Puisi

Sajak-sajak Achmad Hidayat Alsair

Penjabaran Potret Kota

Hendak kubawa laju lemah seluruh persimpangan
menuju nestapa yang serak di bantaran sungai
keruh bercampur ngilu, pesta pora bangsa belatung
di atas sumbatan sampah paling amis dan cokelat
meledek dengan telak spanduk “Tunaikanlah Kebersihan”

Di deretan hunian yang nyala dari listrik curian
hendak kuajak bocah-bocah kurus penderita malnutrisi
bertamu dari satu restoran ke restoran lain
menggalang pasukan pembela-penyantap makanan sisa
ibadah selingan kami adalah ziarah menuju tong sampah

Bertamulah, jangan malu-malu apalagi merasa segan
batas kenyang dan lapar setipis tripleks dinding rumah
bagi negara, kami adalah deretan angka dalam laporan statistik*
(* : bisa diubah jumlahnya, syarat dan ketentuan berlaku)
bagi media, kami adalah parade wajah-wajah duka pengundang iklan
bagi kota, kami adalah gulma liar pencoreng gaun anggunnya
setiap hari selalu ada perpindahan dan debu-debu puing
di sini, kami semakin asing saja

(Makassar, Januari 2017)

 

Penumpang Pertama di Stasiun Kereta

Teruntuk rindu-rindu
tidurlah sebelum kereta pagi tiba
sebelum ingatan menolak sembunyi
dan berita cuaca pagi ini yang terlalu muram
menjadi mukadimah temu basa-basi
menjadi satu-satunya alasan
untuk berhenti terjaga
Dengarlah penjaga loket membicarakan
kedatangan hujan di kota tua
dalam murung yang sama

(Makassar, Januari 2017)

 

Antrian Loket

Seseorang menudingku dengan telunjuk cermatnya
“Anak muda! Apa kau pernah belajar kesabaran?”
Hanya terbayang waktu, pudar di curam mataku
Barisan yang semakin mengular iringi masa tunggu
Akhirnya, aku menua tanpa hambatan

(Makassar, Februari 2017)

 

Sang Pelancong

Bisik dalam ruangan yang kehilangan kursi dan meja
lilin bekerja keras menerangi sepasang mata
Kebangkitan suasana temaram, berikut fasihnya malam
bicara perihal rasa lapar dan rembulan padam
Sanggup bertukar cerita hingga dini hari
tapi camkan, esok kita harus pindah rumah lagi

(Makassar, September 2016)

Kota Pemanggil Hujan

Kota ini dikepung kesedihan
sesering apa pun sirene menyalak
sekeras apa pun tangisan bayi
mendung tetap memeluk seluruh bahu
Dengarlah, guntur menyambar
mencuri tawa dari rumah-rumah
dingin terkapar dicium lembut selimut
menagih gigil yang disembunyikan
Jangan sekali-kali keluar rumah
tiada awan putih atau payung
kupasang di teras

(Makassar, September 2016)

 

Untuk Penjaga Senja Dalam Dirimu

Kota dengan jalanan paling rumit ini
menjadi tempat perlombaan adu cepat
menuju peraduan berhias lampu lalu lintas
dan jejeran gerobak rutin mengantar
macam-macam jamuan yang bertugas mengawal senja

Panca inderaku menangkup bayang gelas-gelas es teh
sebab kerongkongan pasrah saat debu menjenguknya
lihatlah, raut-raut pandang mata lupa diasah
usaha menjadi asing di pinggir patung-patung pahlawan
terhalang cerita lama tentang kemacetan jam lima sore

Kota yang hampir kehilangan benteng ini
piawai menyuburkan beton di tubuhnya
tempat pelarian tersisa hanya pantai
wisata kisah patah hati dan sambutan basa-basi
datanglah, mata sembapmu pantang dilarung sebelum kering

(Makassar, Februari 2017)

 

Hasutan Pertemuan

Sebelum berulang jadi rima, kupotong pembicaraan ini
kau tahu senyap bisa lebih bising daripada pertanyaan selingan
arahnya gagal tertebak, meliuk dari lidah dan matamu

Mengutip kalimat pendek, disimpan dalam lipatan dompet
pelengkap kisah lainnya : potret lusuh rumahku
kerinduan adalah kabar yang kukirim setiap hari

Aku akan berhenti mengucap karena kelak
kenangan tahu cara menikam dari seribu penjuru

(Makassar, September 2016)


Penulis bernama Achmad Hidayat Alsair. Mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Hasanuddin, Makassar. Kadang menjadi penulis, kadang menjadi editor lepas. Sedang sibuk menghindari topik pembicaraan skripsi. Karya-karyanya pernah dimuat di sejumlah surat kabar, situs sastra daring dan beberapa buku antologi puisi bersama.

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar