InspirasiOpini

Sang Pelayan, Formula E, dan Presiden Indonesia 2024

Oleh : Iwan Nur Iswan *

biem.coIndonesia sukses menjadi pusat perhatian dunia setelah ajang Formula E digelar di Jakarta International E-Prix Circuit (JIEC), Ancol, Jakarta Utara pada 4 Juni 2022. Tidak kurang dari 150 negara melakukan siaran langsung. Arena penuh oleh 60.000 penonton hingga di area penonton festival. Para petinggi hadir. Kapolri, Ketua MPR, Ketua DPR, Presiden dan para petinggi partai siap sigap menikmati sajian balapan berteknologi tinggi. Walau belum ada anak negeri yang turut dalam balapan, hiruk-pikuk kegembiraan masyarakat terdengar dari sana-sini sesaat setelah balap mobil ramah lingkungan bertenaga listrik itu selesai. Kegembiraan yang datang dari rasa bangga dan kagum atas apa yang mereka saksikan. Formula E digelar, suara miring berkenaan kebijakan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan menguap, sementara fakta kesuksesan besar yang dipertontonkan telah berbicara dengan sangat lantang tanpa dapat dibendung oleh siapapun.

Fakta itu terus mendengung hingga ke penjuru dunia. Bahkan Chief Championship Officer dan Co-Founder Formula E, Alberto Longo habis-habisan memuji gubernur yang tidak pernah menjawab kritik dengan amukan dan caci maki itu. Untuk memuji Gubernur yang keberhasilan program kerjanya acapkali tidak diladeni media itu, Longo mengaku kehabisan kata-kata. Kata-kata rupanya sudah tidak sanggup lagi memberi pujian pada keberhasilan Formula E yang fantastis. Meski begitu, ia rupanya merasa harus tetap mengutakan sesuatu. Di akun Instagramnya ia menulis: “Kepemimpinan, kebaikan, keramahan, kesetiaan, dan Kejujuran hanyalah beberapa dari sekian banyak kata sifat yang dapat mendefinisikan sahabat baik saya Anies Baswedan. Semua ini dimungkinkan karena tim yang luar biasa, kepemimpinan Anies Baswedan yang luar biasa, dan salah satu penonton terbaik dunia.”

Terbayang pengkritik yang tidak habis-habisnya menjatuhkan apa saja yang dikerjakan Anies Baswedan pada masa kepemimpinannya di depan publik agar publik percaya bahwa lelaki yang lahir dari trah darah pahlawan kemerdekaan Republik Indonesia itu tidak dapat diandalkan. Terbayang bagaimana Pemprov Jakarta harus berjibaku mewujudkan ajang yang pada akhirnya mengharumkan semua lapisan pejabat Indonesia itu. Sebuah ajang yang menimbulkan perasaan haru yang luar biasa di dada. Saya, sebagai satu di antara puluhan ribu manusia yang menyaksikan langsung dapat merasakan atmosfer kedigjayaan Indonesia. Rasa percaya diri di dada anak-anak Indonesia bahwa Indonesia harus bersiap mengambil peranan penting di kancah dunia. Formula E yang sempat ditertawakan oleh kaum politikus muda dari partai yang konon milik anak muda itu, telah menegaskan posisi Indonesia dari Jakarta, dari apa yang Anies Baswedan perjuangkan.

Terbayang seseorang yang berinisial Giring Nidji yang sempat melontarkan pernyataan ini: “Gokil sih ini, project besar, ambil uang rakyat dan waktu persiapan yang mepet banget,” katanya dalam video saat mengunjungi pembangunan sirkuit. “Saya ga yakin sih bisa kejadian pembangunan sirkuit ini, dan kalau dipaksakan semoga tidak malu-maluin nama baik Indonesia di mata Internasional,”, yang ditanggapi secara tidak langsung oleh Anies Baswedan: “Untuk hal-hal yang perlu pembuktian kita lihat nanti karena itulah nanti bukti paling kuat atas apa yang kami rencanakan.”

Kesuksesan bukan milik Anies seorang. Itu hasil kerjasama banyak pihak. Banyak sekali yang terlibat. Dari Presiden, Gubernur hingga satuan keamanan dan orang berseragam oranye yang bertugas mengibarkan bendera di pinggir sirkuit. Semua yang terlibat perlu mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Orang-orang yang mau berjibaku bersama Anies Baswedan untuk menunjukkan hal-hal yang tampak mustahil menjadi lebih dari sekadar nyata di depan mata.

***

Last but not least, tangan dingin Anies terus bekerja dan menciptakan begitu banyak hal. Meski dihantam kanan kiri, ia tetap bekerja dengan dingin. Melayani masyarakat dan menyemangati panitia yang terlibat. Ia tidak melayani noise, melainkan mendengarkan voice. Dari sikap kesehariannya sebagai pemimpin, ia tampak telah memahami betul bahwa tidak semua suara adalah suara, melainkan hanya kebisingan yang sengaja didengungkan untuk memancing kegaduhan. Karena itu, wajar jika selama ini Anies tidak pernah menunjukkan sikap tertarik pada kegaduhan. Kadang-kadang ia malah bergurau saat menghadapi noise.

News Formula E

Formula E hanyalah satu dari sekian banyak capaian yang telah ia raih untuk Jakarta; untuk Indonesia. Sepasang tangannya terlampau tabah untuk tetap menjalankan setiap mimpi kepemimpinannya yang selalu berpihak pada kepentingan rakyat, sehingga serangan-serangan terhadapnya selalu berakhir sia-sia. Sebuah falsafah Jawa mengatakan, becik ketitik ala ketara yang mengandung makna, perbuatan baik dan perbuatan yang jelek pada akhirnya akan nampak. Sikapnya yang peduli dan melayani tidak dapat disembunyikan oleh seribu satu gosip dunia politik, karena publik pada akhirnya tetap melihat hasilnya, di antaranya perjuangannya mencabut izin reklamasi, pembebasan pajak bumi dan bangunan (PBB) bagi para guru, dosen, tenaga pendidik serta pensiunan, termasuk juga veteran, revitalisasi Taman Ismail Marzuki, penata kota, penataan kampung-kampung, dan sebagainya.

Sikap peduli dan melayani dalam kepemimpinannya juga dapat dilihat saat masa awal wabah Covid-19. Anies mati-matian mencari formula untuk menyelamatkan warga Jakarta dari ancaman wabah. Beberapa kali tampak ada perbedaan antara kebijakan pemerintah pusat dengan Pemprov Jakarta. Anies di tengah gempuran para kritikus, kepungan wacana media, dan kebingungan masyarakat, tetap tenang dan tegak. Lambat-laun begitu, apa yang dilakukannya di Jakarta menjadi rujukan bagi pemerintah daerah di Indonesia. Bahkan menjadi rujukan oleh kebijakan pemerintahan pusat. Hal tersebut memang tidak pernah benar-benar dikatakan, tapi kesamaan tindakan para pemangku kebijakan dengan apa yang dilakukan Anies adalah indikator penting untuk melihat, siapa yang diikuti dan siapa yang mengikuti.

Ia bukan pemimpin yang sok kuasa. Tapi pemimpin negarawan dan pelayan bagi semua pihak. Ia bukan merasa “Raja” yang harus disembah, dimana titahnya — meski salah — wajib ditaati. Ia mendengarkan hal positif dan mencoba maksimal untuk mengerjakannya sebaik mungkin. Seperti Formula E. Ia bahkan hadir saat beberes panitia di Minggu Pagi, 5/6/24. Ini pemimpin macam apa? Untuk beberapa alasan itulah, saya makin yakin dan tidak salah dalam memilih calon Pelayan Rakyat Indonesia. Presiden RI untuk nama jabatannya. Mas Anies wajib menjadi Pelayan seluruh masyarakat Indonesia tanpa kecuali. Wajib mensejahterakan dan membahagiakan rakyatnya. Dan wajib berikhtiar untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia yang ber-aneka.

Selamat, Mas Anies!

 

nur iswan

Iwan Nur Iswan, Penulis adalah Inisiator Sahalang4nies

Editor: Rois Rinaldi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button