Puisi

Sajak-sajak Abdul Wachid B.S.

NUN

“Nuun
Walqalami wamaa yasturuun
Maa anta bini’mati rabbika bimajnuun”

“Nun
Demi pena penyair dan puisi yang
mereka lahirkan
Karena sentuhan-Nya
kau tidak menjadi gila”

aku cuma-lah
sebatang pena, yang
ketika engkau angkat, yang
ketika engkau turunkan, yang
ketika engkau tuliskan
nafas dan nafs-ku cuma-lah
tergantung kepada
tiupan udara takdirmu

tetapi
semoga sebatang pena itu
tidak diamdiam di tengah malam
keluar dari kertas putihmu
tidak diamdiam menulisi
sembarang sempat
sehingga ia tersesat jalan pulang
kembali kepada kotak
tekateki takdirmu

maka pegang-lah
bagai alif, aku
sebatang pena, yang
sekali sentuhmu
pena ini akan menggila
tersebab gandrung oleh
pukau maha tanganmu

Yogyakarta, 31 Agustus 2013

 

 

Hujan Gemuruh di Tengah Malam

Hujan gemuruh di tengah malam
Seperti beribu sayap malaikat mendarat
Langit semula benderang ditaburi bintang
Berubah pekat, dan kini dicambuki kilat

Maka terkagetlah orang-orang bercinta
Yang dosa, dan yang mensyukuri surga
Maka makin dinginlah orang-orang trotoar
Yang lapar, dan dahaga dari doa

Hujan gemuruh di tengah malam
Daun-daun gemerincing, pohon-pohon berderakan
Seperti peperangan, malaikat maut mengancam
Mimpi-mimpi buruk dibangunkan oleh kenyataan

Dia yang kemarin memuja tanya, tak sempat lagi bertanya
Ini Tuhan yang melahirkan ketakutan?
Ataukah ketakutan yang melahirkan Tuhan?
Hujan gemuruh di tengah malam

Dia yang gentayangan di jalan malam
Tergoda kepada megah perempuan
Tetapi senantiasa berujung pada ketakberdayaan
Dan Tuhan? Selalu hadir tepat di saat dibutuhkan

Bahkan si Pendosa yang ngrasa pongah
Ini gagah berjalan di jalan-jalan yang salah
Dia terima, menjelma jadi kurcaci di telapak tangan-Nya
Diberinya kehangatan, lalu dia pulang pada ketentraman

Tuhan, Engkau hadir bahkan tanpa diminta
Menguati hati orang-orang yang terjatuh
Oleh derita dan nestapa
Oleh bayang-bayang yang mereka ciptakan sendiri

Setelah capek memanjakan kelamin
Mereka takut pada ketakutannya sendiri
Setelah kenyang menikmati buah-buah dosa
Kini aku pun menjadi ngeri pada duri-duri kematian

Hujan gemuruh di tengah malam
Hujan menyebar racun ke segenap penjuru malam
Dan di sudut kamar, aku diteror oleh dosa-dosa masa silam
“Tuhan, aku kalut, tak berdaya, aku butuh pertolongan!”

Yogyakarta, 31 Desember 2008

 

 

Bersandar pada Pilar-pilar

Ada masanya
Tatkala lalu seorang tua dengan senyum beracun
Setelah jaman Soekarno dan para petani itu

Ratusan orang membentuk lingkaran penonton
Ratusan orang sekaligus memainkan peran
Mereka berlatih teater di antara
Tangga-tangga gedung rakyat
Bukan demonstrasi
Tapi guru dan dosen latihan teatrikalisasi puisi
Tentang teratai hidup di rawa-rawa
Tentang senasib terjerembab di rawa-rawa
Mereka mendadak menjelma penyair
Minum anggur dari kenyataan
Menelan buah kepahitan

Seseorang menguak keramaian
Dengan mengutip Anton Chekov
“Jika bangsa inginkan peradaban
Sejahterakan guru”

“Ya. Gaji kami bagai cacing kepanasan
Perut kosong, mata kunang-kunang
Hidup kami cukup tahu diri
Tak nuntut yang bukan-bukan”

Matahari menjadi latar
Langit bening kebiruan digelar
Sebuah puisi
Melebihi seribu kavaleri

Tapi, dari kerumunan itu
Penonton terpukau
Oemar Bakri dengan sepeda kumbangnya
Bertuliskan “Dijual cepat dan murah
Untuk mengembalikan gaji
Lantaran mengundurkan diri
Sebab mengikuti tugas istri ke lain provinsi”

Orang-orang ribut
Tapi bukan untuk berdebat
Orang-orang ribut
Justru buat sepakat

“Interupsi!
Bagaimana mungkin
Buruh bekerja, mengembalikan keringat upahnya?”

Aisiah, gadis Yogya dari Gadjah Mada
Dalam teka-teki hatinya bertanya
“Bukankah beri upah buruhmu
Sebelum kering keringat?
Tapi kenapa keringat telah berlarat-larat
Hanya lantaran mengundurkan diri
Seorang dosen dipaksa kembalikan upah keringatnya?”

“Astaga! Ini lebih jahil dari Abu Jahal!”
geram seorang wartawan, “Di mana itu?”

“Di satu universitas yang mengatasnamakan umat”

Orang-orang ribut
Tapi bukan untuk berdebat
Orang-orang ribut
Justru buat sepakat

Kami bukan bunga bangkai
Tapi kembang teratai
Kami bukan nyebar kata bangkai
Tapi nuntut manusiawi yang tergadai

Sungguh gedung rakyat menjelma teater
Dan sejernih wajah bocah
Guru merasa penyair
Semoga sajak bukan menambah darah

Aisiah masih bersandar pada pilar-pilar
Ia tak mengerti
Tapi mencoba mengangguk pasti
Dan langit merekam segala itu dalam
Gerimis yang gemetar

Tiba-tiba!
Berderapan penonton lain
Berlapis barikade dengan
Gas airmata dan pentungan

Serentak
Tangan-tangan lalu angkat tangan
Membentuk lingkaran
Melingkar-lingkar kata
Kata melingkar-lingkar
Bukan demonstrasi
Tapi guru dan dosen latihan teatrikalisasi puisi

“Mari bersulang!”
“Untuk guru kita?”
“Bukan!”
“Untuk politisi?”
“Bukan!”
“Untuk polisi?”
“Bukan!”
“Untuk penyair?”
“Apalagi!”
“Habis untuk apa?”
“Untuk siapa?”

“Untuk teratai…..
amiin…..”

1997, 1999

 

Alang-alang

Alang-alang basah oleh darah
Tak di taman tak di hutan
Alang-alang akan terus tumbuh
Tak kemarau tak penghujan

Alang-alang nusuk sepatu serdadu
Alang-alang merambati tembok istana
Alang-alang menyilet jidat rektorat
Alang-alang berdansa, jalanan berbatu

Kepala-kepala batu
Tangan-tangan batu
Di kampus dan jalanan terbuka
Udara mabuk candu kekuasaan sang Raja

Bumi telah pagi
Dan akan bangun tegak
Di tanah pertiwi
Kenapa langit bagai tombak?

Di ujung jalan buntu
Segerombolan penyamun teriak
“Hiduplah demokrasi negeri!”
Kemarin mereka mengecu
Atas nama bangsa yang gemah-ripah lohjinawi
Membunuh, sembari bersenyum gigi

Di tangga-tangga parlemen
Sekelompok Tuan Hipokrisi
Memainkan tongkat pesulap
“Jangan sentimen
Apalagi apriori
Kami akan ciptakan demokrasi kelas kakap!”
Kata mereka

Maka
Sayup-sayup di antara
Gubuk-gubuk orang ungsian
Nyanyi pasemon bocah entah buat siapa
“Esok tempe, Mas, sore tahu
Kemarin dukung rame-rame, Mas,
Esok bantai bahu-membahu”

Di tengah sawah
Holobis kuntul baris
Kita kini rakyat yang lelah
Kita kini bangsa yang sangsi
Oleh teka-teki yang bukan nasib
Oleh air liur politisi
Yang batin mendengkur

Jika petinggi dan politisi ngelindur
Demokrasi pelangi tak akan meluncur
Jalan-jalan, pohon, riuh-redam
Orang-orang mengasah saling dendam

Alang-alang basah oleh darah
Tak di taman tak di hutan
Alang-alang akan tambah tumbuh
Tak peduli irigasi, tak hirau kemarau

