Terkini

Sosialisme di Indonesia, Oleh: Faris Aulia Rahman

biem.co

Definisi Sosialisme

Sosialisme adalah sistem ekonomi dan ideologi politik yang menekankan pada kepemilikan bersama atau negara terhadap alat-alat produksi dan distribusi, serta pemerataan kesejahteraan dalam masyarakat. Dalam sosialisme, produksi dan sumber daya dikelola untuk kepentingan bersama, bukan demi keuntungan individu semata.

Secara umum, sosialisme bertujuan menciptakan kesetaraan dan keadilan sosial melalui kontrol publik terhadap alat-alat produksi seperti pabrik, tanah, dan sumber daya alam.

Inti dari sosialisme meliputi:

Kepemilikan Kolektif (Anti-Privat): Menghilangkan atau membatasi kepemilikan pribadi atas aset-aset utama yang menghasilkan kekayaan. Tujuannya agar kekayaan digunakan untuk kesejahteraan bersama, bukan keuntungan segelintir individu.

Kesetaraan Ekonomi dan Penghapusan Kelas: Berusaha mengurangi jurang antara si kaya dan si miskin. Kekayaan harus didistribusikan ulang (redistribusi) berdasarkan prinsip “dari setiap orang sesuai kemampuannya, kepada setiap orang sesuai kebutuhannya” atau “sesuai kontribusinya” dalam bentuk yang lebih praktis.

Perencanaan Ekonomi (Anti-Pasar Bebas): Meyakini bahwa negara atau komunitas perlu merencanakan alokasi sumber daya dan produksi secara rasional untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, bukan menyerahkannya pada mekanisme pasar bebas yang dianggap eksploitatif.

Spektrum Luas: Sosialisme memiliki berbagai bentuk, mulai dari Sosialisme Demokratik (seperti di negara-negara Nordik dengan sistem kesejahteraan kuat) hingga Komunisme atau Sosialisme Revolusioner, yang berusaha mencapai masyarakat tanpa kelas melalui revolusi.

Ringkasnya, sosialisme adalah upaya untuk mengutamakan kolektivitas dan keadilan di atas individualisme dan keuntungan pribadi, dengan menempatkan kontrol produksi di tangan rakyat atau negara.

Permasalahan Sosialisme di Indonesia

Di Indonesia, gagasan sosialisme pernah menjadi diskursus penting, terutama pada masa awal kemerdekaan. Beberapa tokoh bangsa, seperti Soekarno, menekankan pentingnya keadilan sosial melalui konsep Marhaenisme, yang memiliki nuansa sosialistik.

Namun, penerapan sosialisme di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan.

Pertama, stigma ideologis yang melekat pada sosialisme akibat konflik politik masa lalu, terutama terkait dengan komunisme.

Kedua, realitas ekonomi global yang semakin terintegrasi dengan pasar bebas membuat penerapan sosialisme penuh hambatan.

Ketiga, ketimpangan sosial dan korupsi membuat nilai-nilai sosialisme sulit diwujudkan secara nyata.

Permasalahan ini semakin kompleks karena masyarakat Indonesia memiliki tingkat pluralitas yang tinggi — baik dari segi etnis, budaya, maupun agama. Perbedaan kepentingan antar kelompok sering kali menjadi penghalang penyatuan visi politik dan ekonomi berbasis sosialisme.

Selain itu, perkembangan demokrasi dan sistem ekonomi pasar bebas di Indonesia menyebabkan sosialisme kerap dianggap tidak relevan. Padahal, di tengah ketimpangan sosial yang kian melebar, nilai-nilai sosialisme justru bisa menjadi alternatif solusi.

Contohnya dapat dilihat pada kebijakan sosial seperti subsidi pendidikan, jaminan kesehatan nasional, dan program bantuan sosial. Kebijakan-kebijakan tersebut sejatinya merupakan wujud penerapan prinsip sosialisme, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit. Sayangnya, lemahnya birokrasi dan maraknya penyalahgunaan wewenang membuat kebijakan yang seharusnya berpihak pada rakyat kecil sering kali tidak berjalan optimal.

Solusi yang Ditawarkan

Meskipun menghadapi banyak tantangan, nilai-nilai sosialisme tetap relevan untuk memperkuat keadilan sosial di Indonesia. Beberapa langkah yang dapat ditempuh antara lain:

Memperkuat peran negara dalam memastikan distribusi sumber daya yang lebih adil.

Memberdayakan ekonomi rakyat melalui koperasi dan pelaku UMKM.

Mereformasi sistem pendidikan agar lebih menanamkan nilai solidaritas dan kepedulian sosial.

Meningkatkan transparansi dan memberantas korupsi, agar keadilan sosial dapat berjalan efektif.

Selain itu, pemerintah perlu menata sistem perpajakan agar lebih progresif, sehingga kelompok kaya berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan nasional. Dana publik dari pajak tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kelas bawah.

Penting juga bagi masyarakat untuk menumbuhkan kembali semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Gotong royong sejatinya merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai sosialisme yang telah hidup dalam budaya lokal jauh sebelum istilahnya dikenal. Dengan menghidupkan kembali nilai ini, kesenjangan antara kaya dan miskin dapat berkurang, serta memperkuat rasa persatuan bangsa.

Solusi lain yang tidak kalah penting adalah mendorong keterlibatan aktif masyarakat sipil dalam mengawasi jalannya pemerintahan. Kontrol sosial dari masyarakat akan membuat kebijakan publik lebih transparan dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Penutup dan Opini

Sosialisme di Indonesia bukan sekadar wacana ideologis, tetapi dapat diimplementasikan dalam bentuk nilai keadilan sosial dan kebersamaan. Meskipun penerapan sosialisme secara murni sulit diwujudkan, prinsip-prinsipnya tetap relevan untuk menjawab tantangan ketimpangan sosial dan ekonomi saat ini.

Menurut saya, Indonesia sebaiknya mengambil jalan tengah, yakni mengintegrasikan nilai-nilai sosialisme ke dalam sistem demokrasi dan ekonomi pasar yang berkeadilan. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat dapat dicapai tanpa harus terjebak dalam konflik ideologis yang kaku.

Penerapan sosialisme dalam konteks Indonesia harus fleksibel, dengan memadukan modernitas dan kearifan lokal. Dengan cara itu, Indonesia dapat menciptakan model pembangunan yang unik — tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemerataan kesejahteraan.

Harapan terbesar adalah agar generasi muda Indonesia mampu memahami nilai-nilai sosialisme secara kritis, sehingga dapat menghidupkan kembali semangat keadilan sosial yang menjadi dasar berdirinya bangsa ini.


Penulis adalah mahasiswa semester 1 mata kuliah Pengantar Ilmu Politik, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP Untirta. 

Editor:

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button