CerpenInspirasi

Cerpen Tian Tarymas: Bisik Kehampaan

Cerpen Tian Tarymas

 

“Ma!”

 

Sekalimat pertamaku saat tiba dirumah. Perempuan cantik—bagiku, tentu saja—yang pertama kali kucari. Sosok perempuan paruh baya, yang penuh kehangatan dan kelembutan. Perempuan yang berjuang melawan maut, hanya untuk melihatku turun ke bumi. Perempuan mulia, dimana ada surga di telapak kakinya.

 

Tentu perempuan itu yang pertama kali kucari. Aku yang selalu bergantung padanya. Aku, yang kuakui, selalu dimanja olehnya. Hampir seluruh keperluanku, disiapkan olehnya. Mulai dari bangun tidur, sarapan, bekal makan siang, hingga motor kesayanganku disiapkan oleh mama. Padahal aku sudah kuliah dan bekerja disalah satu perusahaan swasta. Dan aku tak pernah memintanya. Tapi sifat manjaku yang membuatnya melakukan itu semua.

 

Ya, aku memang bukan anak yang baik. Tapi aku tak pernah melakukan sesuatu yang menghina pengorbanannya. Dimana aku, sebagai remaja, adalah golongan yang ingin melakukan segala sesuatu semaunya. Dan aku tidak akan dan tidak ingin seperti remaja kebanyakan. Yang terhipnotis dengan pergaulan, trend dan keakuan.

 

Aku, adalah anak dengan keterbatasan ekonomi orangtuanya. Tentu saja itu tidak membuatku risih. Karena hidup adalah tentang bagaimana cara mensyukurinya. Bukan tentang keakuan, yang terkadang—bahkan selalu menuntun manusia pada jalan yang diharamkan.

 

Keikhlasan mama membuatku tak ingin melukai keringatnya. Kesederhanaan hidup membuatku dekat dengan kasih sayang orangtuaku. Kami saling mendukung sama lain. Kami saling menghormati.

 

“Ma!”

 

Hingga aku tiba di kamar pun, aku belum juga menemukannya. Selintas kupikir mama sedang pergi sebentar. Rasanya, tidak melibatkan mama dalam hal sepele di hidupku, akan begitu hampa. Tidak mencampur adukkan tangan mama dalam setiap kegiatanku, begitu hilang. Bila semua orang membatasi ruang antara anak dengan ibu, aku justru menghancurkan ruang itu. Hingga yang ada, hanyalah aku dan mama. Hanya aku dan mama!

 

Segala aspek kehidupanku, terdapat campur tangan mama. Tentang nasihat, sebuah amarah, melintasi ruang hati, semua dengan mama. Perasaan yang kumiliki untuk mama, lebih dari sekedar rasa sayang, lebih dari sekedar membutuhkan. Aku telah meletakkan mama pada posisi yang sakral. Begitu suci. Juga indah. Jauh dari kata hina. Namun aku tidak mempertuhankannya.

 

Karena mama memang perempuan yang mempesona. Tangannya yang lembut menyimpan kekuatan untuk menjagaku dengan baik. Hatinya yang manis tersimpan ketegasan sikap tentang sebuah perlakuan. Bibir mungilnya mengandung untaian mustajab bagi keselamatanku.

 

Mama pun begitu sangat mengagumkan. Setiap masakan yang kumakan, aku tahu di sana terdapat cinta dari mama. Sekalipun asin rasanya, makanan itu tetaplah nikmat adanya. Tak ada yang lebih indah, selain mensyukuri apa yang telah dikerjakan mama. Setia merawatku, meski kelakuanku mengundang tangis baginya.

 

Masih terekam jelas dalam ingatanku. Dulu waktu masih kelas 1 SD, aku selalu diantar ke sekolah oleh mama. Beliau setia menungguku di sekolah hingga pulang. Begitu juga dengan teman-temanku yang lain. Tapi mereka hanya diantar selama seminggu oleh orangtuanya. Sedangkan aku masih saja diantar dan ditunggui oleh mama.

 

Hingga suatu hari, usai mengantarku hingga kekelas, mama memutuskan untuk pulang dan kembali nanti untuk menjemputku. Aku yang tidak tahu maksud kepulangan mama, langsung keluar kelas, berlari mengejar mama dan menangis histeris.

 

Aku meminta mama untuk tidak meninggalkanku. Tapi dengan lembut, mama meminta ijin untuk pulang, dan berjanji akan kembali untuk menjemputku. Dengan tangisku yang terisak, aku bersikukuh untuk meminta mama menemaniku. Akhirnya mama menyerah dan tetap menemaniku hingga kelas 2 SD.

 

Sejak saat itu, semua orang mengatakan, bahwa aku adalah anak yang manja. Biarlah. Walau hingga kini mereka masih saja mengatakan bahwa aku anak manja. Aku tak peduli. Tanggung jawabnya untuk setia merawatku, membuat mama tak pernah mengeluhkan apapun. Kecintaannya padaku, mengabaikan semua bibir yang menyisihkanku.

 

Bahkan rekan kerjaku, menertawakan kelakuanku dengan mama.

 

“Nyokap lu tuh, terlalu baik buat anak ngelunjak kayak lu!” serunya waktu itu seraya tertawa.

 

Aku tak bisa menanggapi seruannya itu dengan emosi. Justru aku membenarkannya dengan tertawa. “Iya, ya …”

 

Benar adanya, mungkin aku terlalu beruntung memiliki seorang ibu seperti mama. Tak ada ibu seperti mamaku, yang rela menghampiri tempat kerja anaknya hanya untuk mengantar sepatu ganti anaknya. Atau untuk mengantar flash disk yang tak sengaja tertinggal, dan harus diantar karena pentingnya flash disk untuk keseharianku.

 

Begitukah ibumu memperlakukanmu?

 

Malaikat pun tahu, mama adalah juaranya.

 

Sebab mama selalu saja menggemaskan. Selalu saja membuatku gila. Sudah lima menit aku dirumah ini, mama belum juga muncul dihadapanku. Menatap dan memberikan senyum terindahnya untuk anaknya yang manja. Memelukku dengan hangat. Membelaiku dengan sayang. Mencium keningku, kemudian berkata, “Dasar anak Mama yang manja.”

 

“Mama!”

 

Kupanggil sekali lagi, malaikatku yang mengagumkan. Aku pun melangkah gontai untuk mencarinya. Perempuan baik hati itu benar-benar membuatku gila. Bagaimana tidak, dalam waktu sepuluh menit saja, aku hampir sekarat karena tak menemukannya.

 

Perempuan yang kupanggil mama itu, memang sangat mengagumkan. Entah, sudah berapa kali harus kubilang bahwa mama memang mengagumkan. Tentu saja. Cinta yang kumiliki untuknya, tak seberapa dengan cinta sejati yang ia peruntukkan untukku.

 

Aroma tubuhnya saja masih menjalar di setiap sudut ruangan. Aroma keikhlasan, pengorbanan dan kesetiaan. Aroma yang takkan pernah tergantikan. Ada bisik yang mencoba membangkitkan kenanganku. Kuabaikan, sebab aroma tubuhnya menghimpit logikaku. Kunikmati aromanya hingga menghantarku ke sebuah kamar. Tempat dimana beliau biasa beristirahat. Selain aroma itu masih kental terasa, figura-figura wajahnya menghiasi di sudut kamar.

 

Aku terduduk di tepi kasurnya. Kuraba, seakan yang kubelai adalah wajahnya yang anggun. Kupendarkan pandanganku. Perasaan itu semakin menyeruak ke permukaan. Bisik-bisik kehampaan yang semula kuabaikan, semakin tajam menggoda. Jiwaku pun nyaris bergetar hebat. Kudapati sebuah figura di atas meja kecil, yang terletak di samping tempat tidurnya. Sebuah gambar kehangatan kaya cinta antara anak dan ibu.

 

Kuraih dan kupandangi gambar itu. Jiwaku semakin bergetar. Apa yang tengah kupikirkan beberapa waktu yang lalu? Bayang-bayang kepiluan itu semakin menghasut. Tuhan, ada apa dengan diriku? Ampuni aku yang masih saja mencari sosoknya. Walau kutahu dengan pasti, takdir Tuhan itu tidak pernah tertukar. Bahkan nyaris tak pernah salah.

 

“Sayang,”

 

“Mama,” kupalingkan wajahku, lalu yang kutemui disana bukanlah perempuan cantik yang kucari. Tapi ayah. Hanya ayah. Menghampiriku dan duduk disampingku. Kehadiran ayah seorang, membuka ingatan pahit, bahwa yang ada hanyalah ayah seorang. Hanya beliau yang kumiliki saat ini. Begitu berarti kehadiran mama dalam kehidupanku, hingga aku begitu bergantung padanya.

 

“Ayah, benarkah Mama tak akan pulang?” tanyaku dengan kesakitan yang melubangi hatiku.

 

Ayahku tersentak. Wajahnya pucat. Juga tersimpan duka mendalam di jiwanya. Sesaat ayah langsung tersenyum, kemudian membelaiku dengan lembut.

 

“Kamu kangen Mama, ya?”

 

Aku tak mengangguk, hanya airmataku yang menjawabnya. Tak pelak ayah langsung memelukku. Mencoba memberikan kehangatan yang tengah kucari dari sosok mama. Walau beliau sadar betul, bahwa kehangatan seorang ibu takkan ada yang mampu menggantikannya. Bahkan menandinginya.

 

“Ya sudah, kalau kangen. Besok kita jenguk Mama, yuk! Mama juga pasti kangen sama anak manjanya,” ucap ayah.

 

Aku hanya mengangguk kecil. Airmataku semakin membabi buta. Tak dapat terbendung lagi. Pilu dan kesakitan itu semakin nyata adanya. Bisik-bisik kehampaan semakin jelas terdengar ditelinga batinku. Malaikatku yang baik hatinya dan selalu tampil mengagumkan itu, kini hanya bisa kukenang. Aku hanya bisa memanggilnya, tanpa pernah tersahut sekalipun. Hanya bisa memandang gambarnya, tanpa pernah lagi menyentuhnya.***


Tian Tarymas, tinggal di Kabupaten Tangerang. Penulis sempat menjuarai berbagai  lomba, diantaranya Juara II antologi duet Dialog Sepasang Kupu-Kupu (AGP, 2012),  antologi Seringkuh (Hasfa Publisher, 2012), dan antologi Kunti, I Love You (AGP,  2012).

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Related Articles

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *