InspirasiOpini

Fatih Zam: Kepala Diasah, Hati Diisi

biem.co — Saya baru pulang mengajar dari kampus saat itu. Sore hari yang basah oleh hujan. Seorang remaja putri, kelas tiga SMA, tengah amat serius mengobrol dengan istri saya di perpustakaan. Lazimnya seorang lelaki, saya tak hendak mencampuri obrolan sesama perempuan. Saya pun masuk ke dalam rumah, mengganti baju, kemudian menyeduh kopi.

Selagi menghirup kopi di beranda, istri saya menghampiri—obrolannya dengan remaja putri sudah selesai rupanya. Dia tersenyum. Menunggu saya meneguk kopi satu hingga tiga kali.

“Ada apa?”

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Ditanya begitu, istri saya malah tertawa. Terang saja lipatan berkoloni di kening saya. Saya kembali menghirup kopi.

“Kalau diperhatikan, Aa nggak ada potongan kayak Dimas Kanjeng,” ujar istri saya sambil masih mengulas senyumnya.

Saya segera meletakkan cangkir kopi yang tengah saya pegang. Saya langsung memperbaiki sikap duduk. Memerhatikannya kini dengan lebih teliti.

“Tadi si neng cerita, katanya sekarang Aa terkenal di kampung.”

Saya hanya menggerak-gerakkan bola mata, ke kiri dan ke kanan. Rupanya obrolannya dengan remaja putri itu memusat tentang saya.

“Sekarang Aa sedang jadi buah bibir. Katanya, Aa harus diwaspadai. Khawatir membawa aliran sesat.”

Lho?! Saya menarik napas panjang dan mengembuskannya sekaligus. Istri saya pun mulai bercerita, selengkap-lengkapnya. Dia baru saja menyimak curhat remaja putri yang mengetahui secara jelas kondisi di kampung saya. Terutama setelah saban akhir pekan ada 80-100 anak berkumpul membaca buku dan bermain di TBM INDUNG yang saya dan istri dirikan. Ditambah lagi, pada pekan itu, tepatnya hari Jumat, saya menjadi khotib pada salat Jumat.

“Kok bisa ya, anak-anak membaca buku di sini, malah dicurigai. Kenapa pula Aa bisa disangka bawa aliran sesat?” tanya saya.

Istri saya mengangkat bahunya. “Barangkali cara Aa salat di masjid aneh kali.”

“Aneh apanya? Rasanya sama kok kayak yang lain.”

“Si neng bilang, Aa kalau ke masjid suka bawa buku. Betul nggak, tuh?”

Oooo iya, saya baru ingat sekarang. Saya memang terkadang membawa buku kalau pergi ke masjid. Saya suka membaca buku di sela-sela azan dan iqamat. Selain itu, kegiatan ini saya lakukan semata-mata untuk memprovokasi remaja yang suka ke masjid untuk mau berkunjung ke TBM INDUNG dan membaca buku.

“Para orang tua komplain, Aa. Mereka protes, katanya kenapa Aa malah baca buku. Bukannya berzikir atau membaca Alquran.”

Saya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Saya tidak mungkin menyangkal perkataan istri saya. Saya hanya terkejut harus mendapat cap sesat hanya karena melakukan itu.

Memori saya lalu menyajikan kenyataan selanjutnya. Pada salat jumat setelah pekan lalu saya menjadi khotib, saya merasa menjadi terdakwa. Khotib Jumat yang merupakan tetua kampung berbicara dengan menjadikan saya sebagai sasaran tembak. Kurang lebih, khotib mengatakan bahwa untuk menjadi khotib harus memahami kunci surga. Dia harus mengerti bahasa Arab, harus sudah khatam kitab A, B dan C. Tidak cukup, katanya, dengan hanya bergelar S 2. Tadinya saya ingin menyangkal bahwa dakwaan itu ditujukan kepada saya. Tetapi, satu-satunya jemaah salat Jumat di kampung yang sekolah S 2 itu ternyata adalah saya. Allahumma.

Pada akhirnya, saya memahami secara mesti, bahwa masyarakat di kampung saya masih demikianlah adanya. Masyarakat saya masih belum siap melihat hal-hal beda terlebih asing. Ditambah lagi, masih adanya keengganan sebagian kecil masyarakat untuk melakukan konfirmasi (tabayun).

 

Apa yang keliru?

Tulisan ini ingin menjawab pertanyaan itu, sekaligus sebagai bahan refleksi kita.

Saat saya membawa buku dan membacanya di masjid, dan orang-orang—terutama kaum tua—memandang aneh, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat kita masih kurang baca. Buku, jangankan bagi orang-orang tua yang sudah “berhenti” belajar, bagi anak-anak muda pun sudah menjadi seperti bara. Tak kuat memegangnya lama-lama.

Maka jangan dulu bicara orang tua, lihatlah generasi muda kita: generasi 0 buku, kata Taufik Ismail. Berdasarkan perbandingan yang pernah dilakukan, menurutnya, rata-rata anak muda di Singapura dan Thailand membaca 5-7 buku dalam tiga tahun. Bahkan anak-anak muda di negara-negara Eropa dan Amerika sampai khatam 32 buku. Sayangnya, selama tiga tahun, anak-anak muda Indonesia hanya 0 buku. Ini memprihatinkan.

Apa yang terjadi jika ini terus mentradisi? Saya muringkak bulu membayangkan andai ujaran St. Aquinas menjadi kenyataan, katanya:

“Orang yang paling berbahaya di dunia ini adalah dia yang hanya memiliki (membaca) satu buah buku.”

Bayangkanlah efek yang ditimbulkan dari seseorang yang memiliki perspektif kebenaran hanya dari satu buku. Kita akan dipertemukan dengan pepatah yang tak kalah mengerikan: Orang yang menganggap dirinya palu cenderung memandang berbagai persoalan sebagai paku.

Kekejaman, andai saya boleh menyebutnya demikian, yang dilakukan orang-orang tua dengan menuduh saya membawa aliran sesat bukan hanya karena mereka tidak membaca buku. Kesalahan tidak sepenuhnya ada pada mereka. Saya pun turut memberi andil akan kejadian itu. Saya tidak memberikan ruang demi terciptanya dialog. Secara ringkas, saya kurang bersilaturahmi.

Silaturahmi itu, sabda Nabi SAW, bisa memperpanjang umur dan menambah rezeki. Tiadalah mungkin akan ada tuduhan sesat kalau saya rajin melakukan silaturahmi kepada para tetua di kampung. Minimal, dengan silaturahmi, para tetua kampung tak akan canggung bertanya tentang aktivitas saya di TBM INDUNG dan mengapa saya membawa serta membaca buku di masjid. Kalau saya rajin menjalin silaturahmi dengan mereka, mereka tentu akan memiliki keberanian yang dilandasi keakraban untuk bertanya kepada saya mengenai apa yang saya lakukan.

Saya meyakini pula, apa yang terjadi kepada saya merupakan skala kecil dari berbagai kejadian yang meriuhi tahun 2016. Pada tahun 2016, media sosial kita maupun di dunia nyata penuh dengan ujaran kebencian, cap sesat, kafir, monopoli kesalehan, maraknya rasa saling curiga, mekarnya saling tak percaya, rapuhnya benang pertemanan, dan sebagainya. Penyebabnya dua saja: kurang membaca dan sedikit silaturahmi.

Pada tahun 2017, saya mengajak kita semua untuk membanyakkan dua hal ini. Buku (ilmu) akan membuat kita kaya akan perspektif dalam memandang berbagai persoalan. Silaturahmi akan membuka ruang dialog seluas-luasnya. Dua hal ini jangan dilepas: kepala diasah, hati diisi.

Tahniah.


Atih Ardiansyah (Fatih Zam), Direktur Eksekutif Institut Rafe’i Ali , Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Mathla’ul Anwar, Banten.

Editor : Redaksi

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button