InspirasiOpini

Veronica Gabriella: Mari Saring Sebelum Sharing

Veronica Gabriella: Mari Saring Sebelum Sharing

biem.co – Fenomena munculnya hoaks atau berita palsu sudah bukan hal baru lagi. Namun, belakangan ini menjadi perbincangan dan menarik perhatian masyarakat, dikarenakan hoaks dijadikan senjata bagi kelompok kepentingan tertentu untuk membentuk opini publik. Terlebih, sebentar lagi kita akan memasuki tahun politik. Untuk memerangi marak dan masifnya kemunculan hoaks yang memiliki dampak berbahaya bagi pengonsumsian informasi masyarakat khususnya di kalangan milenial, Septiadji Eko Nugroho bersama teman-teman yang peduli akan literasi media, membuat gerakan bertajuk Masyarakat Anti Fitnah Indonesia dan menginisiasi situs TurnBackHoax.id. Melalui wawancara via Skype, Adjie, begitu panggilan akrabnya, memaparkan kegelisahan yang melatarbelakangi hadirnya gerakan tersebut, beserta pandangannya terhadap fenomena hoaks saat ini.

Memahami Dinamika HOAKS

Dua tahun lalu, tepatnya 5 September 2015, Mas Adjie membentuk komunitas independen MAFINDO yang fokusnya adalah mengajak orang-orang untuk bergerak melawan hoaks. Walaupun gerakan ini baru dimulai tahun 2015, tapi menurut Mas Adjie, keberadaan hoaks sudah ada sejak lama sekali, bahkan semakin menjamur 4-5 tahun belakangan, khususnya dipantik dengan adanya pemilu presiden 2014. Data yang dikeluarkan TurnBackHoax membenarkan hal tersebut, yakni sekitar 92% hoaks yang diterima masyarakat berupa topik mengenai politik. Sekilas bisa disimpulkan secara sederhana jika ada muatan dan agenda tertentu yang dipegang oleh para pembuat hoaks, salah satu yang terbesarnya adalah untuk menggiring opini publik. Padahal, jika terus dibiarkan, hoaks yang merajalela mampu memecah persatuan dan membawa kehancuran yang menyesatkan, karenanya diperlukan perlawanan balik yang serius. Hal tersebut yang melatarbelakangi dicetuskannya MAFINDO (Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia) yang aktif memerangi hoaks.

Melalui komunitasnya yang berpusat di ibukota dan telah tersebar di banyak kota-kota di Indonesia, Mas Adjie dan kawan-kawan pun meneliti serba-serbi hoaks untuk kemudian lebih mengenalinya secara mendalam, sehingga bisa tepat sasaran dalam melawannya balik. Bagi MAFINDO, hoaks adalah informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi yang sebenarnya. Berarti ada tindakan yang berupaya untuk memutarbalikkan fakta. Sifatnya sangatlah berbahaya karena menciptakan kebingungan yang berujung pada tindakan-tindakan negatif karena bertopang pada informasi yang tidak benar.

“Tujuan dari hoaks adalah membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan.  Dalam kebingungan, masyarakat akan mengambil keputusan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bahkan salah langkah,” ujar Mas Adjie.

Menilik pada tujuan dan pemahaman mengenai apa itu hoaks, sangat mudah jadinya menggunakan hoaks sebagai senjata kepentingan kelompok, terlebih lagi ketika dipermudah dengan kemunculan media sosial. Melihat perkembangannya, hoaks sering kali menjadi sarana perundungan, hingga alat untuk melakukan black campaign demi memengaruhi persepsi pemilih.

Jadi, apabila merujuk pada teori fungsi media komunikasi yang dicetuskan McNair, yang menyatakan bahwa publik perlu educate (mendidik) makna dan signifikansi “berbagai faktor” (hal penting dari fungsi ini menjelaskan keseriusan layaknya jurnalis yang harus menjaga objektivitasnya, sehingga nilai diri mereka sebagai pendidik profesional dari isu-isu yang dianalisis), bahwa sesungguhnya walaupun publik mampu dan berkesempatan memprodukti informasi pun, harusnya tetap berada pada koridor objektivitas. Hal tersebut merupakan teori fungsi media komunikasi secara idealnya, namun praktek nyatanya jauh dari teori, karena adanya faktor kepentingan dan penggiringan opini seperti yang ditemukan MAFINDO.

