Cerpen

Cerpen Anas Al Lubab: Nyi Marwinah

biem.co — Aku duduk terpekur di amben palupuh, memperhatikan persiapan memandikan jenazah seorang nenek sepuh bernama Nyi Marwinah, yang baru saja meninggal di usia kira-kira 90 tahun. Seorang perempuan paruh baya (mungkin anaknya) dengan lirih sekali-kali terisak nampak khusyuk melafalkan surat yasin di sisi jenazah yang telah terbujur kaku diselimuti kain batik lusuh berlurik kuning kecokelatan.

Inilah tempat tinggal Nyi Marwinah hingga menjelang kepulangannya ke tempat keabadian. Yakni gubuk kecil berukuran 2×3 meter, berdinding anyaman bilik bambu, beratapkan weulit hateup. Bersebelahan dengan rumah anaknya. Diusianya yang telah uzur, Nyi Marwinah kerap berpindah dari satu gubuk ke gubuk lain yang ia minta buatkan di samping rumah anaknya secara bergiliran.

Ia tak pernah mau tinggal serumah dengan anaknya, entah apa alasannya. Tempat yang ia pinta sangat sederhana, asalkan bisa menampung tubuh ringkihnya ketika hendak beristirahat menjelang malam. Tak ada perabotan apapun di gubuk ini, selain tikar daun pandan lusuh dan bantal kapuk lapuk kehitam-hitaman yang tergolek di sudut ruangan.

Di paku kayu dinding bilik, tergantung mukena dan sebuah tasbih plastik berwarna hijau pudar yang mungkin ia terima sebagai oleh-oleh dari orang yang baru saja pulang naik haji. Gubuk ini dibagi menjadi kamar tidur di bagian dalam, dan amben palupuh di bagian depan.

Semasa hidupnya, biasanya Nyi Marwinah setiap hari akan duduk di ambang pintu, sedangkan kakinya yang kurus diliputi keriput berselonjor ke amben. Matanya yang putih kekuningan, kerap menerawang memperhatikan warga yang berlalu-lalang melakukan aktivitas keseharian mencari penghidupan.

Kini, amben itu di penuhi bak dan ember besar berisi air untuk memandikan jenazahnya. Nek Kariah, seorang pemandi jenazah yang sangat sepuh dan tubuhnya membungkuk, terlihat kian membungkuk bersusah payah menyeret dan mengatur posisi ember, menyiapkan sabun dan air rendaman daun dadap. Tangannya yang keriput terlihat gemetar menekan pisau tipis berkarat memotong sabun mandi batangan menjadi 3 bagian.

Anak-anak kecil berkerumun bermain berlarian di sekitar gubuk. Beberapa perempuan paruh baya membentangkan sarung batik dan mengikatnya di tiang gubuk untuk menutupi pandangan khalayak, lantaran Nyi Marwinah akan dimandikan di amben, sebab di dalam gubuk terlalu sempit.

Aku ikut membantu mengikatkan bentangan sarung tersebut ke salah satu tiang gubuk dengan suwiran kulit gedebong pisang. Nek Kariah kemudian menyuruhku mengangkat gedebong pisang yang telah dipersiapkan tersandar di batang pohon jambu tak jauh dari gubuk untuk alas memandikan Nyi Marwinah.

***

Aku tergopoh-gopoh memasuki sebuah langgar berdebu mengiring kurung dedes (keranda) yang membawa jenazah Nyi Marwinah untuk disalatkan. Para orangtua yang telah menunggu tengah berdiri bersandar di setiap dinding langgar.

Seorang lelaki paruh baya berbicara agar hadirin mengampuni kesalahan jenazah semasa hidup, dan jika ia masih memiliki tanggungan hutang, hutangnya dilimpahkan kepada ahli warisnya. Kemudian ia mempersilakan salah seorang lelaki yang dituakan untuk maju sebagai imam memimpin salat jenazah.

Aku ikut menjadi makmum di shaf ke tiga sambil mengingat-ngingat bacaan setiap seusai takbir yang sudah tak lagi kuingat urutannya. Untung imam sedikit membesarkan volume suara diawal bacaan, sehingga aku bisa mengikutinya dengan mudah.

