Sosok

Ikhfal Wahyudin: Mendidik Lewat Cara Unik

KOTA SERANG, biem.co — Stereotip guru yang dikenal sebagai sosok disiplin dan kaku nampaknya sudah melekat di kalangan murid dari berbagai tingkatan. Namun, pernahkah kamu menemukan sosok guru yang memiliki cara unik dalam kegiatan belajar-mengajar? 

Inilah yang kerap dilakukan Ikhfal Wahyudin, sosok pendidik yang dikenal supel dan dekat dengan siswanya. Setiap mengajar di kelas, ia selalu berupaya membangun suasana belajar yang menyenangkan.

Ikhfal adalah pengajar di SD dan SMP Islam Khalifah, Kota Serang. Berbekal bakat seni yang telah ia tempa sejak masa kuliah, dirinya melakukan metode mengajar dengan mengubah rupa menjadi berbagai karakter dalam setiap pelajaran. Ada Kusen, Gandana, Tuan Yudha, dan Gogo. Karakter-karakter itulah yang coba dibangun oleh Ikhfal untuk menarik minat anak-anak dalam belajar.

“Awalnya ketika di tahun ajaran kemarin, saya megang pelajaran yang cukup banyak. Jadi, saya bingung di setiap pelajaran harus ngapain. Akhirnya, solusinya mencoba untuk membelah diri jadi banyak, biar anak-anak juga enggak bete ketemu saya lagi, saya lagi,” ungkap Ikhfal Wahyudin dalam wawancara bersama biem.co, baru-baru ini.

Diakui Ikhfal, inspirasi dari berbagai karakter yang ada murni lahir dari pikirannya sendiri. Namun, karakter Kusen, katanya, memang sudah ia ciptakan sejak bermain teater di UKM Gema Seni Budaya Islam Campus (Gesbica) UIN SMH Banten.

“Kalau Kusen memang ikon pertama ketika di kampus ada garapan teater di akhir tahun 2016. Sayang aja kalau karakter ini dimatikan, makanya dihidupkan lagi di awal tahun 2018, selama saya ngajar di sekolah,” ujar mantan Ketua Gesbica ini.

Kusen dan Gogo. (Foto: Ist)

Baginya, metode tersebut sangat memudahkan ia dalam mendapatkan kefokusan anak dalam belajar. Tak hanya sekadar menghidupkan karakter, Ikhfal juga kerap membagikan konten belajar dalam hal parodi lagu hingga beragam permainan.

“Saya sebagai pengajar juga bete kalau ngajar monoton aja, gimana anak-anak? Yang saya senangi, ketika jadi peran lain, mereka jadi bisa lebih fokus ketimbang ketika saya sendiri yang ngajar,” tutur Ikhfal sembari tertawa.

“Kadang, anak-anak juga banyak yang request sih, harus kayak gini, jadi ini. Dan kita, harus benar-benar ngikutin apa kemauan anak,” imbuhnya.

Kendati demikian, meski kini metode belajar tatap muka digantikan oleh dalam jaringan (daring), tetapi cara yang dilakukan Ikhfal tidak lantas berhenti. Justru ia merasa harus semakin memutar otak untuk membuat konten-konten pembelajaran yang bisa diterima anak secara jarak jauh.

“Dibilang sulit, sih, enggak. Cuma kita juga kadang capek, ya, harus bikin konten terus. Lebih baik ngajar langsung bisa lebih lepas, ketimbang ngajar online. Cuma, ya mau gimana, kita juga harus tetap mematuhi apa yang sudah diatur oleh pemerintah. Khawatir juga kita,” jelasnya.

Gandana dan Tuan Yudha. (Foto: Ist)

Ikhfal pun berharap, pemerintah dapat segera menemukan solusi agar belajar tatap muka bisa kembali dijalankan dan anak-anak bisa kembali sekolah seperti sedia kala.

“Karena kalau kita tetap seperti ini, PR-nya juga semakin banyak. Anak-anak juga belum tentu paham dengan ngajar secara online, terus enggak semua anak juga punya gadget. Penginnya dengan cara apa pun pemerintah mengusahakan belajar tatap muka, kita juga ngajar normal seperti biasanya,” pungkasnya. (hh)

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button