Masih menurut MAFINDO, yang dituturkan oleh Mas Adjie, level pendidikan seseorang tidak membuatnya kebal terhadap hoaks. Ada yang pendidikan dosen alumni perguruan tinggi luar negeri ternama, meski dia sangat ahli dalam bidangnya, namun dia bisa termakan hoaks dalam bidang lain. Ada yang merupakan tokoh agama, sangat alim, disegani oleh jama’ahnya, namun ada kalanya ia terjebak menyebarkan berita hoaks. Apalagi masyarakat umum yang kadang belum paham kaidah untuk mengonfirmasi kebenaran sebuah berita. Belum lagi ditambah dengan adanya efek polarisasi yang membuat hoaks semakin tumbuh subur, maksudnya adalah penyebaran satu informasi ke orang lain semudah dengan memencet tombol ‘bagikan’, sehingga pola distribusinya sangat pesat seolah banyak dibicarakan berarti adalah yang benar. Untuk itu, perkembangan fenomena hoaks ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Empat Gerakan MAFINDO Membendung HOAKS

MAFINDO memiliki empat gerakan masif untuk melawan hoaks, antara lain sebagai berikut.

  1. Narasi Kontra Hoaks

Inti dari gerakan ini adalah menggencarkan grup diskusi hoaks yang mampu berperan sebagai wadah verifikasi berita dan informasi yang beredar di masyarakat: apakah merupakan hoaks atau tidak. Dalam gerakan ini, MAFINDO menggandeng Forum Anti Fitnah, Hasut, dan HOAKS, Indonesia Hoax Community, Indonesia Hoax Buster, dan Sekoci. Bersama-sama, MAFINDO mengembangkan resipository hoaks dalam bentuk situs turnbackHoax, yang mana memiliki katalog berita-berita yang sering beredar dan sebenarnya adalah hoaks. Lewat situs ini juga, masyarakat bisa dibantu untuk menyaring kebenaran informasi.

  1. Edukasi Literasi

Gerakan MAFINDO ini adalah roadshow ke berbagai kota untuk mengedukasi masyarakat mengenai ciri-ciri berita hoax, mendeteksinya kemudian menyeleksinya, agar jadi bangsa yang cerdas dalam menyerap informasi, yakni tidak asal share dan percaya. Sejauh ini MAFINDO sudah pergi ke Jakarta, Solo, Jogja, Bandung, Semarang, dan lain-lain untuk menyebarkan virus melek literasi ini.

  1. Advokasi

Aktivitas advokasi dimaksudkan sebagai pengawasan dari level terdekat hingga luas. Dimulai dari level keluarga, misalnya dihimbau agar orang tua bisa meningkatkan pengamanan dalam penggunaan gadget anaknya. Lalu naik ke level tokoh masyarakat, level pemerintah, hingga level pengelola media sosial, haruslah saling bahu-membahu memperketat perlindungan dan pengamanan terhadap informasi yang benar diterima masyarakat.

  1. Silahturahmi

Ini adalah gerakan paling sederhana yang diadopsi oleh MAFINDO. Maksud dari gerakan ini adalah untuk breaking the artificial wall, yaitu kegiatan merumpi bareng untuk mensinergikan berbagai pihak yakni masyarakat, tokoh, pemerintah, dan media. Harapannya agar menciptakan atmosfer kedamaian dan persatuan sebagai sarana mengklarifikasikan kesalahpahaman yang ada dan merawat Bhinekka Tunggal Ika.

Mengajak Masyarakat Melek Literasi

Setelah mendalami kerangka-kerangka dan konsep hoaks, MAFINDO pun menelurkan beberapa gerakan yang mengajak masyarakat sama-sama kontra pada hoaks. Salah satunya melalui gerakan narasi kontra hoaks, berupa aktivitas fast checking di Facebook yang terbuka bagi teman-teman yang ingin meklarifikasi berita yang diterima dan akan diverifikasi oleh tim MAFINDO untuk melacak sumber dan kebenaran informasi yang dikandungnya. Dalam gerakan ini, MAFINDO banyak merekrut relawan dalam bidang IT yang kemudian membangun situs khusus yang dinamakan turnbackhoax.

Terlebih seperti halnya yang diuraikan dalam teori Pengolahan Informasi yang dicetuskan oleh Heru Puji Winarso dalam bukunya Sosiologi Komunikasi Massa, menyatakan bahwa media bukan hanya sekedar mengubah atau memperkuat opini, sikap dan perilaku, melainkan telah menjadi salah satu agen sosialisasi dalam menciptakan dan membentuk sikap, nilai, perilaku, dan persepsi publik mengenai realita sosial. Karenanya, tidak cukup jika hanya diberikan wadah klarifikasi dan verifikasi jika tidak disertai dengan budaya yang sadar akan literasi. Karena kuncinya adalah tingkat literasi. MAFINDO dalam roadshow-nya ke berbagai kota, kerap mengkampanyekan pada masyarakat cara memerangi hoaks. Dan berikut gerakan MAFINDO dalam mengedukasi dan mengajak masyarakat khususnya generasi milenial untuk bersama melenyapkan hoaks:

  1. Pertama-tama ketahui terlebih dahulu ciri-ciri informasi hoaks, agar bisa mendeteksi hoaks dan tidak serta merta memercayainya. Ciri-ciri hoaks menurut MAFINDO adalah lakukan crosschek jika judul berita terkesan provokatif, kenali alamat situs yang menyebarkannya jika bukan media yang kredibel maka perlu dipertanyakan kebenaran kontennya, cek foto dan cek fakta langsung ke sumber pertamanya.
  2. Langganan kepada grup Facebook anti-hoaks, yang mana masyarakat khususnya netizen bisa mendiskusian kebenaran informasi dan mengetahui tren berita terkini yang sebenarnya hoaks. MAFINDO kerap mengarahkan masyarakat untuk langgan pada grup-grup seperti ini antara lain Grup Sekoci, Fanpages Indonesia Anti-Hoaks, dan sebagainya.
  3. Menjadi duta anti-HOAKS bagi diri sendiri. Bisa dimulai dengan menjadikan topik hoaks sebagai perbincangan di tengah keluarga, keluarga besar, lingkungan dan komunitas. Anjurkan agar bermedia sosial dengan lebih bijak dalam menerima berita, terlatih untuk melakukan cross-check sebelum  menyebarluaskannya.

Gerakan ini patut diapresiasi di tengah membludaknya konten informasi di media sosial, kita perlu tempat untuk menyaring dan menyeleksi kebenarannya. Sebab, seperti semboyan lanjutan dari Bhinneka Tunggal Ika, yakni an hana dharma magrwa yang artinya: tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Jangan sampai kerancuan yang tersembunyi dalam berita-berita bersifat hoaks itu menjauhkan kita dari kebenaran, hingga memecah belah persatuan. Mari saring sebelum sharing! [*]


Veronica Gabriella – penulis adalah mahasiswi lulusan ilmu komunikasi UMN yang lahir di Medan, 29 April. Paling suka menulis saat petang ditemani radio peninggalan almarhum kakeknya dan percaya kalau banyak pertanyaan di dunia ini hanya bisa dijawab oleh puisi. Kegiatan sehari-harinya disibukkan dengan streetfeeding kucing kompleks rumahnya, bermain board games, dan mengambil pekerjaan part time menulis konten. Kariernya dalam menulis cerita berhasil membuatnya menerbitkan novel Shooting Star (2014), Time in a Bottle (2016), You Got Me (2016), Lisa’s Diary (2017), dan sebuah buku self improvement Bicara Cinta (2016). Sila berkunjung menengok prosa-prosanya di www.veronicagabriella.com, mengenalnya via Instagram @verooogabriel, dan mengontaknya lewat surel [email protected].

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Related Articles

Berikan Komentar