Opini

Agung Setiyo Wibowo: Menjadi Politisi Millennial Idaman

Oleh: Agung Setiyo Wibowo

“Tidak ada kawan maupun musuh abadi. Yang ada adalah kepentingan abadi”. Ungkapan ini mungkin terdengar begitu klise bagi sebagian kita. Namun, memang begitulah adanya. Ia tidak lekang dimakan zaman.

Politik memang tidak bisa dilepaskan dari kepentingan. Siapapun yang berjuang di ranah ini, seyogyanya menjadikannya sebagai “kendaraan” untuk mewujudkan cita-citanya – bukan tujuan akhir.

Saya sebut “kendaraan” karena tujuan politik itu sendiri ialah tidaklah tunggal. Idealnya, ia dijadikan “ladang” untuk mengabdi kepada Tuhan. Dengan cara memberikan solusi, menciptakan nilai tambah, melayani sesama, dan membantu kehidupan orang banyak. Itu semua dikristalkan dalam berderet luaran dari yang berbentuk undang-undang, kebijakan, hingga program-program.

Karena politik hanyalah kendaraan, politisi idaman tidak menjadikannya sebagai satu-satunya sumber penghidupan. Ia justru dimanfaatkan sebagai “jalan tol” untuk memperjuangkan cita-cita bangsa yang telah terpatri dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Sayangnya, dalam konteks kekinian tidak mudah mendapati politisi idaman. Mungkin bisa dianalogikan dengan mencari jarum dalam tumpukan sekam. Pasalnya, bisa dibuktikan dengan tiada hentinya KPK menjerat para pemimpin daerah yang korup. Mereka ialah potret orang-orang yang menjadikan politik sebagai tujuan akhir. Menghisap uang rakyat dengan jubah agama, dan merampok aset negara dengan segala cara.

Sebagai generasi yang sangat melek teknologi, sudah sepantasnya millennial bisa membedakan mana politisi busuk dan mana politisi idaman. Kategori pertama dengan mudah diidentifikasi karena mereka telah “diwakili” oleh para politisi yang sekarang ada di balik jeruji. Mereka sering “memainkan” proyek untuk kepentingan pribadi dan golongan, tidak banyak prestasi selama mengemban amanah, dan pada umumnya hanya licik dalam mengambil hati rakyat.

Millennial adalah harapan bangsa. Mereka ialah agen perubahan sesungguhnya untuk menyongsong Indonesia Emas 2045 – tepat seabad pasca kemerdekaan. Suatu fase yang disebut-sebut akan menempatkan negeri ini di peringkat lima besar ekonomi dunia. Suatu periode yang hanya bisa dicapai jika bonus demografi dimanfaatkan dengan benar.

Dalam kacamata saya sebagai People Developer, ada beberapa pesan yang harus saya sampaikan kepada para calon politisi millennial idaman.

Pertama, mengenali diri sendiri. Sebelum benar-benar terjun ke ranah politik, langkah ini tidak bisa dilewati. Anda harus mengerti betul kekuatan, minat, bakat, passion, dan cita-cita diri sendiri. “Selesai dengan diri sendiri” ialah kunci sebelum menjadi pelayan masyarakat paripurna.

Kedua, menemukan panggilan hidup. Politik hanyalah salah satu cara untuk bermanfaat kepada orang lain. Karena untuk merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik bisa dilakukan dari berbagai cara. Oleh karena itu, tanyalah diri Anda sendiri. Mengapa Anda ingin terjun ke politik praktis? Apa yang benar-benar Anda gelisahkan dalam politik Indonesia? Apa yang betul-betul Anda cari dan perjuangkan sebagai politisi? Di antara berderet masalah yang mendera bangsa ini, apa sektor yang akan Anda prioritaskan untuk dibenahi?

Ketiga, merayakan kemajemukan. Karena NKRI harga mati, hanya Pancasila yang mampu menjadi bentengnya. Oleh karena itu perbedaan adalah rahmat, bukanlah kutukan. Itu mengapa ia ada untuk dirayakan, bukan dicari-cari segala cara untuk menambah masalah.  Menyadari hal ini, inklusifitas tidak bisa ditawar lagi. Politisi millennial harus benar-benar menjadi pribadi yang terbuka, progresif, dan memandang keragaman sebagai modal untuk mengantar kejayaan negeri.

Keempat, memahami konteks glokal. Artinya, politisi millennial tidak hanya dituntut untuk berwawasan global, namun juga wajib memahami kearifikan lokal. Suka tidak suka, mau tidak mau, globalisasi tidak bisa  dihindarkan; itu mengapa menjadi pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah dengan konteks lokal menjadi keharusan. Untuk itu, membangun jejaring internasional demi kepentingan lokal menjadi kuncinya. Karena itu, membaca hikmah tersurat dan tersirat menjadi pedoman. Karena dewasa ini dan ke depannya, sinergitas atau kolaborasi ialah “panglima” bukan semata-mata kompetisi dalam arti sempit.

Kelima, memiliki mentor. Memang benar, terjun langsung di lapangan ialah kunci untuk sukses di bidang apapun. Namun, memiliki mentor secara beriringan akan bisa menjadikan Anda lebih bernilai. Pasalnya, seorang mentor lebih dahulu menyelami ranahnya. Itu mengapa dengannya, Anda bisa mempelajari best practices, lessons learned, dan unique insights yang mungkin tak dapat didapatkan dari buku. Yang lebih penting lagi, Anda bisa mengambil pelajaran dari kesalahannya agar tak jatuh di lubang yang sama. Jadi, tentukan segera “siapa saja mentor politisi Anda?”

Keenam, merancang obituari. Menjadi politisi rata-rata memang mudah, namun menjadi politisi idaman butuh perjuangan ekstra secara lahir maupun bathin. Oleh karena itu, sebelum mematok target setinggi langit, ada baiknya Anda untuk merancang obituari. Anda bisa berimaginasi dengan perjalanan hidup Anda sendiri, masalah-masalah yang ingin Anda selesaikan, orang-orang yang ingin Anda layani, prestasi yang ingin Anda torehkan, dan bagaimana Anda ingin dikenal oleh dunia. Mungkin ini terkesan idealis, namun tidak ada salahnya dicoba. Karena kata orang; nasib kita dimulai dari pikiran, bukan?

Di luar dari enam poin di atas, sebenarnya masih ada berderet pesan lain yang ingin saya sampaikan untuk para calon politisi millennial idaman. Namun yang pasti, apapun ambisi yang Anda miliki, saya sarankan berpijak pada tiga kata: Be, Do, dan Have. Becoming yang diwakili oleh “Why” berarti misi hidup, mengapa ingin menjadi politisi dan apa motivasi terkuat dari dalam diri. Doing yang diwakili oleh “How” berarti apa saja yang harus Anda lakukan untuk mencapai misi, itu mengapa disebut dengan strategi. Oleh karenanya, ini bersifat fleksibel karena menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Kata kuncinya ialah cara, jalan, dan bagaimana. Having yang diwakili oleh “What” merupakan akibat dari upaya yang Anda kerahkan. Dalam kamus manajemen, bisa diartikan sebagai prestasi baik yang terlihat maupun tidak.

Akhir kata, hidup ialah memilih. Tapi untuk dapat memilih dengan baik, Anda harus tahu siapa diri Anda. Untuk apa Anda ada. Ke mana Anda ingin pergi. Dan mengapa Anda ingin sampai di sana. Selamat berjuang sababatku politisi millennial idaman!


Agung Setiyo Wibowo adalah Self-Discovery Coach, konsultan, penulis, dan pembicara publik. Ia telah menulis 12 buku dan lebih dari 700 artikel yang tersebar di jurnal ilmiah, surat kabar, majalah dan new media. Pernah berbicara di 20 kota populer di Indonesia dan 10 kota di Asia-Pasifik. Buku terbaru yang akan diterbitkannya berjudul Sabbatical: Petualangan Menemukan “Diri Yang Hilang”.


Rubrik ini diasuh oleh Fikri Habibi.


Editor: Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Back to top button