Rois Rinaldi

Muhammad Rois Rinaldi: Aktivis Mahasiswa, Nasibmu Kini

Oleh Muhammad Rois Rinaldi

Di Facebook, di kedai kopi, dalam diskusi para elit, dalam puisi presenter televisi, dan sebagainya, aktivis mahasiswa makin hari makin dipertanyakan kehadirannya di tengah persoalan-persoalan Bangsa Indonesia. Karena aktivis mahasiswa seakan abstain, orang-orang kembali lagi mencoba mencari aktualisasi dari peranan aktivis mahasiswa sebagai agen perubahan (Agent of Change) dan agen kontrol sosial (Sosial of Control), sekaligus mempertanyakan, masih layakkah mengharapkan aktivis mahasiswa sebagai calon pememimpin masa depan (Iron Stock).

Sekilas-sekilas, pertanyaan dan keraguan tersebut layak lahir karena memang kenyataannya, kini, katakanlah dalam waktu 1 dekade terakhir, tidak ada catatan yang menunjukkan bahawa aktivis mahasiswa benar-benar memainkan peranan yang besar. Jika pun ada, hanya ledakan-ledakan kecil yang, kadang menjadi sasaran cemooh masyarakat awam yang tidak tahu menahu mekanisme pergerakan, sehingga dengan sangat mudah menilai tindakan para aktivis sebagai tindakan yang mengganggu ketertiban umum. Tetapi hal tersebut dikarenakan melihat keadaan dari permukaannya saja. Jika mau melihat lebih dalam, akan lain cara pandangnya.

Sudahlah dapat dipastikan, tidak ada asap jika tidak ada api. Jangan mengejar kemana arah asap, carilah titik api. Jangan meniup api di tengah daun-daun kering, padamkanlah dengan air. Jangan menyalah-nyalahkan jika tidak tahu di mana sebenarnya titik kesalahan. Jangan teriak-teriak menuntut mahasiswa melakukan sesuatu, sedangkan Anda sendiri tidak peduli apa permasalahan yang dihadapi aktivis mahasiswa. Jangan membuat kelemahan-kelemahan aktivis mahasiswa masa kini semakin tampak lemah dengan merendahkan peranannya, bantulah menjadi lebih kuat.

Maksud saya pada paragraf ketiga begini, semua orang yang bertanya dan sangsi terhadap peranan aktivis mahasiswa perlu terlebih dahulu mengetahui bahwa di dalam pergerakan masa kini, kawan-kawan dikepung oleh skema penguasaan kelompok-kelompok “berkepentingan” yang canggih dan nyaris tidak terbaca oleh mata orang awam. Tentu para pembaca mengerti maksud dari kata yang saya apit dengan tanda petik itu. Karena kecanggihannya pula, banyak aktivis yang mati sebelum lahir. Mereka dimobilisasi sejak awal, sebelum mengerti apa-apa, untuk bergabung dan bergerak di dalam organisasi yang sesungguhnya dibuat untuk mengendalikan pergerakan aktivis mahasiswa, termasuk mengendalikan sejak di dalam pikiran. Jika sudah sedemikian rupa, dapat dibayangkan generasi yang lahir selanjutnya akan seperti apa.

Selain itu, mulai tampak pergerakan aktivis lama yang turun gunung. Mereka juga ikut memobilisasi massa dengan cerita-cerita heroik masa lalu yang membuat “orang-orang baru” terpukau dengan mulut yang menganga. Mereka berbicara tentang bagaimana mestinya bergerak. Seolah-olah mereka hadir sebagai orang-orang yang peduli pada nasib pergerakan yang dipandang mati suri, tapi di balik itu, sesungguhnya mereka berafiliasi dengan “kepentingan”, bahkan mereka adalah orang-orang “yang berkepentingan” itu sendiri. Tujuan utamanya: mendapatkan dan mempergunakan massa sesuai kepentingan.

Ada juga beberapa kampus yang melarang organisasi mahasiswa eksternal eksis di dalam kampus. Di dalam kampus hanya boleh ada BEM/Dema/sejenisnya. Alasannya ketertiban. Entah bagaimana memahami ketertiban dalam hal ini. Sedangkan BEM kadang harus berhadap-hadapan langsung dengan kebijakan-kebijakan akademik yang kadang bertangan besi atau halusnya, mengikat. Dengan demikian, kesempatan bersikap lebih merdeka ada di bawah bendera organisasi eksternal, inilah yang dilarang masuk kampus.

Pada kenyataan lain, kiranya tidak perlu malu-malu untuk melihat bagaimana kampus-kampus menerapkan aturan yang sangat ketat terkait pergerakan aktivis mahasiswa. Ada yang disebabkan karena pemikiran yang menganggap menjadi aktivis adalah pilihan yang buang-buang waktu sehingga aspek akademik terbengkalai. Pada keadaan yang demikian, lebih mudah, karena masih mungkin diajak bicara dan diberi pemahaman. Tetapi ada yang membuat aturan-aturan ketat terhadap pergerakan aktivis mahasiswa lantaran petinggi kampusnya adalah simpatisan “kepentingan”. Kampus “diamankan” agar secara perhalan tapi pasti, kampus dan seluruh manusia di dalamnya dalam diarahkan kepada “kepentingan” para petingginya. Tidak heran jika mereka cenderung represif terhadap suara mahasiswa yang tidak sejalan dan tidak sehaluan dengan “kepentingan” yang membelakangi petinggi kampus.

Aktivis mahasiswa dalam permainan-permainan itu dijebloskan di dalam kerangkeng tidak terlihat. Seolah tidak ada apa-apa, tapi ada apa-apa. Seolah merdeka, tapi terpenjara.

Jika kenyataan-kenyataan itu gagal ditangkap atau bahkan tidak dipedulikan sama sekali oleh orang-orang yang bertanya dan sangsi terhadap peranan aktivis mahasiswa, berarti memang tidak sungguh-sungguh memiliki niat yang baik ingin melihat pergerakan aktivis mahasiswa menemukan harga dirinya kembali. Sehingga menjadi wajar dan tidak perlu terlalu dipikirkan ketika kebanyakan orang dengan tergesa-gesa menyalahkan aktivis mahasiswa masa kini sambil membanding-bandingkan dengan aktivis masa lalu. Karena pada dasarnya perbandingan tersebut adalah perbandingan yang barbar: Melakukan perbandingan umum antara aktivis masa kini dan masa lalu tanpa melihat bagaimana keadaan yang melingkupi, mendidik, dan memungkinkan kelahiran-kelahiran mereka sebagai seorang atau sekelompok aktivis (mahasiswa).

Saya tidak sama sekali membantah atau berseberangan dengan pendapat yang mengatakan bahwa tugas mahasiswa adalah belajar. Tetapi belajar yang bagaimana yang dimaksud? Selama ini, berdasarkan pengamatan saya, kebanyakan masyarakat menginginkan mahasiswa belajar dengan baik di bangku kelas sampai mendapatkan nilai cum laude. Nilai cum laude memang perlu diperjuangkan, tapi bukan satu-satunya aspek menilai keberhasilan seorang mahasiswa. Coba perhatikan dengan seksama, tidak sedikit mahasiswa yang lulus dengan nilai cum laude, tapi gagap menghadapi realitas kehidupan yang dihadapkan kepada dirinya. Mereka gagap ketika harus berhadap-hadapan dengan hajat masyarakat di lingkungan hidup mereka sendiri. Ini juga masalah. Ini juga persoalan.

Tentu semua orang pernah mendengar bahwa setiap manusia memiliki potensinya sendiri-sendiri. Ada yang sangat cerdas dalam bidang matematika, tapi minim dalam bidang seni, begitu juga sebaliknya. Itu berlaku pada semua manusia dan mahasiswa juga manusia. Mereka tidak dapat diwajibratakan menjadi mahasiswa-mahasiswa yang berakhir dengan nilai cum laude. Sekali lagi, saya tidak sama sekali membantah kewajiban belajar di bidang akademik karena itu juga kewajiban, tapi jangan mengesampingkan aspek-aspek lain yang juga bagian dari pembelajaran, termasuk belajar melalui jalan keaktivisan. Hasil-hasilnya juga nilai, meski tidak ditulis di dalam lembaran kertas.

Kalau semua anak bangsa lulusan perguruan tinggi di negeri ini tidak memiliki kebebasan belajar di jalan keaktivisan, akibatnya berbahaya. Akan lahir pemimpin-pemimpin yang hanya tahu soal buku, bangku kampus, dan teori-teori, sementara teori-teori itu tidak akan dapat memenuhi kebutuhan pengalaman seorang manusia. Begitu juga ketika memimpin suatu bangsa memerlukan pengalaman “kepemimpinan”, setidaknya pengalaman mengurusi urusan orang banyak, memerjuangkan kepentingan umum, membuat strategi, dan menjalankan taktik dalam menjaga visi dan harga diri organisasi. Tanpa pengalaman-pengalaman tersebut, akan lahir pemimpin yang tidak dapat menjaga visi dan harga diri bangsa sendiri.

Oleh karenanya, tidak etis memosisikan mahasiswa sebagai yang lebih rendah dari anak SD. Anak SD saja diajari belajar di luar kelas, misalkan dengan cara mengikuti ekstra kulikuler Pramuka. Anak-anak SD juga secara perlahan diajarkan bergaul dengan teman dan memecahkan masalah nyata yang terjadi antarteman. Sekarang, mahasiswa seolah-olah dianggap ideal jika ia datang ke kampus, duduk manis di kelas, belajar, pulang, belajar lagi di rumah, tidur, dan bangun untuk kuliah lagi. Tidak peduli ada apa di luar rutinitas perkampusan. Saya pikir, tidak sesempit itu memahami proses belajar, apatah lagi proses belajar seorang mahasiswa.

Barangkali inilah nasib aktvis mahasiswa masa kini. Tetapi saya tidak hendak menjadikan ini sebagai pembelaan sepenuhnya bagi para aktivis mahasiswa untuk menerima keadaan sebagai takdir yang tidak dapat diubah. Menyikapi ini, kawan-kawan aktivis mahasiswa memang tidak perlu keder, tapi juga tidak boleh bersantai main game sambil sendawa. Pertanyaan harus segera dijawab. Kesangsian haru segera dibungkus. Lakukan sesuatu!

Tentu saya tidak perlu bicara terlalu banyak mengenai bagaimana seorang aktivis mesti bergerak dan apa yang mesti dilakukan. Setiap zaman memiliki tantangan sendiri dan setiap tantangan harus dihadapi dengan cara yang sesuai dengan zamannya.
Sebagai penutup, saya hadiahkan sajak yang saya tulis ketika masih benar-benar berada di dalam dunia aktivis, meski hingga hari ini saya tidak merasa pernah meninggalkan dunia aktivis, meski posisi badan telah berubah dan kesempatan menjadi berbeda.

Konsolidasi

Kawan-kawan,
para penjaga barisan pertama.
Mau tidak mau dan suka tidak suka
kita kembali membicarakan
persoalan yang ini dan ini juga.
Memang mejemukan!
Harapan kita berpendaran
di bawah lampu masa depan
yang remang-remang.
Hidup kita dalam was-was saban hari
karena telinga kita selalu mendengar
dengus napas orang-orang kalah
yang terhimpit berkas mafia proposal,
MoU terselubung, obligasi, dan penggusuran.
Mata kita tidak bisa benar-benar terpejam
karena kita selalu dihantui
kelebat bayang orang-orang culas
yang menebar tipu daya
di antara orang-orang lugu.
Ketika manusia dan kesibukan
pulas dalam gema mimpi
kita berjaga demi apa yang kita sebut:
jalan perlawanan!
Kita sudah tidak punya waktu
untuk bertanya, mengapa
karena kita telah sepakat menerima
jalan ini sebagai takdir!

Sekarang sudah pukul tiga,
sebentar lagi subuh.
Semua suara sudah didengar dan dicatat.
Kita sama mengerti apa yang kita kehendaki
dan kita di sini tidak ada tujuan
adu kecerdasan.
Jadi, kita cukupkan semua perdebatan
dan segera bikin kesepakatan.
Tetapi sebelumnya,
kita harus singkirkan para pengkhianat!
Sudah terlalu lama kita membiarkan
mereka berada di sini sambil bermain mata
dan mengirim pesan singkat
kepada orang-orang yang kita tandai
sebagai lawan.

Kawan-kawan,
bukan maksud saya bikin rusuh.
Tetapi kita tahu betul,
aktivis-aktivis lacur semacam itu
adalah racun ganas bagi napas pergerakan;
adalah lintah yang menghisap darah kita;
adalah borok akut
yang harus segera diamputasi.
Sekarang kita tidak perlu sungkan.
Tidak perlu segan.
Segera periksa!
Jangan lantaran perasaan yang lemah
kita terus menerus mau dipecundangi.
Ini bukan soal siapa
tega mengganyang kawan sendiri
atau siapa tidak menaruh iba
kepada sesama manusia.
Sebelum terlalu jauh
dan cita-cita kita kembali sia-sia
kita harus bersihkan
kita punya jalan.
Atas nama kemanusiaan
kita mesti memperlakukan manusia
sebagai manusia:
lempar anjing ke jalanan!

Kawan-kawan,
sekarang kita tidak saja menghadapi
kesinisan orang-orang awam
tapi juga keculasan aktivis-aktivis tua.
Mereka yang sudah keropos dan pikun
memilih duduk manis
menjaga kursi kekuasaan
sambil membaca gerak-gerik kita.
Sebagian mereka masih bergerilya.
Mereka mengumpulkan orang-orang lugu
atas nama pergerakan dan perlawanan.
Tetapi kita tahu mereka datang
tidak untuk mengantarkan kita
kepada keberanian yang lebih.
Bukan untuk mendidik kita
menjadi para petarung.
Mereka datang untuk membuat peta baru,
membubarkan barisan orang-orang lurus.
Setelahnya, mereka berpesta
di bawah ketiak partai politik.
Merekalah yang membuat rakyat sinis
kepada apa pun yang kita lakukan.
Tetapi janganlah sampai gugup,
kita masih punya jalan.

Kita harus jaga jarak
dari setiap penciuman, penglihatan,
dan pendengaran mereka.
Kita mesti mendirikan kemah
di kampung-kampung.
Selamatkan anak-anak dari jebakan
media sosial dan buku-buku
yang mengajarkan sejarah palsu;
bangunkan pemuda dari halusinasi
kemerdekaan kaum buruh;
dan palingkan wajah ibu-ibu
dari gosip dan omong kosong sinetron.
Guncanglah sukma para tetua
yang telah lama memilih diam.

Kita ajak mereka membaca dari Z ke A
atau dari M ke A lalu ke Z.
Manuver-manuver masa kini,
manuver tingkat tinggi.
Jangan biarkan mereka membaca apa pun
dengan cara biasa.

Kawan-kawan, kita duduk di sini,
bicara dan bikin kesepakatan
tidak untuk memanjangkan keluh kesah.
Maka pastikanlah, kawan-kawan siap
menghadapi penderitaan.
Orang-orang malas dan cengeng
silakan tinggalkan barisan.
Pulanglah ke rumah. Bacalah puisi
tentang rengek orang-orang kasmaran
hingga kalian tertidur nyenyak.
Sebelumnya, jangan lupa cuci tangan
dan minum susu kaleng.
Karena orang-orang malas dan cengeng
adalah benalu bagi keteguhan
pergerakan kita.

Zaman bergerak,
satu persatu penguasa tumbang dan berganti.
Tetapi kekuasaan yang semena-mena
belum hengkang.
Jangan gampang lelah.
Kita harus meneruskan perlawanan.
Tetapi kita tidak boleh tampil polos.
Tidak boleh lagi tergesa-gesa.
Orang-orang polos yang tergesa-gesa
mudah ditebak arah anginnya.
Mudah ditaklukkan dengan satu telunjuk.
Begitu banyak topeng.
Begitu banyak jebakan.
Kita mesti memastikan bagaimana
dan di mana mesti memulai.

Kawan-kawan, kita harus pastikan:
tidak satu setan pun dapat mendengar
derap kaki kita.

Catatan Mahasiswa Banten, 2012

Cilegon, 2018


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi


Muhammad Rois Rinaldi, Ketua Persatuan OSIS se-Kabupaten Serang (2007/2008), Pendiri Rumah Baca BAI (2007), Sekretaris Bidang Sosbud Himpunan Mahasiswa & Pelajar Cilegon (2008/2012), Pendiri Ikatan Keluarga BEM Cilegon (2012), Sekjen Dewan Kesenian Cilegon (2012/2016), Presiden Lentera Sastra Indonesia (2014/2018), dan Koordinator Gabungan Komunitas Sastra ASEAN (2016-sekarang).

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar