Opini

Agus Suradika: Kulitnya Hitam, Hatinya Putih; Mengenang Dr. M. Ali Taher Parasong

biem.co — “Mas Ali, lama kita tidak jumpa, Antum tampak segar sekali.”, sapa saya saat terakhir kali bertemu dengan almarhum Dr.H. M. Ali Taher Parasong, SH., MH., Senin 21 September 2020, di rumah dinas Wakil Ketua MPR yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Mas Zulkifli Hasan, di jalan Widya Chandra, Jakarta Selatan. “ Alhamdulillah Mas Agus, saya sehat, segar, tetapi tetap saja hitam. Sudah Hitam, Makin Hitam, sebagaimana candaan Mas Agus kalo menyapa saya dari podium”, gurau beliau. “wajah boleh hitam, tetapi hati mas Ali sangat putih”. Puji saya. Kami pun tertawa lepas.

Saya, dan juga beberapa teman yang senang bergurau, memang sering menggoda Mas Ali dengan menyingkat dua gelar di belakang namanya: SH., MH., dengan candaan “Sudah Hitam, Makin Hitam”. Candaan yang menunjukkan bahwa hubungan kami sangat dekat dan akrab. Sebagai aktifis di Pemuda Muhammadiyah, Mas Ali Taher merupakan senior saya. Beliau menjadi Sekretaris Umum pada periode Mas Din Syamsudin menjadi Ketua Umum (1989-1993), hasil Muktamar Palembang, sedangkan saya menjadi salah satu ketua pada periode Ketua Umum Mas Imam Ad-Daruqutni (1998-2002), hasil Muktamar Pekan Baru, Riau. Semasa berkuliah di UMJ, kami sama-sama aktif di organisasi kemahasiswaan. Mas Ali menjadi Ketua Senat Fakultas Hukum, sementara saya menjadi Ketua Senat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, pada periode yang hampir bersamaan yaitu antara tahun 1983 sampai dengan tahun 1984. Dan kami Lulus S1 pun pada tahun yang sama, 1987.

*************

Di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 106-107, warna hitam dan putih dijadikan metafora oleh Allah SWT untuk menunjukkan perilaku baik dan buruk. Kedua ayat itu memberi kabar tentang bagaimana di hari akhir nanti ada kelompok orang yang bermuka hitam kelam, dan ada pula yang bermuka putih berseri. Kepada orang yang mukanya hitam kelam, Allah bertanya: kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karenanya Allah mengganjar mereka dengan azab yang pedih disebabkan kekafirannya itu. Selanjutnya kepada mereka yang mukanya putih berseri, yakni mereka yang beriman kepada Allah dan selalu berbuat kebaikan, akan dimasukan ke dalam surga. Mereka kekal di dalamnya.

Kita semua, tidak pernah dan tidak bisa memilih warna kulit. Apa pun warna kulit kita,  semua merupakan karunia dari Allah SWT. Berbeda halnya dengan sikap dan perilaku, Allah berikan kita kebebasan memilih. Mas Ali ditakdirkan berkulit hitam, tapi sikap dan perilakukanya ‘putih’, ia telah memilih sikap dan perilaku yang bermartabat yaitu sebagai pribadi yang bermanfaat bagi umat dan bangsa. Perilaku kebaikan yang dilandasi keimanan kepada Allah SWT. Ia menjadi aktifis di Muhammadiyah dalam kurun waktu yang cukup panjang. Bisa jadi, sepanjang hayatnya sejak sekolah dasar sampai wafat ia selalu bersentuhan kebaikan dengan Muhammadiyah. Kegembiraannya berorganisasi telah menghantarkan ia menjadi politisi yang disegani. Dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota DPR-RI, Mas Ali tegas dalam berbicara dengan pilihan kata yang santun dan narasi yeng terukur.

Masih terngiang di telinga publik ketika Mas Ali mewakili aspirasi banyak pihak dengan tegas menyampaikan perasaan dan kritiknya kepada Menteri Agama, Jenderal (purn) Fachrul Razi : “Pak Menteri, berhentilah mengucap kata radikalisme ….. Kalau pak Menteri Agama sudah memandang rakyatnya dengan kebencian, berhenti dari jabatan Menteri Agama Republik Indonesia…” Dan betul, Fakhrul Razi pun diberhentikan dari jabatannya sebagai Menteri Agama. Publik tahu Bersama bahwa di awal menjadi Menteri, Fachrul Razi mengucap kata yang menyakitkan umat Islam. Menyatakan bahwa ia adalah Menteri semua agama, dan tidak hanya mengurusi agama Islam. Benar secara substansial, tetapi pilihan katanya menyakitkan umat. Apalagi, Menag juga menyatakan bahwa guru ngaji, ustadz, adalah bentuk awal dari radikalisme.

Kini, Menteri Agama telah diganti oleh Yaqut Cholil Qoumas yang juga kontroversi dan banyak mendapat sorotan publik. Seorang sahabat di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta berharap suatu saat Mas Ali juga akan menyampaikan secara tegas agar Menag yang baru tidak melihat Islam dengan kebencian. Tetapi Allah berkehendak lain, beliau dipanggil keharibaan Allah SWT. Beliau menutup mata selamanya ketika banyak orang sangat berharap kepada Mas Ali agar dapat menyampaikan aspirasi umat demi kebaikan Islam dan Indonesia. Kita  berharap akan muncul ‘tokoh putih’ seperti Mas Ali di masa mendatang sebagai pembela dan corong umat dan bangsa ini. Selamat jalan Mas Ali. Boleh jadi wajahmu hitam di dunia, tetapi di alam sana saya yakin wajahmu putih berseri. Syurga telah menantimu sahabat. (*)


Penulis adalah Guru Besar FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Editor : Esih Yuliasari

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ragam Tulisan Lainnya
Close
Back to top button