Alang-alang di pundak mahasiswa
Jadilah bendera
Alang-alang mengakar di tangan rakyat semesta
Menjelma senjata
Alang-alang merupa pena tajam, menari-nari
Di kubah parlemen
Tatkala orang-orang dalamnya sentimen
Tak bicara, dan tanpa cahaya
Tak taktik bersama batin samodra
Tak merekam desir alang-alang
Yang nyanyikan hening dalam sembah
Hyang

Siang membara, Indonesia
Di lingkar khatulistiwa
Kita orang semua bersaudara
Tak tahankan lagi derita dan nestapa
Tanah basah embun, kemarin hijau zamrud
Telah terengah, gersang dan kian kalut

Darah mengalir air
Membentur batu-batu
Air mengalir airmata
Membentur batu-batu
Airmata mengalir samodra
Mengusung alang-alang
Ke tiap tidur dan jaga
Kita

Bismillah, Indonesia
Alang-alang itu tanpa pernah penat
Dialah hatinurani rakyat
Pohonkan jangan terlewat
Jika tak ingin tersengat

1998, 1999

 

Aku Rindu pada
Mahasiswi-Mahasiswa

Kabut, kabut juga yang ngepung
Kampus kita dengan gedung-gedung putih runcing
Di sini tampak lengang
Tak ada mahasiswi-mahasiswa kuliah atau pacaran
Selain asap yang mengerucut
Ke ketinggian : ada dewa
Yang minta sesaji dan dupa

Ke lantai dua dan berikutnya
Segera kita jumpa, teman lama
Anjing-anjing penjaga
Setia pada si Tuan
Dan senantiasa menyalak jika
Mendekat mahasiswa, atau sesuatu
Yang mirip mahasiswa

Kabut, kabut juga yang ngapung
Kampus penuh putih asap kemenyan
Di pintunya
Dari kejauhan tampak gagah
Tak bersuara, tak ada gaduh seperti parlemen
Selain lengking dewata
Memberat, meninabobo raksasa
Angkuh dengan gada
Bersandar di gerbang tua

Dari situ kita akan mengetuknya
Seperti memasuki kuil keramat
Dilarang pakai sandal, sepatu, celana jeans
Apalagi si Rambut Gondrong
Di sini rumah ilmu yang wasiat

Para pendita saban kali lewat
Tak boleh berdebat
Waskita dan wibawa adalah utama
Sekalipun batin penuh piranha

Tahun-tahun akan lewat
Di siang terik
Maka kabut akan sekarat
Di antara bangku-bangku kuliah
Sang Pendita bersandar di kursi dosen
Terbatuk-batuk, dan bergumam kesepian
“Aku rindu pada mahasiswi-mahasiswa
Aku kangen suara mereka
Suara kemurnian yang meronta”

Tapi, asap dupa
Terlanjur membungkam suara

1998, 1999


Tentang Penulis:

Abdul Wachid B.S., lahir 7 Oktober 1966 di Bluluk, Lamongan, Jawa Timur.  Wachid lulus Magister Humaniora Sastra Indonesia UGM, jadi dosen-negeri di IAIN Purwokerto, dan lulus Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (15/1/2019).

Buku-buku karya Wachid : (1) Buku puisi, Rumah Cahaya (1995). (2) Buku esai, Sastra Melawan Slogan (2000). (3) Buku kajian sastra, Religiositas Alam : dari Surealisme ke Spiritualisme D. Zawawi Imron (2002). (4) Buku puisi, Ijinkan Aku Mencintaimu (2002). (5) Buku puisi, Tunjammu Kekasih (2003). (6) Buku puisi, Beribu Rindu Kekasihku (2004). (7) Buku kajian sastra, Membaca Makna dari Chairil Anwar ke A. Mustofa Bisri (2005). (8) Buku esai, Sastra Pencerahan (2005). (9) Buku kajian sastra dan tasawuf, Gandrung Cinta (2008). (10) Buku kajian sastra, Analisis Struktural Semiotik: Puisi Surealistis Religius D. Zawawi Imron (2009). (11) Buku puisi, Yang (2011). (12) Buku puisi, Kepayang (2012). (13) Buku puisi, Hyang (2014). (14) Buku puisi, Nun (2017). (15) Dimensi Profetik dalam Puisi Gus Mus, Keindahan Islam dan Keindonesiaan (2020). E-mail: [email protected]

Editor : Happy Hawra
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button