OpiniReview

Veronica Gabriella: Aku Tak Mau Jadi Cantik

biem.co – Beberapa hari lalu, aku menerima panggilan di layar ponselku, isinya seorang teman yang baru saja mendapat cowok idamannya sebagai pacar. Ia bicara panjang lebar, sampai di tengah curhatan, ia berhenti sebentar. Kupikir sedang mengambil napas karena sedari tadi bercerita tanpa jeda, nyatanya tidak. Tiba-tiba layar berbuah menjadi video call. Ia menaruh ponselnya bersandar entah pada laci apa, yang pasti posisinya membuatku bisa melihatnya tengah berdiri di depan cermin dan berdialog sendiri – entah, aku merasa kalimatnya lebih untuk dirinya sendiri dibanding aku yang berada di seberang telepon. Katanya, ‘Ver, kamu tahu enggak, akhir-akhir ini lebih sering belajar make up dan beli baju-baju baru. Buat dia, Ver. Kalau ingat nama-nama mantannya sebelumnya, aku ini apaan’. Aku terkesiap. Panggilan itu berakhir begitu saja, tapi kegelisahan setelahnya tak pernah berhenti di sana.

Majalah remaja yang tadi kubolak-balik halamannya teronggok di pangkuanku. Kawanku yang hari ini memutuskan menemaniku di rumah sampai malam, masih asyik dengan tontonan drama Korea-nya. Tidak terlalu hirau, sampai aku mendengarnya menyeletuk. Matanya masih menempel di layar laptop, ‘Andai aku bisa kayak dia, Ver! Kapan ya aku bisa punya muka terbebas dari jerawat, yang mulus, putih, terus bodinya oke tapi enggak usah pakai diet ekstrim kayak sekarang?’. Aku tertegun. Kupikir ini bukan kali pertama atau kedua aku menemukan keluhan yang sama. Aku seperti menengok hal yang sama bertahun-tahun silam, ketika menulis resolusi tahun baru yang punya deretan harapan panjang tapi tak pernah melupakan satu yang hampir pasti muncul: jadi cantik, dengan lanjutan; jadi cantik seperti ini, kayak itu, layaknya ini-itu.

Dan, belakangan ini. Aku berpikir ulang.

Pertengahan tahun kemarin, aku pernah bertemu seorang tukang bersih-bersih di sebuah tempat kerja. Ia seorang perempuan kira-kira berumuran 25-an tahun, yang secara terang-terangan namun dengan ketakutan yang berusaha ia simpan rapat-rapat, mengatakan padaku bahwa ia ingin sekolah tinggi. Itu mimpi yang membuatnya masih berjuang, sekaligus terluka tiap diingatkan ketika melihat karyawan-karyawan memakai kemeja kantor yang menjadi profesi impiannya. Pengakuannya secara implisit padaku, entah, tak pernah kulupakan sampai sekarang. Dia bilang, dia ingin pakai toga, jadi sarjana.

Minggu-minggu lalu, sepulang dari kampus, aku menelusuri jalan raya menuju rumah. Aku sedikit lupa dengan pinggir jalan yang mana, tapi aku melihat seorang Ibu bertubuh gemuk, membawa karung beras bekas yang kosong isinya, tiada apa-apa, selain beberapa botol gelas mineral yang sudah remuk. Beberapa hari kemudian, aku menemukan cerita kalau-kalau, ada seorang Ibu pemulung yang begitu mengharukannya mengaku ia ingin jadi Ibu sekaligus Bapak buat anak-anaknya.

Akhir-akhir ini, aku sering mewawancari berbagai remaja cewek yang berhasil. Rata-rata mereka sukses di bidang yang jadi minat dan bakatnya. Mereka orang-orang yang kalau siapapun temui, akan bisa merasakan semangat positif yang mereka tularkan. Dan, ketika kutanyai mereka mau jadi apa ke depannya, jawabannya beragam, mereka bilang mau jadi MC yang memimpin acara internasional, mau maju tanding di turnamen X, mau jadi juara umum.

Tak kudengar satupun yang hinggap di telingaku kalau mereka mau jadi cantik.Tapi, mereka terlihat begitu cantik. Lagipula, mengapa harus jadi cantik? Mengapa harus jadi cantik ketika kita tahu kita memang pastinya cantik – karena kita adalah karya seni Tuhan, dan Dia Maha Sempurna, karenanya tak ada yang pincang atau cacat dalam diri kita. Mengapa harus jadi cantik ketika kita tahu kita punya hal yang melampaui cantik itu sendiri: seutuhnya kita. Mengapa harus jadi cantik ketika kita tahu kita senantiasa dicintai dan mencintai orang-orang. Mengapa harus jadi cantik untuk alasan-alasan yang enggak cantik?

Semenjak itu, kupikir, aku tak mau jadi cantik. Aku mau jadi cerdas. Aku mau jadi berani. Aku mau jadi petualang. Aku mau jadi perempuan yang punya opini untuk disuarakan. Aku mau jadi sarjana terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Aku mau jadi pemimpin. Aku mau jadi pemilik perusahaan dengan jabatan tertinggi yang terulis di kartu namaku. Aku mau jadi luar biasa. Aku mau jadi cantik, tentu saja – dengan cara kita sendiri, lewat definisi sendiri. Sebab tiap orang itu unik, kamu dan aku punya perbedaan yang istimewa, yang membuat kata cantik bahkan terlalu kecil untuk menerjemahkan keindahan yang kita punya, sayang. (*)

 

Tangerang – 22.45 malam yang pucat,

22 Desember 2016


Veronica Gabriella, mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Multimedia Nusantara ini adalah penulis buku solo berjudul Shooting Star. Namanya pun terlibat sebagai penulis di buku Bicara Cinta dan Time in a Bottle. Tinggal di Kota Tangerang dan aktif menulis di berbagai media.  

Editor : Muhammad Iqwa Mu'tashim Billah

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *