Skriptoria

Skriptoria: Bumi di Ambang Kepunahan Massal, dan Kita Masih Sibuk Bertikai

Peringatan Ilmuwan Dunia untuk Kemanusiaan

Skriptoria: Jalaludin Ega (Pimpinan Redaksi)

Meski pada judul tulisan terdapat kalimat “Kita Masih Sibuk Bertikai?”, tulisan ini sungguh tidak ada hubungannya dengan proses Pilkada atau Pilpres, ‘Projo’ atau ‘Prowo’. Hanya saja, ketika membaca makalah ini, saya merasa harus membagikannya dan mengingatkan kita semua yang sibuk dengan aktivitas politik; baik secara aktif atau sekedar meramaikan, pro-koalisi atau pro-oposisi, untuk juga melirik soal lain yang tak kalah penting bahkan lebih penting yang mengancam spesies di bumi secara global.

Para ilmuwan dunia sedang sibuk bagaimana mengatasi kepunahan massal bumi. Akan terasa ‘norjik’ dan tak beradab jika kita masih sibuk dengan aktivitas serang sana-sini, sikut sana-sini, sebar hoax sana-sini, hanya untuk kepentingan pribadi atau segelintir orang yang durasinya juga hanya bertahan lima tahunan.

Mendukung salah satu calon dalam pilkada atau pilpres sangat sah menurut undang-undang, akan tetapi, sebagai penduduk dunia (khalifah) kita juga harus terlibat menjaga bumi dari segala kerusakan dan ancaman kepunahan massal. Selamat membaca dan selamat diambang kepunahan.


biem.co – Lebih dari 15.000 ilmuwan dari 184 negara telah mengeluarkan peringatan: “Umat manusia harus segera bertindak untuk membalikkan dampak perubahan iklim, penggundulan hutan dan kepunahan spesies sebelum terlambat.”

Peringatan ini dikeluarkan oleh Alliance of World Scientists dalam bentuk makalah dan dipublikasikan di jurnal Bioscience, untuk memperingati berdirinya Alliance of World Scientists ke 25, dengan menerbitkan makalah yang berjudul “Peringatan Ilmuwan Dunia untuk Kemanusiaan”.

Pada peringatan ini, para ilmuwan melihat kembali dan mengevaluasi respon dengan mengeksplorasi data time-series yang ada, terutama lintasan terkini dari perubahan iklim yang berpotensi menimbulkan bencana karena meningkatnya gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil (Hansen et al 2013), penggundulan hutan (Keenan et al., 2015), dan produksi pertanian, terutama dari ruminansia pertanian untuk konsumsi daging (Ripple et al 2014). Selain itu, para ilmuwan juga telah memprediksikan sebuah peristiwa kepunahan massal, dimana banyak bentuk kehidupan saat ini dapat musnah atau setidak-tidaknya berpotensi punah pada akhir abad ini.

Makalah yang diterbitkan ini menguraikan beberapa massalah lingkungan paling mendesak di dunia, yang sebagian besar memburuk sejak tahun 1992. Berikut abstraksinya:

Penurunan ketersediaan air tawar – Ketersediaan air tawar per kapita kurang dari separuh sejak tahun 1960an. Kemungkinan perubahan iklim akan memiliki dampak yang luar biasa pada ketersediaan air tawar melalui perubahan siklus hidrologi dan ketersediaan air.

Perikanan yang tidak berkelanjutan – Pada tahun 1992, jumlah tangkapan ikan laut dinilai tidak berkelanjutan. Ini pertanda bahwa populasi ikan juga berada di ambang kehancuran. Tingkat penangkapan global telah menurun, meskipun upaya penangkapan ikan meningkat.

Zona laut mati – Zona mati pantai yang (terutama) disebabkan oleh limpasan pupuk dan penggunaan bahan bakar fosil telah membunuh sebagian besar populasi laut. Zona mati dengan perairan hipoksia yang kekurangan oksigen, merupakan penyebab utama sistem kelautan yang teridentifikasi meningkat secara drastis sejak tahun 1960an, dengan lebih dari 600 sistem yang terkena dampak pada tahun 2010.

Penggundulan hutan – Hutan sangat penting untuk melestarikan karbon, keanekaragaman hayati, dan air tawar. Antara tahun 1990 dan 2015, total luas hutan menurun dari 4.128 menjadi 3.999 juta ha. Dunia kehilangan sekitar 129 juta ha yang kira-kira seukuran Afrika Selatan.

Berkurangnya keanekaragaman hayati – Keanekaragaman hayati dunia lenyap pada tingkat yang mengkhawatirkan dan populasi spesies vertebrata dengan cepat berkurang (World Wildlife Fund 2016). Secara kolektif, ikan, amfibi, reptil, burung, dan mamalia menurun sebesar 58% antara tahun 1970 dan 2012.

Perubahan iklim – Emisi karbon dioksida bahan bakar fosil global telah meningkat tajam sejak tahun 1960. Sehubungan dengan suhu permukaan tahunan rata-rata tahunan 1951-1980, sejajar dengan emisi CO2, juga meningkat dengan cepat seperti yang ditunjukkan oleh anomali suhu rata-rata 5 tahun. 10 tahun terpanas sejak 136 tahun telah terjadi sejak tahun 1998.

Pertumbuhan penduduk – Sejak tahun 1992, populasi manusia telah meningkat sekitar 2 miliar individu, meningkat sekitar 35%. Populasi manusia di dunia tidak mungkin berhenti tumbuh abad ini, bahkan ada kemungkinan semakin tinggi. Populasi dunia akan tumbuh dari 7,2 billon orang sekarang menjadi antara 9,6 dan 12,3 miliar pada tahun 2100.

Makalah ini juga menjelaskan bagaimana tingkat global penipisan ozon telah meningkat sejak tahun 1992. Upaya mengatasi hal ini yang paling efektif adalah melakukan pelarangan bahan kimia perusak ozon.

Meningkatnya Populasi Kelas Menengah – satu faktor yang dapat memperburuk masalah lingkungan secara global adalah pertumbuhan populasi – khususnya kelas menengah yang sedang berkembang. Meskipun kelas menengah yang tumbuh dengan cepat meningkatkan standar kehidupan di seluruh dunia, tapi ia membutuhkan banyak biaya. Menurut Eileen Crist, profesor di Departemen Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Virginia Tech, menjelaskan kepada CBC News;

“Kemunculan pesat kelas menengah global, yang kini lebih dari tiga miliar orang di dunia dan diperkirakan akan terjadi pada tahun 2050 atau lebih, meningkat menjadi lima miliar orang … Perhatian utamanya bukanlah jumlah populasinya, melainkan dampak yang ditimbulkannya.”

Dampak itu bersumber dari apa yang dikonsumsi dan bisa dibeli oleh kelas menengah: peralatan, mobil, perjalanan, lebih banyak daging. Peningkatan konsumsi ini menimbulkan ancaman signifikan terhadap keanekaragaman hayati.

“Kita berada dalam pergolakan peristiwa kepunahan massal yang bersifat antropogenik,” kata Crist. “Ini bukan sesuatu yang bisa kita perbaiki jika kita kehilangan 50 sampai 75 persen spesies di planet pada abad ini.

Apa yang bisa kita lakukan?

Para ilmuwan mengajukan lima solusi luas untuk krisis ini:

  1. Kita harus meminimalisir aktivitas yang merusak lingkungan. Setiap orang harus, misalnya, mengganti bahan bakar fosil ke sumber energi yang lebih jinak dan tak habis-habisnya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan polusi udara dan air kita. Prioritas harus diberikan pada pengembangan sumber energi yang sesuai dengan kebutuhan dunia ketiga – skala kecil dan relatif mudah diterapkan. Kita harus menghentikan deforestasi, luka dan hilangnya lahan pertanian, dan hilangnya spesies tumbuhan darat dan laut.
  2. Kita harus mengelola sumber daya yang penting bagi kesejahteraan manusia secara lebih efektif. Memberikan prioritas tinggi untuk penggunaan energi, air, dan bahan lainnya secara efisien, termasuk perluasan konservasi dan daur ulang.
  3. Kita harus menstabilkan populasi. Ini akan mungkin terjadi hanya jika semua negara menyadari bahwa hal itu memerlukan kondisi sosial dan ekonomi yang lebih baik, dan penerapan perencanaan keluarga yang efektif dan sukarela.
  4. Kita harus mengurangi atau menghilangkan kemiskinan. “Saya yakin kita benar-benar harus memiliki tujuan berani untuk negara kita,” kata direktur The Earth Institute Jeffrey Sachs. “Pada 2030 mari kita mengurangi kemiskinan setidaknya setengahnya.”
  5. Kita harus memastikan kesetaraan seksual, dan menjamin kontrol perempuan atas keputusan reproduktif mereka sendiri. “Sehiingga perempuan dan anak perempuan menjadi lebih terdidik, mereka memiliki lebih sedikit anak, dan anak-anak memiliki lebih banyak memiliki sumber daya sehingga mereka lebih diperhatikan dan lebih berhasil,” kata Bill Nye. “Jadi apa yang ingin kita lakukan, di dunia saya di sini dalam pendidikan, adalah, membuat wanita dan anak perempuan di seluruh dunia berpendidikan sebaik mungkin secepat mungkin, sehingga akan ada lebih banyak sumber daya per orang di tahun-tahun ke depan.”

Karena diantara lima solusi tersebut tidak ada larangan untuk ‘bertikai membela calon kepala daerah atau calon presiden’, maka silahkan lanjutkan pertikaiannya! (EJ)

Editor : Jalaludin Ega

Related Articles

Berikan Komentar