KabarTerkini

Warga Palestina Gelar Aksi Akbar Selama Enam Pekan

biem.co — Ribuan orang Palestina berbaris ke perbatasan untuk memulai protes selama enam pekan. Tujuan protes ini adalah untuk menegaskan apa yang dianggap para demonstran sebagai hak mereka untuk kembali ke kota-kota dan desa-desa tempat keluarga mereka berasal sebelum melarikan diri, diusir pada masa pendirian Negara Israel tahun 1948 lalu.

Hamas tidak mengakui Israel, namun pada tahun lalu menyatakan siap untuk menerima Negara Palestina sementara yang terbatas di Gaza dan Tepi Barat. Warga Palestina telah mendirikan lima kamp di dekat perbatasan untuk melakukan protes, dari Beit Hanoun di bagian utara menuju Rafah dekat dengan perbatasan Mesir.

Pasukan Pertahanan Israel IDF, yang memberlakukan zona larangan bepergian di sepanjang perbatasan Gaza, melipatgandakan jumlah tentaranya untuk menangani protes tersebut. Meski sebagian besar pemrotes bertahan di perkemahan, beberapa kelompok anak muda mengabaikan pesan penyelenggara untuk menjauh dari pagar dan berhadapan langsung dengan posisi Israel.

Seorang juru bicara mengatakan bahwa mereka yang tewas berupaya untuk menerobos atau menghancurkan pagar perbatasan, seperti diberitakan Jerusalem Post. Sementara Palestina menuduh Israel menggunakan kekuatan pasukan yang tidak proposional. Tank dan penembak jitu diterjunkan, dan saksi mata mengatakan sebuah drone digunakan untuk menjatuhkan gas air mata setidaknya di satu lokasi.

Dilansir dari ACT News, tentang Al Awdah March, mulai Jumat (30/03) kemarin, sampai sekiranya enam pekan ke depan, demonstrasi besar tengah berlangsung sepanjang hari tanpa henti. Aksi dilakukan serentak di sepanjang perbatasan Israel dan Gaza. Protes ribuan warga Gaza dalam aksi ini mengerucut pada satu tuntutan penting, yakni kembalinya hak warga Palestina atas rumah dan tanah mereka yang kini dijajah secara terang-terangan oleh Israel.

Ribuan warga Gaza yang tergabung dalam aksi besar ini pun menyebutnya sebagai Land Day. Tanggal 30 Maret telah menjadi hari simbolis yang selalu diingat. Di mana di tanggal itu, tahun 1976 lalu terjadi sebuah peristiwa penting. Tanggal 30 Maret, 42 tahun silam, enam orang Arab—warga Israel yang mendukung Palestina—dibunuh oleh militer Israel. Pembunuhan itu terjadi dalam sebuah demonstrasi atas pencaplokan Israel terhadap tanah Palestina.

Aksi jangka panjang di Gaza ini akan dijalankan sepanjang enam pekan ke depan, dimulai sejak Jumat 30 Maret 2018 hingga berakhir pada 15 Mei 2018 atau di puncak hari yang dikenal dengan “Nakba” atau “Malapetaka”.

Nakba Day, enam pekan ke depan pun menjadi peringatan penting, di mana di hari itu penanda terusirnya ratusan ribu jiwa warga Palestina atas tanah mereka yang dicaplok Israel, tahun 1948 silam.

“Dari balik gerbang itu, militer Zionis dengan sniper-snipernya menembaki langsung kerumunan warga Gaza. Tembakan dilakukan hanya dari jarak seratusan meter di depan kerumunan. Darah mengucur dari tubuh ribuan warga Palestina,” tulis Yousef Munayyer dalam akun instagramnya, Jumat (30/03).

Yousef salah satu warga Gaza yang jadi saksi Al Awdah March, ia menuliskan banyak pandangan mata di Gaza dalam akun pribadinya.

Sementara itu, sejak Jumat kemarin itu pula, di tengah kerumunan warga Gaza sepanjang perbatasan, Tim ACT ikut ambil bagian dalam sejarah. Merah Putih dan Bendera Palestina diangkat tinggi-tinggi di antara kerumunan. Merah Putih menjadi bukti hadirnya Indonesia membela kemerdekaan Palestina. (uti)

Editor : Happy Hawra

Related Articles

Berikan Komentar