Boyke PribadiKolom

Kolom Boyke Pribadi: Menafsir Bencana

Pembelajar Kehidupan

biem.co — Berlalu lalangnya berbagai fenomena sehari-hari di hadapan kita seakan hendak memberi infomasi atau pelajaran kepada setiap insan yang memperhatikannya. Sebagaimana terjemahan Surat Ali Imran ayat 190 yang mangatakan bahwa “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.

Yang dimaksud tanda-tanda pada ayat di atas adalah tanda kekuasaan Allah SWT sebagai Sang Maha Pencipta, yang mempertujukkan hasil karyanya sejak bumi diciptakan dan pada setiap fenomena yang berlangsung dari pagi hingga pagi kembali. Semuanya itu tentu akan memberikan pelajaran atau hikmah bagi siapa saja yang memperhatikan dan menyimak seraya membuka akal-pikiran-jiwa dan hati kita.

Semua fenomena tersebut terkadang dapat dimaknai berbeda bagi setiap manusia, tergantung sudut pandang dan pola pikir yang dimilikinya. Proses pemaknaan dan memberi arti dari suatu fenomena yang terjadi, dapat dikatakan sebuah proses menafsir.

Secara etimologi, tafsir berarti menjelaskan, menerangkan , menampakan, menyibak, dan merinci suatu kata atau istilah atau sebutan atau simbol yang dapat dilihat atau dirasakan. Tafsir atas sesuatu fenomena dapat tampil dengan ragam jenis mengikuti pemahaman sang penafsir itu sendiri. Hal ini disebebkan karena adanya perbedaan ideologi, gagasan, wawasan, pengalaman pribadi, ataupun kemampuan berpikir dari pihak yang ingin menafsirkan hal tersebut.

Salah satu contoh beragamnya tafsir atas suatu peristiwa adalah bencana yang terjadi di Indonesia dalam kurun dasa warsa terakhir ini. Terlebih manakala masyarakat digiring untuk masuk ke dalam polarisasi kegiatan politik praktis. Tafsir atas bencana sangat bermancam-macam jika kita mengamati berbagai media massa, baik konvensional maupun online.

Ada yang ber-seloroh bahwa bencana alam yang terjadi sebagai azab atau hukuman atas perilaku menyimpang masyarakat di daerah yang tertimpa bencana, ada yang berkata bahwa bencana tersebut merupakan ujian atau cobaan bagi masyarakat yang ditimpa bencana, atau yang lebih ringan adalah yang meng-anggap bencana sebagai teguran atau pengingat bagi masyarakat yang ada. Yang lebih sadis ada yg menafsirkan bencana sebagai akibat perbedaan pilihan politik atau dampak dari proses hukum yang ditimpakan kepada salah seorang anggota masyarakat.

Berbagai versi tafsir tersebut dapat menimbulkan berbagai sikap reaksi pula. Bagi yang tertimpa musibah, tentu akan menyakitkan bila mendengar seloroh tentang bencana sebagai azab, karena yang bersangkutan tidak merasa melakukan perbuatan tercela, dan seloroh tersebut dapat dianggap sebagai sebuah aib bagi daerah yang ditimpa bencana.

Istilah bencana selalu identik dengan sesuatu dan situasi negatif yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan kata disasterDisaster berasal dari Bahasa Yunani, disatro, yang terdiri dari dis berarti jelek dan astro yang berarti peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi. Itulah kenapa dalam Cambridge advance learners dictionary, disaster diartikan sebagai “Suatu peristiwa yang mengakibatkan kerugian besar, kerusakan, atau kematian atau kesulitan yang serius”, karena kejadiannya dalam bahasa Yunani berasal dari bintang yang jatuh.

Dalam UU No.24/2007, Bencana diartikan sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Sementara menurut sudut pandang agama, salah seorang ahli tafsir Quraish Shibab dalam kitab tafsir Al-Misbah, menafsirkan makna Bencana sebagai adanya ketidakseimbangan pada lingkungan, yang sesungguhnya telah diciptakan oleh Allah dalam satu sistem yang sangat serasi sesuai dengan kehidupan manusia, yang mana ketidakseimbangan tersebut telah mengakibatkan sesuatu yang memenuhi nilai-nilainya dan berfungsi dengan baik serta bermanfaat, menjadi kehilangan sebagian atau seluruh nilainya sehingga berkurang fungsi dan manfaatnya, yang kemudian menimbulkan kekacauan.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa bencana-bencana itu tidak akan pernah terjadi kecuali atas kehendak dan izin dari Allah, meskipun manusia juga memiliki kontribusi terhadap sebagian bencana atau musibah yang terjadi. Dalam QS At Taghabun ayat 11 disebutkan:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ الَّهِ ۗوَمَنْ يُؤْمِنْ بِالَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚوَالَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Bencana yang merupakan kehendak dari Allah SWT dapat hadir sebagai bentuk hukuman, bentuk teguran, atau sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT kepada manusia sebagai ciptaan-Nya.

Bentuk apakah yang muncul dalam sebuah bencana, bukan hak seseorang untuk memberi tafsir yang tunggal, karena sebagai manusia yang lemah, tidak layak mengambil otoritas Sang Maha Pencipta untuk memberi vonis terhadap bentuk bencana yang menimpa suatu masyarakat, terlebih jika vonis tersebut dinyatakan dalam publikasi di media sosial ataupun lainnya.

Alih-alih menimbulkan kontroversi dengan menafsir bencana bermodalkan ilmu pengetahuan dan pemahaman yang sangat terbatas, lebih bermanfaat jika kita berusaha mencari pesan moral atau hikmah yang tersebunyi dari setiap bencana sebagai bekal untuk memperbaiki langkah kita dalam mengarungi kehidupan.

Sehingga ada baiknya membaca kutipan utuh dari sub judul ‘pesan moral dari bencana’ pada makalah ilmiah yang berjudul “ TEOLOGI BENCANA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN” karya Abdul Mustaqim dari UIN Sunan Kalijaga yang dimuat pada jurna NUN Volume 1 yang terbit pada tahun 2015, yang menyatakan sebagai berikut:

Berbagai bencana yang menimpa manusia mengandung pesan moral antara lain; Pertama sebagai tanda peringatan Tuhan, bukankah manusia sering lengah dan lupa? Maka dengan bencana sebenarnya manusia diingatkan agar kembali ke jalan yang lurus.

Kedua, sebagai bahan evaluasi diri (muhasabah). Bencana mengandung pesan agar manusia mau melakukan introspeksi diri. Apa yang salah selama ini, jangan-jangan terdapat pandangan yang keliru tentang kehidupan yang fana ini. Manusia begitu cinta terhadap dunia, hingga lupa akan kehidupan akhirat. Padahal dunia ini sesungguhnya fana dan tidak abadi. Betapa ketika terjadi bencana gempa bumi atau tsunami misalnya hampir seluruh bangunan dan harta benda bisa lenyap dan luluh lantak seketika. Itu dapat dijadikan introspeksi agar manusia menyadari bahwa kehidupan dunia ini sementara dan fana.

Ketiga, bencana mengandung pesan tanda kekuasaan Allah yang luar biasa. Manusia tidak boleh sombong dan pongah atas segala prestasi yang dicapainya dalam pentask kehidupan dunia ini. Mestinya manusia semakin tunduk dan tawadlu’ di hadapan Tuhannya, dan semakin pandai bersyukur atas segala fasilitas di dunia ini yang disediakan Tuhan. Namun seringkali ketika manusia telah sukses, ia cenderung sombong.Tuhan tidak rela kalau baju kesombongan-Nya diambil alih oleh manusia, sehingga bagi orang beriman, bencana dapat dimaknai sebagai pesan bahwa kekuasaan Allah sangat hebat. Dunia ini benar-benar dalam genggaman-Nya. Wa allahu a’alam. (red)


Boyke Pribadi, lahir di Bandung, 25 Juli 1968. Adalah Dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten, Alumni Taplai Lemhannas,  serta aktif menulis artikel tentang politik, ekonomi, dan pelayanan publik. Ketua Umum MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) Provinsi Banten. Pernah menjadi Anggota Tim Pemeriksa Daerah Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (TPD-DKPP) Provinsi Banten (2015-2017). Direktur komunikasi & kerjasama Banten Institute of Regional Development (BIRD). Penggagas scenario planning “Banten 2045”, Sekretaris Umum ICMI Provinsi Banten.

Editor : Andri Firmansyah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar