dihadapi. Tentu saja ketika akal, pikiran, dan hati yang bersangkutan diberi kepercayaan penuh untuk melakukannya. Tetapi jika hak-hak dasar itu dicabut, yang terjadi adalah sebaliknya. Pengurus-pengurus dan para anggota akan kehilangan gairah berpikir dan enggan melakukan eksplorasi. Akhirnya menyerah dan membiarkan semua hal yang mestinya diurus oleh mereka diurus oleh Ketua Umum. Ketua Umum dibiarkan langsung membuat konsep, peta pelaksaan, dan detail-detail lainnya.

Terdengar keren? Iya! Bagi orang-orang awam organisasi. Kadang orang-orang awam memang merasa keren sendiri. Misalkan suatu ketika ada seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun mendatangi sekumpulan aktivis mahasiswa. Sebagaimana lazimnya senior di depan junior, ia menceritakan apa yang sudah ia tempuh di masa lalu. Di antara sekian banyak cerita yang kelewat dibanggakan, dengan sangat gagah ia bercerita bahwa ia pernah menjabat sebagai Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di suatu universitas selama dua periode. Di dalam ceritanya, lelaki itu mengatakan bahwa jabatan tersebut menandakan ia memang orang yang dipercaya sebagai seorang pemimpin.

Memang terdengar gagah sekali. Presiden banyak juga yang dua periode, semisal SBY. Soeharto bahkan memimpin selama 32 tahun. Di Malaysia baru-baru ini, Mahathir Muhamamd atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tun M, tahun ini menjadi penanda Malaysia era baru karena terpilih kembali sebagai perdana menteri melalui Pakatan Harapan melawan rival beratnya, Barisan Nasional. Padahal sudah belasan tahun ia meninggalkan perpolitikan dan sebelum meninggalkan perpolitikan Malaysia ia pernah memimpin Malaysia selama 22 tahun.

Contoh-contoh di atas memang menunjukkan kekuasaan dan kepercayaan yang kuat, tapi tidak di dalam Badan Eksekutif Mahasiswa. Di dalam budaya Badan Eksekutif Mahasiswa, keberhasilan seorang Ketua BEM adalah melahirkan regenerasi yang matang untuk menggantikan kepemimpinannya. Ketika seorang Ketua BEM terlambat mendorong pengadaan pemilihan umum di kampus, apatah lagi hingga molor atau terpilih kembali hingga dua periode, itu adalah aib. Tetapi karena yang bersangkutan tidak menyadari konsep-konsep tersebut, diceritakanlah dengan bangganya. Ia tidak tahu, sepulangnya ia, para aktivis tertawa terbahak-bahak. Begitulah kelakuan pemimpin awam yang kelewat percaya diri.

Kembali pada Ketua Umum yang mengambil alih semua wilayah kerja Departemen. Begini, misalkan setiap Departemen memiliki 10 program kerja dalam satu tahun. Belum lagi kerja-kerja departemen di luar program kerja, dalam pengertian program yang muncul karena kondisi-kondisi tertentu. Lima departemen berarti memiliki 50 program kerja, belum dihitung kerja-kerja organisasi di luar program. Hendak pakai tangan, kaki, otak, dan hati yang mana untuk merumuskan dan melaksanakan 50 program kerja di dalam satu tahun? Gagah-gagahan boleh saja, tapi setidaknya akal sehat tetap dipakai.

Pada dasarnya cara memimpin yang demikian tidak sama sekali menguntungkan bagi pemimpin itu sendiri, apatah lagi bagi organisasi dan orang-orang di dalamnya. Tugas pemimpin bukan menguasai dan mengerjakan semua hal hingga pada hal-hal yang tidak dikuasai. Tugas pemimpin adalah menyerahkan tugas-tugas organisasi kepada ahlinya, memastikan bahwa orang-orang yang dipimpinnya memiliki kesempatan berkembangan, meletakkan sesuatu pada tempat yang tepat, memberikan kepercayaan penuh kepada yang perlu diberi kepercayaan, dan memantau jalannya roda organisasi secara umum agar tidak melanggar aturan-aturan keorganisasian.

Pemimpin di dalam sebuah organisasi bukan raja diraja yang harus disembahtuankan. Pemimpin adalah pelayan yang melayani setiap pengurus dan anggotanya dengan sebaik-baiknya. Pemimpin harus memperhatikan betul apa yang dibutuhkan oleh orang-orang yang dipimpin. Sedikit sekali kesempatan yang dimiliki oleh seorang pemimpin untuk memikirkan diri sendiri, karena semua kesempatan digunakan untuk memikirkan kepentingan orang banyak. Pemimpin tidak boleh haus penghormatan, karena pemimpin itu sendiri yang mesti mati-matian mengangkat harkat dan martabat orang-orang yang dimpimpinnya. Jika pun seorang pemimpin begitu dihormati, dicintai, dan dijunjung-junjung, bukan karena dibuat-buat atau pencitraan belaka, melainkan karena pegorbanan-pengorbanannya. Jika hal-hal mendasar tersebut dijadikan serba kebalikannya, ya, kiamat! (rois)

Editor : Happy Hawra

Related Articles

Berikan Komentar