Cerpen

Cerpen Wulan Widari Endah: Nuraeni

Sudah  empat kali  lebaran terlewat, anak satu-satunya yang lahir dari rahimnya tak juga datang. Rasa rindu sudah serupa batu karang yang tenggelam di nasinnya lautan. Batu karang terlalu kokoh menggambarkan rindu. Tapi ombak lautan adalah sejatinya debur kerinduan itu, kerinduan pada anaknya. Debur  abadi yang menyiksa.

“Kenapa tak datang Nak, tega Kamu Nak!” jeritnya dalam hati ketika dia sedang berbaring seorang diri di kamarnya. Dia akan terus bergumam seperti itu dan akhirnya melepaskan tangis, hingga cahaya lampu membentuk gambaran cahaya yang aneh di matanya lalu menusuk perih mata yang sedang ia paksa untuk pejamkan.

Tak ada seorang pun yang tahu selain Tuhan. Ia memendam duka ini sendiri. Benar-benar sendiri.

***

“ Nur, Apa kamu nggak rindu Ibu?”

“Rindu hanya kecengengan sesaat. Hatiku sudah mati Mas, Kampung itu sudah hilang. Keluargaku hanya tinggal masa lalu,” matanya terus menerawang jauh, entah apa yang dicarinya. Sepertinya ia mencari keyakinan dalam kata yang diucapkannya.

“Tapi Ibu juga korban, Mas takut kamu nyesel, hanya kamu anaknya, anak kebanggaan dan kesayangannya.”

Obrolan di kasur itu hanya akan berakhir dengan dingin. Nuraini, akan segera pergi ke kamar anaknya, lalu diam-diam menangis deras. Sedangkan suaminya, memendam kesedihan atas derita istrinya. Derita yang merobek segala kenangan tentang istrinya. Kini, Nuraini hanya serupa kayu tua. Lapuk oleh tangisnya sendiri. Padahal, dahulu Nuraini adalah kembang harum yang selalu memesona siapa pun yang berada di dekatnya.

Sebenarnya suaminya sudah sangat bosan membujuk dan meyakinkan istrinya untuk pulang. Untuk sekadar mendengar dari mulut ibunya tentang kebenaran atau kebohongan. Agar beban istrinya dapat berkurang, tetapi Nuraini bukanlah wanita yang mudah diyakinkan. Sungguh tidak mudah mengubah keputusannya.

***

Kini, aku bingung, sedih, tetapi tetap bisa mengontrol diriku menjadi demikian tenang. Tenang yang mengambang. Malam ini gelap, lalu pikiranku merayap ke rumah sakit. Bagaimana bila rumah sakit kehilangan listrik? Sepertinya di tubuh-tubuh senasib nan lemah itu semua kabel/selang/cairan atau apapun alat yang digunakan untuk menyambung umur pasien menggunakan listrik. Aku jadi belajar tidak memaki PLN karena merusak kesenanganku ketika listrik padam. Tapi aku takut, pasien-pasien itu yang kehilangan terang lampu selama-lamanya.

Penyakit selalu dicari sebabnya, alasan dia pantas berbaring di kasur itu. Lalu para penunggu bercerita tentang hal-hal sebelum, pada saat terjadi, kondisi kekinian dan  diagnosis dokter. Jika yang berbaring sang ibu, maka anak yang terkecillah yang akan banyak dipeluk penjenguk. “Si kecil yang malang” kata para penjenguk. Jika yang berbaring sang bapak, maka ibu yang paling akan banyak mendapat ucapan kata “sabar” dari para penjenguk. Keadaan kemudian menjadi semikin kacau dan mencari dosa masa lalu si penderita, meminta Tuhan tidak memanggilnya dulu sebelum sempat menadapat hidayah.

Aku tak tega melihat itu semua. Mesin pengukur kesadaran bergerak perlahan, bau obat-obatan, semuanya menyayat dan membuatku berpikir, ini juga seperti roda, tinggal tunggu kapan giliranku. Kapan giliranmu. Kapan giliran kita. Kini giliran ibuku.

Aku berbohong dengan alasan konyol “malas” untuk bertemu ibuku. Itu menyakitiku dan menyakiti orang yang bertanya. Aku terdengar begitu dingin dan jumawa. Bukan itu maksudku, kata malasku adalah untuk mengingat kenyerian peristiwa itu. Aku malas mengingat tangis itu, ketidakberdayaan, yang aku sebut sebagai kebodohan. Aku benci harus bersalaman dengannya, berpura-pura lemah dan memaafkan ibuku. Samar dan tiba-tiba aku sudah menasbihkan jalan ini menjadi kebenaranku.

***

Seisi kampung riuh merayakan kematian. Suara bisik-bisik itu bahkan mengalahkan alunan suci ayat-Nya yang dipercaya mampu sampai pada jasad yang telah terkubur siang itu.

“Nuraini, belum datang, atau lebih tepatnya tidak datang.”

“Anak durhaka!”

“Padahal dulu, Nuraini adalah anak kebanggaan kampung kita, anak yang baik, cantik dan sopan.”

***

Nuraini hanya mengurung diri di kamar setelah melihat ibunya terbaring kaku di rumah sakit. Dia hanya mengintip di pintu IGD. Seluruh tubuhnya lemas, Nuraini memandangi Ibu yang selama ini selalu tampak ringkih dan menyedihkan. Rasa benci dan sedih muncul silih berganti. Tiba-tiba kejadian empat tahun yang lalu muncul dihadapannya.

***

Nuraini sedang asyik nonton tv ketika ponselnya berdering, tanpa kecurigaan apa pun dengan riang ia mengangkat panggilan telepon dari kakaknya. Kakak perempuan yang tidak lahir dari rahim ibunya.

“Hallo Kak, apa kabar? Ada apa?”

Yang didengar Nuraini hanya suara isak tangis, tangis yang pecah dengan deras. Rasanya Nuraini ingin terbang dan mendatangi suara tangis itu, ia mulai panik dan semakin bingung.

“Kak, ada apa?” kata Nuraini, sambil ikut menangis.

“Kakakmu dianu… anak Pak Bandi” suara Ibu terdengar begitu datar, tetapi mampu menjadi gemuruh hallilintar di hati Nuraini.

“Lapor polisi Bu, Pak Ustad Bu, Pak Haji Sabar atau siapa saja Bu, aku mohon! Aku pulang sekarang Bu!” teriak Nuraini kesal dan putus asa.

“Sudahlah, ini juga salah kakakmu! Keluarga Pak Bandi sudah minta maaf dan dua kotak sawah sudah diberikan sebagai tanda permohonan maaf, bahkan akhirnya kakakmu akan dinikahkan dengan anak Pak Bandi.”

Suara tangis masih saja mendesak ditelinga Nuraini, suara tangis kenyerian wanita nan lemah, dan yang membuat Nuraini gila. Ibunya tidak membela. Ibunya menyalahkan takdir. Sudah suratan, katanya.

Nuraini merasa ada kesalahan. Nuraini merasa yang bicara bukan lagi Ibu yang melahirkannya. Ibu yang sangat ia kasihi. Apa sebab ibu demikian pasrah lebih tepatnya tak perduli akan tangisan kakak? Mungkinkah karena ibu masih dendam.

Wanita yang sedang menangis nelangsa dan dipanggil kakak oleh Nuraini sesungguhnya ialah anak yang dibawa bapak setelah mengaku bahwa dia bukanlah seorang jejaka, melainkan duda beranak satu yang ditinggal mati istrinya. Saat itu Ibu merasa ditipu. Pantaskah ibu menyimpan dendam pada anak yang tak berdosa, sementara bapak sudah lama meninggal? Untuk apa selama ini ibu merawat kakak seperti anaknya sendiri? Memikirkan semua ini tubuh Nuraini tegang, kejang, lalu tak sadarkan diri di kamarnya. Setelah sadar jiwanya telah berubah membatu. []


Tentang Penulis:

Nama Wulan Widari Endah. Lahir di Rangkasbitung, 20 September 1989. Alumni Untirta, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Essainya berjudul “Semangat Pelajar Kunci Sukses Lebak”   dalam buku Bara Menjadi Daya Kado Ulang tahun Lebak ke-181. Puisinya terangkum dalam Antologi Berjalan ke Utara, Malam Adalah Jendela, Berbagi Kasih, Diverse: Poetry From 120 Indonesian Poets. Belajar menulis di komunitas Kubah Budaya. Tinggal di Cilegon. Guru SMPN 3 Cilegon.

Editor : Happy Hawra
Tags

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button