Rumah Ingatan
Ada tempat yang tidak sekadar kita datangi, tetapi diam-diam menjadi rumah bagi ingatan.
KOLOM, biem.co – Saya pernah ke Denanyar, Jombang, menghadiri Haul KH Bisri Syansuri bersama Fraksi DPRD Banten, ketika saya masih menjadi Tenaga Ahli DPRD. Saya juga pernah berziarah ke Tebuireng bersama Aki Gunung Kaduronyok. Di tempat-tempat seperti itu, sejarah terasa dekat. Ia hidup dalam pesantren, dalam nama para kiai, dalam sanad keilmuan, dan dalam ingatan tentang bagaimana Nahdlatul Ulama dibangun oleh orang-orang yang bekerja jauh melampaui kepentingan dirinya sendiri.
Muktamar NU selalu menarik dibaca lebih jauh daripada soal siapa menang dan siapa kalah. Yang diperebutkan bukan hanya kursi ketua umum. Yang diperebutkan adalah arah rumah besar bernama NU: siapa yang memegang kunci, bagaimana pintu dibuka, dan untuk siapa rumah itu dijaga.
Kini kunci itu berpindah tangan.
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031. Dalam penjaringan calon ketua umum, Gus Kikin memperoleh 472 suara, tertinggi dibandingkan kandidat lainnya. Lima nama kemudian diserahkan kepada Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), yang memilih Gus Kikin secara mufakat.
Muktamar selesai. Pekerjaan politik dan organisatoris baru dimulai.
Memenangkan Muktamar adalah satu perkara. Mengelola kemenangan adalah perkara yang jauh lebih berat.
Seorang kandidat boleh menghitung suara. Seorang ketua umum harus menghitung seluruh warga organisasi, termasuk mereka yang tidak memilihnya.
Mereka yang Bertarung
Ada ironi dalam perjalanan politik NU.
Pada Muktamar di Lampung 2021, Nusron Wahid dan Saifullah Yusuf berada di belakang KH Yahya Cholil Staquf. Gus Yahya kemudian memenangkan pertarungan dengan 337 suara berbanding 210 suara yang diperoleh KH Said Aqil Siroj. Keduanya memahami medan. Mereka tahu bahwa Muktamar bukan hanya soal pidato, gagasan, dan reputasi. Ada jaringan, komunikasi, persuasi, kepercayaan, dan kemampuan membaca arah angin.
Gus Yahya pernah menyebut mereka sebagai “pendekar-pendekar Muktamar.”
Seorang pendekar tidak hanya tahu bagaimana mengangkat pedang. Ia tahu kapan pedang harus dihunus dan kapan harus disimpan.
Lima tahun kemudian, medan berubah.
Saifullah Yusuf atau Gus Ipul berada dalam posisi strategis sebagai Menteri Sosial sekaligus Sekretaris Jenderal PBNU dan Ketua Organizing Committee Muktamar. Nusron Wahid juga berada di pemerintahan sebagai Menteri ATR/Kepala BPN. Konfigurasi yang dahulu membawa Gus Yahya ke kursi ketua umum tidak lagi persis sama.
Apakah itu pengkhianatan?
Terlalu sederhana jika semua perubahan posisi disebut pengkhianatan. Politik lebih dingin daripada itu. Yang berubah bisa saja bukan persahabatan, melainkan kepentingan.
Pada 2021 pertanyaannya adalah siapa yang memimpin NU. Pada 2026 pertanyaannya lebih besar: NU akan menjadi apa setelah memasuki babak baru abad keduanya?
Orang yang kemarin membantu memenangkan seseorang tidak otomatis menjadi bagian dari kekuasaan orang itu selamanya.
Jasa politik memiliki umur. Loyalitas memiliki batas. Dan kemenangan mempunyai tanggal kedaluwarsa.
Ketika Peta Bergeser
Gus Kikin memenangkan kontestasi, tetapi sekaligus mewarisi seluruh persoalan yang membuat Muktamar menjadi ramai. Ia menerima organisasi dengan sejarah panjang, jaringan luas, kepentingan beragam, dan ekspektasi yang tinggi.
Kemenangan harus segera diterjemahkan menjadi kepemimpinan.
Gus Kikin tidak boleh menjadi Ketua Umum dari kelompok yang memenangkan dirinya. Ia harus menjadi Ketua Umum seluruh NU. Di sinilah seorang kandidat harus selesai dengan dirinya sebagai kandidat. Ketika nama telah ditetapkan, kampanye harus berhenti, perhitungan kubu harus diredakan, dan mereka yang dahulu berdiri di barisan berbeda harus kembali ditempatkan sebagai bagian dari rumah yang sama.
Jika tidak, Muktamar hanya melahirkan pemenang baru tanpa menghasilkan persatuan baru.
Di Balik Pintu
AHWA menjadi salah satu titik penting dalam Muktamar kali ini.
Tidak bijak jika setiap keputusan AHWA langsung dicurigai sebagai permainan elite. Tuduhan membutuhkan bukti. Tetapi mekanisme organisasi juga tidak sehat jika dianggap tidak boleh ditanya.
Dalam politik kelembagaan, mekanisme bukan perkara teknis belaka. Mekanisme adalah cara kekuasaan didistribusikan.
Siapa yang memilih? Siapa yang menyaring? Siapa yang menentukan keputusan akhir? Dan sejauh mana suara yang datang dari bawah diterjemahkan menjadi keputusan di tingkat atas?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting agar AHWA tidak hanya kuat secara tradisi, tetapi juga kuat secara legitimasi.
Dalam Muktamar kali ini, Gus Kikin memperoleh suara tertinggi dalam penjaringan sebelum akhirnya dipilih melalui AHWA. Tidak tepat membenturkan cabang dengan AHWA secara hitam-putih. Yang lebih penting adalah memastikan keduanya saling memperkuat.
Suara cabang memberi denyut demokrasi. AHWA memberi kedalaman musyawarah.
Jika keduanya bertemu secara sehat, NU memperoleh legitimasi yang lebih kuat. Jika keduanya dipertentangkan, organisasi akan terus sibuk memperdebatkan siapa yang paling berhak memegang kunci.
Suara yang Belum Usai
Gus Yahya memang tidak kembali menjadi Ketua Umum. Tetapi kekalahan elektoral tidak serta-merta menghapus seluruh pengaruh politik dan sosial yang telah terbentuk selama lima tahun.
Ia memperoleh 258 suara dalam penjaringan. Angka itu bukan kemenangan, tetapi terlalu besar untuk dianggap tidak berarti.
Ke mana suara-suara itu setelah Muktamar?
Apakah mereka menjadi bagian dari kepemimpinan baru? Apakah mereka menjadi kelompok kritis? Apakah mereka melebur? Atau menunggu momentum berikutnya?
Jawabannya akan sangat menentukan kualitas kepemimpinan Gus Kikin.
Pemimpin yang kuat bukan yang berhasil membuat semua orang memilihnya. Pemimpin yang kuat adalah orang yang setelah terpilih mampu membuat mereka yang tidak memilihnya tetap percaya bahwa organisasi ini juga milik mereka.
Amanah yang Diuji
Gus Kikin memiliki modal sejarah yang kuat. Ia adalah pengasuh Pesantren Tebuireng dan memiliki garis keturunan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Tetapi sejarah tidak boleh berubah menjadi cek kosong.
Nasab adalah warisan. Legitimasi adalah pekerjaan.
Nama besar dapat membuka pintu. Kinerja menentukan apakah pintu itu tetap terbuka.
Lima tahun ke depan tidak cukup bagi Gus Kikin hanya menjaga nama baik Tebuireng atau meneruskan tradisi keluarga besar pesantren. Ia harus membuktikan kemampuan mengelola organisasi modern yang semakin kompleks, dengan warga yang semakin beragam dan tantangan sosial yang semakin rumit.
NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu berdiri di antara tradisi dan perubahan: tidak tercerabut dari akar, tetapi juga tidak takut menghadapi zaman.
Setelah terpilih, Gus Kikin menyatakan kesediaan menjalankan amanah organisasi dan mematuhi ketentuan yang berlaku dalam NU. Pernyataan semacam itu penting, tetapi setiap janji kepemimpinan akan diuji oleh kenyataan.
Ketika berbicara tentang persatuan, publik akan melihat bagaimana ia memperlakukan kelompok yang berbeda. Ketika berbicara tentang NU sebagai milik bersama, cabang akan melihat apakah ruang mereka benar-benar terbuka. Ketika berbicara tentang NU yang tidak menjadi alat politik, warga NU akan melihat seberapa kuat organisasi menjaga jarak dengan kepentingan kekuasaan.
Kontrak yang paling penting adalah kepercayaan warga NU.
Kepercayaan tidak bisa ditandatangani.
Ia harus dibangun.
Dekat, tetapi Tak Larut
Inilah salah satu ujian terbesar NU ke depan.
Banyak tokoh NU berada dalam lingkaran negara. Sebagian menjadi pejabat, sebagian memiliki akses politik, sebagian berada dekat dengan pusat kekuasaan. Itu bukan dosa. Tetapi kedekatan dengan negara selalu membawa risiko.
Pertanyaannya bukan apakah NU harus jauh dari pemerintah. Tidak. NU adalah bagian penting dari masyarakat Indonesia dan tentu perlu bekerja sama dengan negara. Yang harus dijaga adalah otonomi sikap.
Dekat untuk bekerja sama, tetapi cukup jauh untuk tetap mampu mengkritik. Menerima program negara tanpa kehilangan kemampuan mengatakan tidak.
Organisasi masyarakat sipil yang kehilangan keberanian mengkritik kekuasaan akan kehilangan salah satu fungsi terpentingnya.
NU tidak boleh menjadi halaman belakang negara. Ia harus tetap menjadi kekuatan masyarakat yang mampu berdialog dengan negara tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Konflik memang melelahkan. Tetapi ada sesuatu yang lebih berbahaya: ketika semua orang terlalu nyaman untuk berbeda pendapat.
Organisasi bisa tampak tenang ketika orang-orang sudah merasa bahwa keputusan tidak mungkin berubah. Ketenangan semacam itu bukan selalu tanda kedewasaan. Bisa jadi tanda bahwa kritik telah kehilangan tempat.
Gus Kikin justru membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan tidak. Ia membutuhkan pengurus yang tidak selalu mengangguk, cabang yang berani menyampaikan kegelisahan, dan ulama yang tidak takut mengingatkan.
Pemimpin yang hanya dikelilingi orang yang selalu berkata “iya” akan kehilangan kemampuan mendengar kenyataan.
Kekuasaan membutuhkan kritik seperti tubuh membutuhkan rasa sakit.
Tanpa rasa sakit, manusia tidak tahu bahwa ada sesuatu yang sedang rusak.
Jangan Menutup Pintu
Ada penyakit lama dalam politik organisasi: setiap kemenangan ingin dibayar dengan pembalasan. Hari ini menang, lawan disingkirkan. Besok lawan berkonsolidasi. Lima tahun kemudian berganti. Lalu pembalasan diulang.
Jika pola itu terus berlangsung, Muktamar hanya menjadi siklus perebutan kekuasaan lima tahunan.
NU membutuhkan sesuatu yang lebih dewasa: pergantian kepemimpinan tanpa penghancuran persaudaraan.
Yang kalah tidak harus menjadi musuh. Yang menang tidak harus menjadi penguasa mutlak. Yang berbeda pilihan tidak harus kehilangan tempat.
Kemampuan merawat perbedaan itulah yang membedakan organisasi besar dari sekumpulan orang yang kebetulan sedang berkumpul.
Saya kembali teringat Denanyar dan Tebuireng.
Di sana, kebesaran NU tidak terasa dari perebutan kursi. Ia terasa dari panjangnya ingatan.
Para pendiri meninggalkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada jabatan. Mereka meninggalkan rumah.
Rumah itu harus terus dihuni, dirawat, dan dijaga agar tidak berubah menjadi benteng.
Kini Gus Kikin memegang kuncinya.
Apa yang akan ia lakukan dengan kunci itu?
Apakah pintu dibuka lebih lebar? Apakah cabang semakin didengar? Apakah mereka yang kalah tetap memiliki ruang? Apakah AHWA semakin dipercaya? Apakah hubungan dengan negara tetap sehat? Apakah para elite di sekitar ketua membantu memperkuat organisasi atau justru membangun pintu-pintu kecil untuk kepentingannya sendiri?
Yang paling penting: apakah Gus Kikin mampu menjadi Ketua Umum NU, bukan Ketua Umum dari sebuah kelompok yang mengantarkannya menuju kursi?
Lima tahun bukan waktu yang panjang bagi organisasi sebesar NU. Tetapi lima tahun cukup untuk meninggalkan jejak.
Kekuasaan bukan soal siapa yang berhasil memegang kunci. Kekuasaan diuji oleh bagaimana kunci itu digunakan.
Ketika masa khidmah berakhir, kunci itu harus kembali. Yang tertinggal bukan kursinya, bukan rombongannya, bukan pula sorak kemenangan. Yang tertinggal adalah cara sebuah amanah dijalankan dan bagaimana sebuah rumah dijaga ketika semua kepentingan telah lewat.
Dan mungkin di situlah sejarah akan menimbang: bukan siapa yang paling keras berebut pintu, melainkan siapa yang menjaga agar rumah tetap menjadi rumah bagi semua.
Semoga teguh menunaikan amanah, menghadirkan maslahah penuh barokah; tahniah, Yai Mif dan Gus Kikin. (Red)








