Opini

Media Sucahya: Covid-19 dan Pembangkangan

biem.co — Puluhan ribu kendaraan pribadi diperintahkan putar balik oleh aparat ke Jakarta pada Mei 2020. Kalangan menengah atas tersebut dianggap melanggar aturan pemerintah yang melarang pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri 2020. Larangan mudik saat itu jelas, untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Realitasnya, warga melakukan ‘pembangkangan’ dengan tetap mudik. Mereka seakan tidak peduli akan tertular Covid-19 di kampung halaman.

Memasuki era new normal pada Juli 2020, jumlah orang terinfeksi positif Covid-19 terus menaik. Jumlah terinfeksi positif menembus rekor di atas 1.000 orang per hari, yang tidak pernah terjadi sebelum masa new normal. New normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal, dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Saat new normal dijalankan, alih-alih yang positif jumlahnya menurun, malah sebaliknya terus meningkat per harinya.

Mengapa ada ’pembangkangan’ dan jumlah positif Covid-19 meningkat saat new normal diberlakukan?

Pesan Menakutkan

Kim Witte dengan teori EPPM (Extended Parallel Process Model) menjelaskan, pesan komunikasi kesehatan dapat mengubah perilaku individu. Pesan yang disampaikan dapat menjelaskan bagaimana rasa takut dapat disalurkan untuk menghasilkan langkah proaktif yang sehat. Serta bagaimana pesan melindungi diri dari tindakan pihak-pihak yang terpapar pesan tersebut. Dalam menjalankan komunikasi kesehatan, pesan yang disusun perlu membangun ancaman dan kemanjuran yang sama, agar pesan komunikasi kesehatan menjadi efektif.

EPPM menjelaskan setiap individu akan memiliki tiga respons dalam menghadapi pesan-pesan yang menakutkan. Pertama, individu tidak menanggapi pesan yang menakutkan. Sehingga ia tidak melakukan tindakan, yang dapat menimbulkan rasa takut. Protokol kesehatan mengatur agar tinggal dan bekerja di rumah (work from home-WFH), gunakan masker, dan cuci tangan dengan sabun. Saat pemerintah melalui media menyampaikan betapa mematikannya Covid-19, orang yang WFH tidak merasa takut terhadap pesan tersebut.

Kedua, saat mendengar pesan, ia akan mengendalikan bahaya yang akan muncul. Ia akan merespons terhadap perilaku yang menimbulkan bahaya, dengan cara mengambil tindakan yang dapat mencegah dan mengurangi munculnya bahaya.

Tipe ini sangat rasional dan selektif. Ia menyadari ancaman yang bakal diterima. Bila mudik pasti akan terpapar Covid-19, masuk karantika 14 hari, atau kehadirannya ditolak warga. Menyadari ancaman tersebut, ia bersilaturahmi tidak bertatap muka, tapi melalui video call atau menggunakan aplikasi video zooming. Ia hanya masuk wilayah zona hijau.

Ketiga, orang merasa bisa mengendalikan rasa takut, dengan mengabaikan pesan yang mengerikan. Meski angka kematian akibat Covid-19 semakin tinggi, orang ini tidak peduli, Ia tetap mudik, meski yakin selama perjalanan, dan di kampung halaman bakal terpapar Covid-19. Ia merasa dapat menangkal virus selama mudik dengan memakai masker dan minum vitamin. Maka, kelompok ketiga inilah yang diasumsikan melakukan ‘pembangkangan’.

Kesadaran Praktis

Ketidakefektifan memutus pandemi Covid-19, di antaranya terjadi dualisme antara pemerintah yang mengeluarkan protokol kesehatan dan individu yang tidak menjalankan protokol kesehatan. Masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan. Sehingga penyebaran Covid-19 semakin meningkat.

Anthony Gidden (The Constitution of Society, 2011) menyebutkan seharusnya terjadi dualitas di antaranya pemerintah dan individu. Bukan lagi dualisme atau saling memunggungi. Dualitas adalah praktik sosial yang berulang dan terpola dalam lintas ruang dan waktu. Protokol kesehatan bukan hanya wahana untuk penanganan Covid-19, tetapi juga hasil dari perilaku yang dilakukan secara berulang. Protokol kesehatan memandu tindakan masyarakat dalam dalam menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Masih menurut Giddens, ada tiga dimensi internal pelaku untuk mengetahui bagaimana sikap individu dalam merespons protokol kesehatan. Pertama motivasi tak sadar, di mana seseorang menggunakan masker, bukan karena ingin menaati protokol kesehatan. Namun, karena mendapat masker gratis.

Kedua, kesadaran diskursif, di mana ia melakukan sesuatu karena ada alasan yang mendukungnya. Seseorang menggunakan masker, karena tidak ingin ditangkap atau ditilang. Ketiga, kesadaran praktis dimana seseorang menerapkan protokol kesehatan setiap hari, karena pengetahuan dan melakukannya dengan penuh kesadaran. Ia mempraktikan protokol kesehatan setiap hari, tanpa lagi mempertanyakan landasan hukum dan persyaratan administratif.

Idealnya, hubungan pemerintah selaku pembuat pedoman dan masyarakat adalah dualitas, bukan dualisme. Masyarakat tidak boleh lagi melakukan improvisasi dan melakukan ‘pembangkangan’. Tugas kita semua, melakukan dan membangun kesadaran praktis, di mana menerapkan protokol kesehatan merupakan ibadah dan perintah Tuhan. Praktik sosial berupa implementasi protokol kesehatan harus selalu berulang dan terpola, yang dijalankan masyarakat kapan dan dimanapun. Sehingga jumlah positif Covid-19, bisa semakin menurun dan berhenti.


Media Sucahya. Dosen Komunikasi Universitas Serang Raya.

Editor: Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button