InspirasiKesehatan

Mengenal Lebih Jauh tentang Gangguan Depresi

biem.co Ada lebih dari 1 juta orang di dunia yang diketahui melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Berdasarkan data dari Pusat Nasional Statistik Kesehatan CDC, depresi menjadi penyebab utamanya.

Mungkin, banyak orang memiliki pengalaman kesedihan yang cukup dalam, namun tak selalu yang merasakan hal itu dikatakan mengalami depresi.

Menurut Clifford Lazarus, Psikolog sekaligus Pendiri The Lazarus Institute, depresi adalah gangguan mental yang sangat sulit dijelaskan kepada seseorang yang tidak memiliki pengalaman pribadi dengan depresi itu sendiri.

“Ketika seorang depresi, pikiran dan tubuhnya berada dalam kondisi ketidakseimbangan yang luar biasa. Fisiologi otak berubah, hormon stres terus melonjak, dan hampir semua sistem tubuh terpengaruh. Inilah sebabnya mengapa gejala depresi biasanya mengganggu ritme pikiran dan tubuh seseorang,” ungkap Clifford, seperti dikutip dari Psychology Today.

Gangguan terhadap nafsu makan, energi, konsentrasi dan memori, tidur, kehilangan minat dan kesenangan, isakan dan atau ledakan kemarahan, perasaan bersalah, kehilangan harga diri, pesimisme adalah beberapa hal yang menjadi gejala umum dari depresi klinis (atau yang secara teknis disebut depresi berat).

Namun, selain memengaruhi pikiran, emosi, dan perilaku, depresi juga berpengaruh terhadap gangguan fisik, seperti di antaranya pengencangan dada (mengalami rasa sesak), rahang mengepal, kekakuan, tekanan kepala, hingga cepat lelah.

Medical Doctor RS Dr Oen Solo Baru, Jiemi Ardian, pun sepakat dengan hal itu. Pria yang kerap mengampanyekan pentingnya kesadaran mental di jejaring Twitter lewat akun @jiemiardian ini, menyebut bahwa depresi berbeda halnya dengan stres.

“Depresi bukan stres berat. Depresi bukan orang yang tidak mampu menanggung stres. Depresi adalah keadaan kimiawi otak yang tidak seimbang,” ujar penulis buku ‘Hipnosis Cinta’ tersebut.

Menurutnya, ketika pikiran, perasaan, atau perilaku penderita depresi sudah begitu mengganggu keseharian, dan segala usaha secara sadar tidak lagi mampu mengatasi hal tersebut, maka, saat itulah seseorang butuh pertolongan profesional.

Namun, sebagai profesional dalam kesehatan mental, ia pun menyadari bahwa masyarakat memiliki kecenderungan untuk tidak mencari pertolongan saat sedang mengalami stres emosional. Dikatakan Jiemi, hanya 8 persen pasien depresi di Indonesia yang mendapatkan pertolongan.

“Sebegitu buruknya awareness kita terhadap mental health. Pergi ke psikiater dianggap gila, lemah, kurang beriman, tidak bersyukur, aib. Depression is a disease, not lack of faith,” tulisnya pada Rabu (19/09).

Untuk itu, ia menyarankan agar siapapun bisa mendorong orang untuk berbicara tentang stres dan emosi yang mereka rasakan dan menerima mereka sebagaimana adanya. Sama seperti Jiemi, Clifford pun berharap masyarakat bisa memahami persoalan ini.

Menilai penderita depresi sebagai sikap kesedihan yang berlebihan justru bisa menyebabkan hati mereka semakin terluka.

“Jika ada orang terdekat Anda yang menderita depresi klinis, yang terjadi dengan mereka bukan sekadar suasana hati yang suram atau keadaan sedih. Sebaliknya, itu adalah kondisi yang berpotensi melemahkan. Kadang-kadang mematikan yang dapat merusak jiwa manusia dan menuntun mereka untuk merasa ‘patah’, ‘hampa’, ‘kosong’, ‘putus asa’, dan ‘tidak berharga’,” ucap Clifford. (HH)

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar