KabarTerkini

Mengenal ORI, Investasi Minim Risiko

JAKARTA, biem.co – Sobat biem, untuk Anda di manapun berada yang memiliki uang menganggur dan dirasa tidak akan digunakan dalam waktu dekat (tiga hingga empat tahun ke depan), mungkin bisa coba menempatkannya dalam Obligasi Negara Ritel (ORI).

Dilansir dari CNN Indonesia, ORI merupakan bagian dari Surat Utang Negara (SUN) yang diterbitkan untuk investor ritel. Rata-rata, investasi ORI memiliki jangka waktu tiga sampai empat tahun.

Sementara, rata-rata bunga yang ditawarkan dari instrumen investasi ini lebih tinggi dari deposito yang hanya sekitar 4,5 persen per tahun.

Makanya, ORI bisa jadi salah satu pilihan investasi untuk Anda yang tetap ingin konservatif atau tak terlalu berisiko, namun mengantongi keuntungan lebih besar dari deposito.

“Rata-rata bunga ORI dari 5,8-9 persen. Deposito sebesar 4,5 persen. Perbedaan bunga 2,5 persen dalam investasi itu lumayan,” papar Budi Rahardjo, Perencana Keuangan OneShildt, kemarin.

Tata cara membeli ORI sendiri saat ini terbilang mudah. Tak hanya melalui perbankan, tapi investor juga bisa membeli ORI melalui perusahaan sekuritas secara online dan financial technology (fintech) yang menjadi mitra distribusi pemerintah.

Budi menjabarkan, investor bisa secara langsung datang ke bank dan perusahaan sekuritas yang menjadi mitra distribusi pemerintah untuk membeli ORI. Jika malas, Anda juga bisa langsung registrasi di fintech yang ditunjuk pemerintah.

Nantinya, tiap investor akan memiliki akun atau rekening investasi tersendiri untuk ORI tersebut, sehingga tak tercampur dengan rekening tabungan pribadinya.

“Tapi ingat, ORI ini kan bukan instrumen investasi seperti saham yang bisa dibeli kapan pun terserah investor,” ucap Budi.

Jika ingin membeli ORI dari pemerintah langsung atau menjadi tangan pertama, maka Anda harus mencermati jadwal penerbitan ORI dari pemerintah.

“Namanya masa penawaran, misalnya masa penawarannya pada Mei ya belinya saat itu. Jadi tidak available seperti saham,” tutur Budi.

Namun, ORI juga bisa dibeli di pasar sekunder (secondary market). Untuk pembelian di pasar sekunder, Anda perlu lebih cermat melihat harga dan bunga yang ditawarkan saat itu.

Bila tren suku bunga acuan yang ditentukan oleh Bank Indonesia (BI) sedang menanjak, maka harga ORI cenderung turun. Hal ini menyebabkan imbal hasil (yield) naik karena risiko semakin tinggi.

Namun, meski imbal hasil naik, bukan berarti investor sepenuhnya untung. Sebab, harganya ketika dijual kembali bisa semakin rendah.

“Seperti beli rumah, kalau beli rumah sekarang terus nanti mau jual rumah lagi harganya lebih rendah kan jadi rugi,” kata Budi.

Makanya, Budi mengingatkan investor agar tak menjualnya sebelum jatuh tempo ketika ekonomi sedang tak mendukung. Pasalnya, bukan tak mungkin investor akan mendulang rugi.

“Kalau ORI dibiarkan saja sampai jatuh tempo akan untung, tak perlu takut harga turun,” jelas Budi.

Menurutnya, investor yang memegang ORI sampai jatuh tempo akan mendapatkan dua keuntungan, yakni selisih harga ORI dan tingkat bunganya.

“Itu yang disebut sebagai yield, total keuntungan pas jatuh tempo,” sambung Budi.

Selain ORI, jenis SBN lainnya yang dijual untuk ritel, yakni savings bond ritel (SBR). Bedanya dengan ORI, jangka waktunya lebih singkat hanya dua tahun.

Keuntungannya, dana yang ditempatkan dalam instrumen investasi tersebut tak akan berkurang layaknya deposito. Berbeda dengan ORI yang bisa saja berkurang dari modal investasi ketika harga turun.

“Tapi ingat dana yang ditempatkan di SBR tak bisa dicairkan 100 persen ketika belum jatuh tempo,” terang Budi.

Investor baru bisa mencairkan investasinya di SBR setelah tiga bulan diendap. Namun, jumlahnya hanya 50 persen dari total investasi. Untuk itu, Budi tak menyarankan investasi ini bagi investor yang membutuhkan dana dalam waktu kurang dari dua tahun.

“Dilihat kebutuhan dananya, kalau kira-kira butuh satu tahun dua tahun ke depan ya ORI, jadi bisa diambil. Kalau SBR harus dua tahun baru uang kembali 100 persen,” jelas Budi.

Minimal Investasi

Sementara itu, Eko Endarto, Perencana Keuangan Finansia Consulting menjelaskan Anda harus menyiapkan dana minimal Rp5 juta untuk membeli ORI.

Bila minimal pembelian saham adalah 100 lembar atau satu lot, maka minimal pembelian ORI sebanyak lima unit. Satu unit ORI dibandrol dengan harga Rp1 juta, sehingga minimal pembelian ORI sebesar Rp5 juta. Kemudian, untuk SBR sendiri lebih murah, yakni Rp1 juta.

“Ini memang diperuntukkan sebagai alternatif karena risiko lebih kecil dibandingkan dengan saham,” tutur Eko.

Menurut Eko, investor akan diberikan laporan bulanan oleh mitra distribusi tempat investor itu membeli ORI atau SBR terkait akumulasi keuntungan atau total dana dalam rekening investasi itu.

“Jadi walaupun bunganya per tahun, tapi kan dibagi per bulan. Laporannya per bulan, naik dan turun,” jelas Eko.

Meski ORI dan SBR bisa menjadi alternatif investasi, tapi Eko mengingatkan agar masyarakat tak sembarangan dalam memilih instrumen investasi.

Bagi yang masih awam, ia justru menyarankan calon investor untuk mencoba dulu dalam reksa dana. Hal ini lantaran skema atau sistem investasinya terbilang lebih mudah dibandingkan ORI dan SBR.

“Ini disarankan untuk yang lebih matang, kalau belum reksa dana saja dulu,” kata Eko.

Waspadai Pelemahan Rupiah

Di sisi lain, Budi mengatakan tak menyarankan masyarakat untuk berinvestasi dalam ORI ketika nilai tukar rupiah sedang melemah seperti saat ini.

Ketika rupiah melamah, Bank Indonesia cenderung menaikkan suku bunga acuan untuk mempertahankan dana investor asing tak keluar dari Indonesia atau agar tak terjadi capital outflow.

Sementara, ketika tren suku bunga acuan naik maka harga ORI akan menurun. Untuk itu, investor meminta bunga lebih tinggi untuk mengompensasi penurunan harga ORI tersebut.

Sebaliknya, jika suku bunga acuan berada dalam tren penurunan, maka harga ORI akan naik. Sehingga, bagi investor yang hendak menjual atau melepas ORI ke investor lain akan mendapatkan untung dari selisih harga yang dibeli saat awal.

“Kalau ditanya terkait kondisi saat ini, saya katakan lebih baik investasinya di pasar uang dulu, seperti deposito,” ungkap Budi.

Pasalnya, dana investor tetap akan kembali 100 persen dan tak mungkin berkurang ketika rupiah anjlok atau ekonomi bergejolak sekalipun. Apalagi, deposito memiliki pilihan jangka waktu bulanan hingga tahunan. (IY)

Editor : Andri Firmansyah

Related Articles

Berikan Komentar