InspirasiPuisi

Sajak-sajak Muhammad Asqalani eNeSTe

Oleh Muhammad Asqalani eNeSTe

 

Semesum di Neraka
: Arthur Rimbaud

 

“Cinta ternyata ular besar di selangkangan” katamu pada Varline

di tempat umum tanpa malu-malu seperti orang putus kemaluan.

Varline memelukmu enggan dan memejamkan matamu pada detik

sepersekian.

 

Kenangan di kepalaku menjadi gumpalan-gumpalan hitam

milik Sishypus, sesuatu bergerak bagai kerak-kerak jelaga

di malam yang aus.

 

Pada halaman sekian buku bergambar Iblis dengan bunga lili

di telinga kanannya, aku seperti mengucak Drona dalam kelilipan

mata yang payah.

 

“Demikiankah surat-surat itu menyiratkan kegagalan?

Demikiankah cara melepas kekanak-kanakan dengan keberanian?”

Kataku tanpa tabu seperti membuka surat Varline dengan menggesa

tunggu.

 

“Oh cinta yang murtad di jelas tegang urat malu” demikian serapahku

seperti memaksa lidah Tuhan kelu.

 

Kemudian Varline menggelapkan kelambu Bayi Birunya

tanpa gelayut haru, perempuan menjadi janda oleh selingkuh

tak tahu tipu.

 

Kebebasan milikmu Arthur, kebebasan milikmu melulu. Aku menanam

pucuk-pucuk pilu di undak makammu (dalam tidurku).

 

“Cinta adalah pertempuran pertama setelah orgasme tak memiliki

darah dusta” katamu Arthur, kali ini dengan memeluk benci sebundar hati.

Varline menjadi penyair yang menyihir hidupmu segegabah peluru,

peluru yang hampir menembus tangan Izrail.

 

Lalu tak ada lagi puisi menyala, orang-orang yang dulu menyela

kini telah tergoda.

 

“Gedung-gedung neraka sebesar abu kelamin siapa?” Kata mereka

sambil memainkan teka-teki doa.

 

Jauh dari apa yang mampu dijangkau dunia, aku sedang menciptakan

akhirat dengan akhiran dengus dosamu.

 

2015

 

 

Manasturbo

Pada ujung sepi

Kelamin waktu berdiri

Kemudian lunglai sebagai yang terlantar

Seperti kau di trotoar

;tanpa kebahagiaan, perempuan, dan kehidupan

 

2016

 

 

Berselindung

: Bang Harfan Febryan

 

Konon!

tanganmu yang kokoh menggenggam bara

menggedam masalalu dengan sedelik mata

memecah potret ibu yang basah,

 membongkar dompet ayah yang payah.

lalu mengembara di udara bertuba,

       di lantai berdisko dan meja mabuk sembrono,

bersyukur tak kau cucup ganja seludup.

 

Ketidaksengajaan!

membuat kita saling silang rupa.

melempar senyum serba hambar,

dan sedikit berkatakata

“adakah yang lebih ajaib dari riang saudara?”

 

      aku melangkahkan kaki, sembari melempar kartu nama.

di sana ada nomor rumah, dan ukuran celana. sangat aneh.

tapi kutahu, apa pedulimu. ini tak lebih ucapan perpisahan.

 

sebagai calon penyair, aku masih merujuk buku sajak,

sesekali ingin menulis puisi tentangmu,

atau memaksa imaji memuji bayangmu,         siasia,

 

di sana,

kau mungkin tak lagi ke diskotik,

 atau bahkan kian karib ke diskotik,

aku tak benarbenar memikirkanmu,

seperti kau yang selalu pura pura tak kenal saat kucekal,

                                                       seperti kepalsuan.

2013

 

 

Rekapitulasi Mimpi

: Riza Multazam Luthfy

 

mendongak langit:

kita mendakinya dengan tangga doa

yang terbuat dari bangunan dada

 

ru(ma)h yang kita kunjungi

adalah sabda asa di pintu takdir

ada tangan bunda yang mengutus amin

menuntun keringat kita di jalan licin

pada sonder jam yang sepertiga hening

 

tak hentihenti mendaras batang purnama

bagi tuhan yang mengerti segala cahaya

 

Replace 2013

 

 

Pekebun

 

cangkul

umur yang masygul

di tanah yang gundul

takdir jahat menyacak umbul

bunga api sebentar timbul

 

sabit

rumput akut

seperti gulma maut

yang disiangi petani

di liang tangisnya sendiri

 

tanah

diangkutnya ke dalam tong berlumut

tanah tampak tua dan berbagai hara

sayang yang ditanamnya bunga api

kelak besar membakar tangan si pemetik

 

2015

 

 

Voltase Kepala

 

kepalaku meregang jelang mobius puisi terang, membiusku untuk pulang

ke dalam cangkang, cangkang sekeras lengang. kata-kata kuhamburkan,

berharap dapat memikat puisi yang sedang membangkang, meninggalkanku

sendu sendirian, menekuri kata yang sudah tak seindah lidah kaujuntaikan.

 

kemarilah, dekatkan bahasa ke kamus yang pernah cantik dan ayu, cantik

dan ayu bagi lentik jemariku sekaligus kaku. akan kutulis hening tentang rindu

di bekas kecupan yang memudar di kening HF kekasihku.

 

Tuhan, o Tuhan, dia yang kuingat kala pikiranku berkeringat siasati mampat,

kemarilah, utus burung kenarimu untuk menari dan mematuki isi kepalaku,

hingga burai bilur diksi, hingga aku moksa sebagai sudi puisi.

 

dekap aku HF kekasihku, eratkan liat belikatku dengan tanganmu yang liar lindu,

dalam pelukan, dalam kecipak cipokan, biarkan ikan-ikan kebahagiaanku tenggelam

di dasar puisi. di mana mata lesi setiap orang, mengambang heran di atasnya,

merasa pernah berkali-kali disetubuhi pangeran pengerat, dari dengus nafas

yang amis di balik agamis.

 

2015

 

 

Katup Hening

 

puisi itu serupa lampu di matamu

bila padam, kau ‘kan bertemu aku

dalam mimpi seluas padang batu

 

2013


Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Pengajar English Conversation for Airline Staff di Smart Fast Education – Pekanbaru. Menulis sejak 2006. Puisi-puisinya dijadikan skripsi “Lisensia Puitika Puisi-puisi Muhammad Asqalani; Sebuah kajian stilistika” disusun oleh Raka Faeri (NPM: 086210631. Pernah menjadi Redaktur Sastra Majalah Frasa. Meraih gelar “Penulis & Pembaca Puisi Muda Terpuji Riau 2011”. Puisi-puisinya dimuat di: Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Fajar Makassar, Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos. Sumut Pos, Pos Bali, Lombok Post, Sastra Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Buletin Jejak, Tribun Sumsel, Waspada, Posmetro Prabu, Metro Riau, Haluan Padang, Haluan Riau, Koran Riau, Koran Madura, Inilah Koran, Dinamika News, Ruang Rekonstruksi, Majalah Kandaga, Majalah Sabili, Majalah Frasa, Majalah Noormuslima (Hongkong), Majalah Sagang, Koran Cyber, KOMPAS.com, Kuflet.com, Detak UNSYIAH, AKLaMASI, Bahana Mahasiswa, dan lain sebagainya.


Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *