Sosok

Sosok Fatah Sulaiman, Calon Rektor Untirta

KOTA SERANG, biem.co – Fatah Sulaiman, nama tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga sebagian besar civitas akademika Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Fatah, begitu ia biasa disapa, merupakan Wakil Rektor I Bidang Akademik Untirta. Namun kini, ia maju sebagai salah satu calon Rektor Untirta periode 2019-2024.

Sejak tahun 1996-2009, Fatah menjadi dosen di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia. Ia mengajar beberapa mata kuliah, diantaranya Kinetika Katalisa, Korosi dan Bahan Konstruksi, Industri Petrokimia, dan Pengantar Peristiwa Perpindahan. Mulai tahun 2010 hingga sekarang, ia mengajar mata kuliah Teknologi Informasi Komunikasi untuk Pendidikan bagi jenjang pasca sarjana.

Sebelum masuk menjadi tenaga pengajar di Untirta, ia pernah menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di Universitas Indonesia. Kemudian melanjutkan pendidikan S-3 di Institut Pertanian Bogor.

Tak sampai di situ, ia juga sempat mengambil beberapa short course, diantaranya Aplikasi Teknologi Multimedia di University of Surrey, London, Inggris pada tahun 2007, Higher Education, Laboratory and IT Management di University Duisburg-Essen pada tahun 2017, dan The AUN-QA Training Course for Accomplishing Programme Assessment, Tier 1, Version 2.0 di tahun 2019 ini.

Diakui Fatah, alasan dirinya menyalonkan diri sebagai rektor adalah untuk meneruskan cita-cita pengembangan Kampus Untirta yang tengah dijalankannya.

“Saya sebelumnya diamanati oleh Pak Rektor untuk menjadi Ketua Tim Penyusunan Proposal Pengembangan Kampus dari Islamic Development Bank (IDB). Sementara rektor yang sekarang memimpin, secara regulasi akan berakhir di Agustus 2019. Sehingga ada semacam tanggung jawab moral,” ujar Fatah, dalam wawancara bersama biem.co beberapa waktu lalu.

Di samping itu, ia sendiri memiliki semangat dan gagasan besar untuk mengakselerasi penguatan di Untirta. Salah satunya dengan menjadikan Untirta memiliki keunggulan hingga ke level ASEAN.

“Saat ini, kan, kita sudah capai target dalam parameter Akeditasi A. Artinya, secara parameter, kita sudah boleh bilang setara dengan perguruan tinggi lain yang serupa. Tapi kita akan targetkan menjadi universitas yang juga diperhitungkan di level ASEAN. Makanya, ada konsep yang saya siapkan. Setelah tuntas pengembangan kampus baru yang didanai IDB di Sindangsari, kita akan terapkan Integrated, Smart, and Green (It’s Green) kampus,” paparnya.

Dengan konsep tersebut, ayah tiga anak ini berharap bisa mewujudkan Sistem Manajemen Terpadu yang bisa mengintegrasikan semua sistem dan proses organisasi antar zona kampus menggunakan jaringan internet dengan backbone fiber optic dan perangkat sistem terintegrasi berbasis ICT.

“Dengan pemanfaatan ICT menjadi program prioritas, kemudahan layanan untuk penguatan bisa dilakukan dalam rangka penguatan daya saing. Kemudian, kita juga akan meningkatkan riset pusat unggulan yang bisa menjadi rujukan nasional, bahkan ASEAN,” tandas pria kelahiran Serang, 6 Oktober 1968 ini. (hh)

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar