InspirasiPuisi

Puisi-puisi Yana Risdiana

PENCAK SUARA DI PATAHAN SEBUAH RUANG
YANG KEHILANGAN TANGKISANNYA

/1/
Kampanye

Bergelombang ucapan tersasar
sebagai mantra jadi-jadian
dikebat pengumbar jalan liar
kaburkan kabar derajat baik buruk
seperti tak usai-usai menerka hikayat samar
yang berlebihan dengung silsilahnya.

Kau syarahkan belukarmu dari lurah ke lurah
tumpatkan suara-suara serakdi jurang berang
lantas kau hadap-hadapkan mereka
dengan sekawanan awan corong, gaungkan
segala tabal, agar mereka beringsutke lorong gelap
selarik mantra pemikat dari semak suaramu.

/2/
Medsos

Sampai-sampai segala desis tertulis
sangkakan tubuh di seberang
tersiar utuh suar layar datar peristiwa.

Bukan sakit, bukan rakit yang ingin
mereka jumpakan di setiap umpama kepulangan
tidak pula sesebat galau atau semimpi kalau
yang bakal mereka jampikan di sekitab rahasia takdir.

Sangkaan sudah jadi keyakinan
yang belaka seketika. Langit tersalin
sebagai langit-langit kamar
ukurandua kali kesempitan dada
ringkaskanjalan hapus serangan balik
dengan se-klik aji kebanalan.

/3/
Televisi

Aksi sesaat cara bebat lawan
:berkemasklimis di hulu, bertipuantepi
kelalaian.

Ia umbar mimpi mengguar nalar
bersama slotiklan berlagak sengak
di belakang layar, skenariokan
akal pantanganmu surut ke kecupan pucat
dari bibir template.

2018

 

SEBELUM HUJAN

!
diri
buih lirih
dari palung amanat
bergelombang kenyaringan
menempuh undakan tebing ucapan
ingar suara-suara pecah, tidak bunyi lasah
yang kau tangkap saat ia berangkat
bersama gerbong nama-nama
sampai di puncak hening
berselimut debu
yang ditiupkan
atas nama
Nya
?

(2018)

 

 

BUKAN

Seliat tanah ● bukan ajian
setetes air ● bukan bujukan
serahim waktu ● bukan tujuan
segumpal darah ● bukan sembahan
seonggok daging ● bukan rayuan
sebongkah tulang ● bukan tualang
sehembus ruh ● bukan bualan
sebentuk tubuh ● bukan sepahan
sebuah nama ● bukan ukuran
semayat jasad ● bukan siasat
sekitab amal ● buka(n) puisimu

duh…

(2018)


Yana Risdiana, lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (1999) dan Magister Hukum Universitas Airlangga (2015). Puisinya termuat, antara lain, dalam Hikayat Secangkir Robusta: Antologi Puisi Krakatau Award 2017; The First Drop of Rain: Antologi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2017; dan antologi Mengunyah Geram: Seratus Puisi Melawan Korupsi (2017), Epitaf Kota Hujan (2018), Antologi Puisi Pematangsiantar (2018). Tinggal di Bandung.

Rubrik ini diasuh oleh M. Rois Rinaldi.

Editor : Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar