Inspirasi

Kultum bersama Imam al-Ghazali: Tentang Peminta-minta

“Barang siapa meminta-minta, padahal ia memiliki makanan pokok untuk satu hari, itu sama halnya telah merampok orang-orang lemah dan miskin.”

BARANG SIAPA MEMINTA_MINTA, padahal ia memiliki makanan pokok untuk satu hari, itu sama halnya telah merampok orang-orang lemah dan miskin. Barang siapa berniat mencari akhirat, Allah akan menempatkan kekayaannya di dalam hati dan menjadikannya sebagai orang kuat, sementara dunia akan mendatanginya dengan suka rela. Dan siapa yang bertujuan mencari dunia maka Allah akan meletakkan kefakiran di depan matanya, kekuatan dan urusannya pun tercerai berai.

Tidak ada dunia yang datang kepadanya selain yang sudah ditentukan untuknya. Barang siapa membuat perhatiannya menjadi satu, Allah mencukupinya dalam urusan dunia maupun akhirat. Barang siapa perhatiannya bercabang-cabang maka Allah tidak peduli di lembah manakah ia binasa. Seluruh dunia dari awal hingga akhir tak bisa menyamai satu kesedihan, terlebih umurnya yang pendek, sementara dunia yang kau raih hanya sedikit.

Selain itu, barang siapa ridha terhadap apa yang telah dibagikan Allah kepadanya maka Allah akan memberkahi apa yang telah dianugerahkan dan melapangkannya. Siapa yang tak mau meminta-minta berarti ia telah diberi anugerah terbaik.

Siapa pun yang kaubutuh terhadapnya maka rendahlah engkau di hadapannya. Jika engkau ingin hidup bebas, jangan membiasakan untuk berharap kepada yang lain, dan teguhlah dalam sifat qana’ah. Lantas, bagaimana bisa orang bebas yang mencari (murid) merendahkan diri kepada hamba, sedang ia telah menemukan segala yang ia temukan di sisi Tuannya.

Sekiranya seseorang mengetahui apa yang ada dalam tindakan meminta-minta, tak seorang pun yang akan melakukan tindakan tersebut. Sebaliknya, andaikan orang-orang mengetahui apa yang terdapat dalam hak orang yang meminta-minta, tentulah mereka tak akan pernah menolak orang yang meminta kepadanya. Tak seorang pun meminta hajat kepada seseorang, dikabulkan atau tidak, melainkan harga dirinya telah jatuh selama empat puluh hari.

***

*) Naskah diambil dari buku “Taman Kebenaran; Sebuah Destinasi Spiritual Mencari Jati Diri Menemukan Tuhan” yang diterbitkan Turos. Terjemahan singkat dari Kitab Raudhatu ath-Thalibin wa ‘Umdatu as-Salikin karangan Imam al-Ghazali. Penerjemah: Kaserun AS. Rahman.



Editor : Jalaludin Ega

Related Articles

Berikan Komentar