Puisi

Sajak-sajak Sadewo

Seperti Kekosongan

engkau datangiku dengan tatapan hening
sebuah kesedihan diucapkan lewat mata
matamu–sepasang meteor yang membawa
kehancuran bagi kebahagiaanku

aku menerka bahwa kau ‘kan katakan
sesuatu yang membuat hatiku pedih
serupa luka basah dan kau sentuh

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

“aku sudah selesai denganmu,”

lalu degup jantungku, nada minor untuk
perpisahan kita. bernyanyilah!
lirik-lirik kecewa; seperti yang kau harapkan

“pergilah, bahkan jejak kakimu–hapuslah!” kataku

engkau tinggalkanku sendirian
seraya terdengar langkah samar
dan punggungmu,
aku ingat pelukan

apakah kau tak belajar: cara mengucapkan
selamat tinggal dengan benar?

2020

 

Membunuh yang Lain

dalam aku, ada aku yang lain
ia tak punya nama
hanya sifat yang beda

ia seperti pembuluh darah
tapi bukan, serupa derap jantung
tapi lambat, umpama napas
tapi berhenti

ia tak bisa dibandingkan
dengan apapun, kecuali kesedihan

tapi ia bisa merindu, dan rindu
selalu membuatnya murung
lebih murung dari bocah yang
balon hijaunya meletus

ia berbicara dengan bahasa kecemasan
katanya, bahasa itu diturunkan
dari nenek moyang yang
bernama kesunyian

aku ingin membunuhnya. tapi kapan
waktu yang tepat ‘tuk
menikamnya diam-diam, sebab ia
berteman dekat dengan malam

bagaimana kalau aku bunuh diri?

apakah ia ikut mati?

2020

 

 

Tusuk dan Biarkan

darah ini, akan menujumu
seperti aliran sungai masa kecil

masihkah kau ingat
nama sungai itu?

jangan
jangan kau cabut pisau ini
dari dadaku

biarlah kurasa, bagaimana cinta yang
sembrono menusuk
ketulusan dan kesetiaan

sedangkan kau pura-pura bersedih
melihatku seperti
hewan terkapar ini

air matamu dan darahku menyatu
membentuk aliran sungai
hilir ialah kasih, sedangkan
muara adalah penderitaan

jangan
jangan kau cabut pisau ini
dari sakitku.

2020

 

Teringat Tonggeret

lagu mengubah musim

ketika langit menguning
malam menyergap
kau tak henti bernyanyi

ada yang tertinggal dalam ingatan
entah nyaring atau bising

tapi seluruh pohon menari
sebuah ekstravaganza digelar
tapi tak satupun yang datang

ritual pemanggil kemarau
gugur semua
padahal masih betah di penghujan
ingin menggigil sambil melihat
sayapmu mengepak

di pohon itu
biasanya kau berdiam
menunggu seseorang
atau
mempersiapkan ajal

suaramu muncul setelah
17 tahun disembunyikan.

2020

 

Anjing Kekhilafan

terimalah cinta
yang gonggong ini, ibu

suatu waktu akan tercatat
tentang kecemasan kasih sayang!
akankah kau tolak pinangan?

sadarlah, anakku
hutan ini yang mengajarimu berbicara,
melangkah, juga menyayangi orang lain
tak perlu kujelaskan asal usulmu
cerita hanya sekadar
bahkan setelah selesai.

tapi, ibu
kaulah satu-satunya wanita
keberlangsungan kehidupan
dan
kepastian kematian
apakah dosa-dosaku dihapus langit?

sampai orang-orang kota
datang lagi ke rumah kita
kau pun tetap anakku

jangan sangkal lagi
dengan kalimat yang kuajarkan padamu

“ibu, bukankah seluruhmu bagian dariku?”

2020

 

Pesan Singkat yang Panjang

handphone seperti sebuah kota
dengan penduduk yang aneh
dan kau salah satu dari mereka
matamu madu, bibirmu apel

setiap pagi, kau bangun dengan
tubuh putih dan tangan biru
menuju kamar mandi
kau temukan
jejak kaki dengan bercak darah
yang menghitam

siang naik, aftab berdiri
dengan kakinya yang api
orang-orang mulai lapar dan memakan
bekal: nasi merah dan daging gagak

langit menjelma pohon
dan
senja merupa buah matang
cemas dan bimbang berdatangan
dari arah ragu
sebab, malam telah datang dan kau
mulai mengirim pesan dengan takut
yang berlebihan

huruf-huruf berbaris
dengan wajah muram seumpama
kemasygulan ditahan

tubuhku berdering
ternyata pesan darimu:

di punggungku
seorang anak berlari
memanggil namamu
dan menangis
apakah kau mengenalnya?

kubalas dengan:

ia adalah janin
yang kita gugurkan.

2019

 

 

Mustamik

tak ada yang tahu
di dalam loket
ada kereta berbentuk tiket
atau tidak

tapi pedusi itu berusaha meyakinkan kita
bahwa pergi adalah ibu yang terkunci

jembatan penuh kerikil
menjelma rel renta
seharusnya tinggal nama
dan
dikenang sepagan pahlawan

tapi stasiun tetap
menampung air mata

sol sepatu menuju pintu
dan
bokong menutup mata
ketika bangku direkatkan

siapa itu yang lalu-lalang?

selamat tinggal!
ini anjingmu aku beri makan apa?
dia suka daging anjing

jendela adalah mikrofon
merekam percakapan
yang tak pernah tersimpan

aku menjadi seorang mustamik licik
di sampingku ada laki-laki tua
memegang kitab suci

aku melirik matanya
dan
di sana ada surga

sudah berapa lama waktu lewat
dan tak kita tangkap?

2019


Tentang Penulis:

Sadewo. Lahir di Medan 2 Desember 1999. Mahasiswa Pend. Bahasa Indonesia FKIP UMSU. Belajar menulis di FOKUS. Puisinya dimuat Tempo, Riau Pos, Haluan Padang, Bali Post, Banjarmasin Post, Rakyat Sumbar, Analisa, Buruan.co, Kibul.in, Apajake.id, Buletin Lamun, Buletin Filokalia, dan Buletin Lintang.

Puisinya juga termaktub dalam antologi Syair Maritim Nusantara (2017), Tugu, Anggrainim, dan Rindu (2018), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Merdeka dari Pusaran Narkoba (2018), Puisi untuk Lombok & NTB (2018), Membaca Asap (2019), Lelaki yang Mendaki Langit Pasaman Rebah ke Pangkal (2019).

Selain kuliah, kesehariannya ialah melatih teater, membuka perpustakaan jalanan, dan menjadi pembicara di berbagai diskusi sastra. Menjuarai beberapa perlombaan: Juara I Baca Puisi IMM FKIP UMSU (2018), Juara II Cipta Puisi Sastradisi FIB USU (2018), Juara III Cipta Puisi Ulang Tahun Kota Pematangsiantar (2018), Juara II Baca Puisi IMM FAPERTA UMSU (2020). Menetap di Medan.

Editor: Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button