Salat jenazah pun selesai dengan dipanjatkannya lantunan doa oleh sang imam. Sementara para jemaah menengadahkan tangan mengamini setiap doa yang dipanjatkan sang imam. Lelaki paruh baya yang berbicara diawal berkeliling menyelipkan amplop putih polos ke kantong baju setiap jamaah.

Hatiku berkecamuk, ketika lelaki itu tinggal beberapa langkah lagi menghampiriku. kenapa mesti ada amplop untuk sebuah salat? darimana ajaran itu bermula? bagaimana jika keluarga yang ditinggalkan tak punya uang? apakah terpaksa mesti berhutang? Sejuta pertanyaan keheranan berkerumun seperti belatung mengelayuti pikiranku.

Aku benar-benar bingung. Menolak takut menyinggung perasaan, menerima pun tak tenang. Namun, aku tak mampu menolak amplop pemberian itu khawatir ada ketersinggungan. Akhirnya aku pasrah membiarkan lelaki itu menyelipkan amplop tersebut ke kantong bajuku dengan resiko beban pikiran tak berkesudahan.

***

Untuk pertama kalinya, seumur hidupku aku ikut menggotong keranda jenazah hingga kuburan. Jarak langgar ke kuburan yang lumayan jauh membuat keringat mengembun di keningku dengan napas sedikit tersengal. Keranda yang membawa jasad Nyi Marwinah kami turunkan secara perlahan.

Dua orang dengan sigap me-lingkis celana dan segera meloncat ke tanah merah gembur hasil galian. Beberapa helai kain batik yang menyelubungi keranda dilepas. Jenazah pun di bopong oleh dua orang, kemudian diturunkan secara perlahan penuh kehati-hatian. Disangga oleh dua orang yang telah merentangkan tangan di dalam galian.

Lelaki yang ketika selesai salat membagikan amplop, memandu ke empat orang tersebut agar memosisikan letak jenazah sesuai aturan. Jenazah Nyi Marwinah di miringkan di sisi liang makam. Tali pocongnya dibuka. Bagian kepala, pinggang, dan kaki disangga tanah yang telah dibulatkan sebesar kepala kucing. Lalu ditutup dengan beberapa bilah papan.

Sebelum ditimbun tanah, papan yang menutupi bagian kepala jenazah dibuka, kemudian salah seorang melantunkan adzan. Lalu papan ditutupkan kembali. Dua orang itu pun naik. Perlahan lubang jenazah itupun ditimbun tanah. Menyisakan jejak gundukan lembab tanah merah.

Selama menghadiri prosesi penguburan, aku sibuk bersedakep untuk menutupi amplop yang ada di kantongku. Entah mengapa aku benar-benar merasa berdosa dan malu jika amplop yang kukantongi tersebut sampai terlihat dan diketahui oleh keluarga duka yang ditinggalkan, apalagi keluarga yang ditinggalkan masih merupakan keluarga besar mertuaku. Aku ingin cepat pulang ke rumah mertua, segera membuka amplop tersebut untuk kutambah dengan uang alakadarnya untuk kukembalikan kepada keluarga almarhumah.

Setelah selesai prosesi penguburan, aku membantu menggotong keranda jenazah untuk dikembalikan ke musola. Lalu cepat-cepat pulang ke rumah mertua tak sabar ingin segera membuka amplop yang menyelip di kantong baju yang mengganggu pikiranku.

Sesampainya di rumah mertua. Aku segera bersembunyi masuk kamar. Perlahan kurobek amplop putih itu dengan perasaan tak karuan. Setelah amplop robek, ternyata tidak ada uang seperti yang aku perkirakan. Dengan tangan bergetar dan hati berdebar-debar kubaca tulisan tangan dalam amplop itu dengan hati-hati dan penuh perhatian. “BAHKAN KEMATIAN YANG KAU SAKSIKAN, TAK BISA MENGALIHKANMU DARI MEMIKIRKAN UANG!”

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *