Kesehatan

Kemenkes Cek Kandungan Pembalut yang Membuat Mabuk

JAKARTA, biem.co – Terdapat berbagai cara untuk mabuk tanpa menkonsumsi alkohol. Belakangan ini yang membuat geger masyarakat dan viral adalah meminum air rebusan pembalut. Kandungan air tersebut bahkan membuat anak jalanan di Jawa Tengah mabuk.

Seperti dilansir dari Republika, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan mengecek kandungan air rebusan pembalut wanita yang kabarnya membuat mabuk.

Direktur Jendral Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Engko Sosialene Magdalene mengatakan kandungan yang terdapat pada pembalut wanita tidak mengandung bahan yang membuat halusinasi. Selain itu, formula pembalut sendiri telah diketahui dengan baik. Mengingat untuk mendapatkan izin edar, produsen harus memberikan kandungan formulanya.

“Namun, kami akan memastikan produksi pembalut dengan turun langsung melihat proses produksinya. Kita liat apakah masih konsisten dengan formula yang lama”, ujarnya.

Kemenkes telah mendapatkan informasi baru bahwa pelaku mencampurkan zat lain pada air rebusan pembalut. Besar kemungkinan zat tersebut yang membuat beberapa remaja di Jawa Tengah mabuk.

“Dari situ kita harus memastikan zat apa yang dicampur, bukan semata-mata dari kandungan pembalutnya,” tambahnya.

Sementaraitu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terus menelusuri motif dibalik mabuk dari rebusan air pembalut. Namun, saat ini ditemukan karena faktor ekonomi bahwa mereka tak mampu membeli namun telah terlanjur kecanduan. Sehingga mereka berupaya mencari tahu di internet tentang kandungan pembalut itu sendiri. Dan membuat varian baru dan menghasilkan racikan dengan cara coba-coba.

Siti Hikmawatty selaku Komisioner Bidang Kesehatan dan Napza menyatakan bahwa jumlah remaja itu belum bisa diprediksi karena berkaitan erat dengan jumlah anak serta kreativitas mereka “meramu” bahan-bahan yang mudah di dapat di pasaran. “Meramu air rebusan pembalut didapat dari coba-coba sama halnya seperti ngelem dan lain-lain. Dan keluarga merupakan garda terdepan untuk melakukan tindakan dini atas perubahan remaja dan anak-anak. Jangan sampai kita kecolongan,” ujarnya. (rai)

Editor : Jalaludin Ega

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar