KabarTerkini

Pasca Tsunami Selat Sunda, BMKG Pasang 26 Alat Sensor Water Level di Indonesia

biem.co – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dibantu oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) memasang alat ukur ketinggian air “water level” di Dermaga Pulau Sebesi, Lampung Selatan pada Kamis (3/1) lalu.

Melansir dalam laman resmi BMKG, Sabtu (05/01), Deputi Bidang Instrumentasi, Kalibrasi, Rekayasa, dan Jaringan Komunikasi, Widada Sulistya menuturkan, dalam proses pemasangan alat sensor water level di pulau yang dekat dengan gunung anak Krakatau tersebut, BMKG difasilitasi transportasi KRI Torani yang dimiliki oleh TNI AL.

Sebelumnya, BMKG telah memasang sensor serupa di wilayah Labuan Banten pada 24 Desember 2018 dengan posisi tepatnya di PLTU Labuan, Banten.

“Alat ini telah dipasang di pulau dekat gunung anak Krakatau tersebut untuk memantau ketinggian air sekaligus sebagai data dalam menentukan peringatan dini bila terjadi gelombang tsunami di Selat Sunda, karena gempa tektonik maupun vulkanik,” jelas Widada.

Dijelaskan juga, alat pemantau ketinggian air tersebut mengunakan sensor berupa tipe Ultrasonic yang menghitung seberapa kecepatan dari objek yang dilepaskan (berupa sinyal frekuensi) yang bersifat stasioner untuk mengukur ketinggian permukaan air laut.

Data perekaman dari sensor water level, lanjut Wadada, akan dikirimkan langsung ke server BMKG, dan update setiap 1 menit sekali untuk mengetahui ketinggian air permukaan laut di wilayah tersebut.

“Pemasangan sensor ini, digunakan pada AWS di 24 Stasiun meteorologi Maritim BMKG yang tersebar di Indonesia untuk mengukur ketinggian air di daerah sekitar pelabuhan,” terangnya.

Widada juga mengatakan dari lokasi pengamatan akan didapat data atau nilai yang akan otomatis dikirim ke BMKG server yang nantinya akan diolah menjadi produk dalam bentuk grafik.

“Dari sinilah, terlihat jenis gelombang, apakah gelombang pasang surut apa gelombang yang lain,” tandasnya.

Dirinya juga menuturkan grafik akan terlihat berbeda ketika menggambarkan gelombang pasang surut dengan gelombang tsunami karena gelombang tsunami akan terlihat lebih signifikan dibandingkan gelombang pasang surut biasa.

“Ada beberapa syarat untuk memasang alat ini, yaitu harus bisa menentukan batas minimal yang dapat dideteksi oleh sensor dalam kondisi air yang tidak boleh kering,” ungkapnya.

BMKG memiliki 26 alat sensor water level yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Untuk pemasangan alat di Lampung dan Banten disiapkan setelah terjadinya tsunami di Banten yang diakibatkan oleh aktivitas gunung Krakatau.

Diharapkan nantinya alat tersebut sangat bermanfaat dan berdampak di Tanjung Balai Karimun tempat bersandarnya kapal-kapal cepat dari Batam.

“Di sana kami mempunyai AWS pelabuhan/ maritim untuk mengukur ketinggian air supaya bisa memutuskan kapal untuk bersandar di mana,” pungkasnya. (Iqbal)

Editor: Andri Firmansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Back to top button