Opini

Arta Rusidarma Putra: Peran Pendidikan dalam Pembentukan Mental dan Karakter

biem.co — Mental dan karakter seseorang sangat berperan dalam hidup dan kehidupan. Perilaku baik atau jahat, maupun kesiapan dan ketidaksiapan seseorang bermula dari mental yang dimilikinya. Pendidikan mental dan karakter menjadi dasar pembentukan karakter bangsa yang berkualitas dengan tidak mengabaikan nilai-nilai seperti tanggung jawab, disiplin, gotong royong, toleransi, saling membantu dan hormat menghormati dan lain-lain.

Pendidikan mental dan karakter dapat melahirkan pribadi yang unggul dari sisi kognitif yang didukung dengan karakter yang dapat mendukung kesuksesan seseorang. Pendidikan mental dan karakter hendaknya diterapkan dalam metode pendidikan dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk memperkuat akhlak dan sifat terpuji dalam diri mahasiswa.

Kepandaian pada bidang pendidikan saja belum cukup tanpa bekal mental dan karakter yang kuat. Agar saat mahasiswa terjun di masyarakat dan dunia kerja nanti tidak terjadi penyalahgunaan ilmu yang dipelajari selama perkuliahan. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan mental dan karakter.

Banyak mahasiswa yang berasal dari berbagai pelosok desa datang ke perkotaan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik dan terjamin mutunya. Kemandirian mahasiswa untuk hidup sendiri dan jauh dari keluarga menjadi konsekuensi yang harus dijalani. ada yang memperoleh manfaat besar dan menjadi lebih maju dalam kemandirian, tetapi ada juga yang yang terjerumus dalam gemerlapan dan keburukan negatif dalam lingkungan yang tidak baik. Hal ini yang membahayakan masa depan.

Selain itu dalam dunia kerja, adanya karyawan yang tidak dapat bekerja secara bersama dan banyaknya orang-orang pandai yang menyalahgunakan kepandaiannya sehingga mereka terjerat tidak pidana seperti korupsi.

Di kalangan mahasiswa, kemerosotan moral ini tidak kalah memprihatinkan. Perilaku tidak beretika kerap diperlihatkan oleh mahasiswa dari yang ringan sampai yang berat. Keinginan lulus dengan cara mudah dan tanpa kerja keras pada saat ujian menyebabkan mereka berusaha mencari jawaban dengan cara tidak beretika. Apalagi jika keinginan lulus dengan mudah ini bersifat institusional yang direkayasa atau dikondisikan oleh perguruan tinggi dan dosen secara sistemik.

Perilaku tidak beretika yang lainnya juga seperti plagiarisme atau penjiplakan karya ilmiah juga masih bersifat masif. Semuanya ini menunjukkan kerapuhan mental dan karakter di kalangan mahasiswa.

Disadari atau tidak, proses pembentukan mental dan karakter akan mempengaruhi cara individu memandang diri dan lingkungannya akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Sekolah Tinggi atau Universitas sebagai lembaga pendidikan adalah salah satu filter sumber daya yang penting. Oleh karena itu, pendidikan mental dan karakter sangat penting dalam mengatasi masalah ini.

 Melihat permasalahan yang timbul tersebut, hendaknya seorang tenaga pendidik, guru atau dosen dapat diterapkan metode pendidikan dan dipraktekkan dalam pembelajaran dan bisa dimulai dari hal-hal yang sederhana.

Bersikap Jujur

Memberikan nilai secara jujur, objektif bukan subjektif sesuai dengan kemampuan mahasiswa. Menolak segala kecurangan dan pelanggaran etika. Dengan begitu, tenaga pendidik, guru atau dosen dapat menjadi teladan bagi peserta didik atau mahasiswa

Bertanggung Jawab

Menyampaikan seluruh materi dengan tuntas sesuai silabus yang telah disepakati bersama. Jika ada mahasiswa yang berhalangan hadir hendaknya dibuat kesepakatan bersama untuk memberikan kabar kepada dosen secara langsung melalui pesan singkat atau whatsapp. Hal ini dapat melatih mahasiswa untuk dapat bertanggung jawab dalam menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa dengan harapan dapat menjadi kebiasaan untuk selalu bertanggung jawab dalam segala hal.

Berpenampilan dan Bersikap Sopan Santun

Berpenampilan dan memilih bahasa yang sopan dalam menyampaikan materi dan bersikap toleransi terhadap perbedaan latar belakang mahasiswa.

Menaati Peraturan

Menaati semua peraturan yang telah disepakati. Misalnya, selalu datang tepat waktu. Walaupun ada peraturan yang dirasa memberatkan, harus tetap dijalani karena pendidikan karakter memerlukan intervensi atau keterpaksaan yang berujung pada penguatan dan kebiasaan.

Pendidikan mempunyai peran vital dalam membangun dan mengembangkan karakter dan mental seseorang. Melalui pendidikan diharapkan terjadi transformasi yang mengubah watak dari tidak baik menjadi baik serta dapat menumbuhkembangkan karakter dan mental pribadi seseorang. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan merupakan daya upaya untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin dan karakter).

Oleh karena itu, pendidikan merupakan sarana utama untuk menumbuhkembangkan karakter dan mental yang baik. Hal ini juga berbanding lurus dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang salah satunya adalah pendidikan dan pengajaran yang mengharuskan mahasiswa untuk dididik terlebih dahulu, setelah itu akan mudah dalam melakukan pengajaran. Maka dapat disadari bahwa pendidikan dan pembentukan karakter dan mental sangat penting bagi mahasiswa di samping pendidikan akademik.

Dengan begitu, dalam institusi pendidikan termasuk para dosen wajib menanamkan nilai-nilai karakter dan mental yang baik kepada mahasiswa untuk bekal kedepannya. Mahasiswa yang baru wisuda sekalipun pasti akan lupa jika ditanya tentang apa saja yang dipelajari tentang satu mata kuliah yang mereka pelajari jika tidak mengulasnya kembali.

Akan tetapi jika nilai-nilai pendidikan karakter dan mental seperti kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, kemandirian sudah tertanam dengan baik, itu akan terbawa oleh mahasiswa sampai kapanpun. (red)


Artha Rusidarma Putra, adalah Dosen di Universitas Bina Bangsa. Aktif di berbagai forum sebagai Pengamat Sosial dan Pendidikan.

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Baca Tulisan Ini Juga, Yuk!

Close