InspirasiKabarTerkini

Ristadi: Pidato Umum Menyoal TKA dan Investasi Asing di Depan Sidang Majelis ILO – PBB

JENEWA, SWISS, biem.co – Selaku Ketua Delegasi Konfederasi Serikat Pekerja Nasional – Indonesia, Ristadi diberikan kesempatan menyampaikan pidato umum di depan Majelis Sidang ILO – PBB, yang dihadiri sekitar 187 Negara. (4/6/2018)

Berikut intisari pidato tersebut;

Saya, Ristadi, mewakili seluruh konfederasi serikat pekerja di indonesia yang juga sebagai anggota Tripartite nasional sebagai delegasi Konfederasi Indonesia. Ada KSPSI, KSBSI, KSPI dan K-SARBUMUSI.

Pertama-tama, kami ingin mengklarifikasi, bahwa Liberalisasi Pasar Tenaga Kerja untuk beberapa perluasan telah menciptakan masalah pada pekerja migran asing yang memasuki suatu negara tanpa dokumen yang tepat. Ini juga terjadi di Indonesia. Oleh karena itu kami mengingatkan pemerintah kami untuk secara konsisten menerapkan aturan dalam menerima pekerja asing dan menindak siapapun yang ilegal. Kami juga meminta pemerintah kami untuk mengutamakan Pekerja Indonesia, karena masih banyak orang Indonesia yang menganggur.

Itu pernyataan kami. Jadi, tidak benar jika Serikat Pekerja Indonesia menolak pekerja asing atau investasi asing.

Kita tentu mengerti bahwa setiap negara dalam mengeluarkan kebijakan memprioritaskan kepentingan negara dan rakyatnya, dan tentu saja kita semua tahu bahwa setiap negara mewajibkan orang asing yang datang untuk mematuhi peraturan negaranya, termasuk Indonesia. Oleh karena itu silakan datang ke Indonesia, kami akan menyambut dengan baik, tetapi tunduklah aturan negara kami.

Setelah membaca laporan dari Direktur Jenderal ILO, saya setuju dan menghargai komitmen ILO untuk kesetaraan bagi semua. Dan Indonesia juga memiliki komitmen yang kuat terhadap kesetaraan dengan meratifikasi konvensi ILO 111 sejak 1999.

Berfoto bersama delegasi beberapa negara anggota PBB

Kesetaraan di negara-negara timur masih dalam proses pembiasaan. Apapun sistem pemerintahannya, nilai-nilai budaya timur masih berpengaruh terhadap kehidupan kita meskipun tidak begitu dominan dalam masyarakat Indonesia. Tapi, ini masih menjadi salah satu tantangan kami.

Kesetaraan bukan hanya tentang perbandingan angka, tetapi tentang akses, partisipasi, keterlibatan dengan proses pengambilan keputusan atau kontrol dan manfaat. Strategi aksi protektif dan afirmatif seperti saran ILO harus terus didorong untuk menghilangkan diskriminasi. Dukungan program teknis dari ILO tentu saja kami harapkan untuk dapat terus mempromosikan kesetaraan di Indonesia.

Selain kesetaraan, bagi kami, komitmen untuk menghentikan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja adalah bagian penting dari perjuangan kami untuk pekerjaan yang layak, upah yang layak dan kehidupan yang layak, salah satunya melalui strategi memperkuat dialog sosial.

Perkembangan dunia industri dan dunia kerja dari satu negara terkait dengan negara lain. Karena itu harus ada komitmen bersama dan solidaritas dalam menghadapi perkembangan situasi global.

Terakhir, oleh karena itu kami meminta semua serikat pekerja di dunia untuk menjaga solidaritas untuk mewujudkan pekerjaan yang layak, upah yang layak dan hidup layak untuk semua.

Terima kasih banyak atas perhatianya. (Ist)

Sumber: Facebook Ristadi

Editor : Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar