Komunitas

Mengenal IEA, Komunitas Pembuka Jalan Ambulans di Serang dan Cilegon

KOTA SERANG, biem.coSobat biem, jika Anda menemukan pemotor berompi hijau atau merah yang mengiring jalannya ambulans di sekitar Serang dan Cilegon, maka bisa dipastikan mereka adalah anggota dari Indonesia Escorting Ambulance (IEA). Kehadiran komunitas ini masih belum banyak diketahui oleh masyarakat.

Indonesia Escorting Ambulance sendiri merupakan komunitas pengawal dan pembuka jalan lalu lintas bagi ambulans. Komunitas yang berdiri sejak tahun 2018 itu diprakarsai oleh pemuda asal Kabupaten Serang, Heru Prasetyo.

Heru mengawali diri menjadi relawan pembuka jalan ambulans lantaran miris melihat kondisi masyarakat yang kerap tak acuh saat mendengar sirine ambulans di lalu lintas jalanan.

“Masyarakat sipil belum terlalu ngasih jalan kepada ambulans. Padahal, kita kan nggak tau keadaan pasien yang ada di dalam ambulans seperti apa. Apakah gawat, kritis, dan sebagainya,” ungkap Heru saat diwawancarai biem.co.

Namun sebelum membentuk IEA, Heru mengaku sempat ingin membuat Komunitas Ambulans Motor.

“Saya terinspirasi waktu kejadian longsor di Mancak. Itu mobil nggak ada yang bisa masuk, dan akhirnya motor kita yang jalan. Tapi kita agak susah soal perizinan, jadi akhirnya kita buat komunitas yang namanya IEA,” kisahnya.

Di awal menjadi relawan pembuka jalan, Heru kerap mendekati supir ambulans yang melintas di sekitar Serang maupun Cilegon. Biasanya, pemuda kelahiran 14 Januari 1993 itu akan mengamati terlebih dahulu apakah ambulance tersebut sedang membawa pasien atau tidak dengan melihat kondisi lampu sirine di bagian belakang mobil.

Kemudian untuk mengetahui tujuan ambulans tersebut, ia akan mendekati pintu kaca supir lalu bertanya tentang tujuan dan keadaan pasien di dalam mobil.

“Tapi sekian lama sampai sekarang ini, alhamdulillah kita di Serang Timur sudah banyak kerja sama dengan yayasan, klinik, Puskesmas. Begitu juga di Cilegon. Jadi, sekarang ini kalau misalnya lagi ada ambulans yang datang, entah itu dari dalam kota ataupun luar kota, kita selalu dikontak,” tandas Heru.

“Anggotanya di Serang sudah 20 orang, di Cilegon 15 orang,” tambahnya.

Tak ayal, ia dan anggota IEA lainnya terkadang menemukan berbagai kendala saat melakukan operasi pembuka jalan. Seperti di antaranya kurangnya kesadaran dari masyarakat sendiri, adanya kemacetan, serta lampu merah yang juga tak bisa terhindarkan.

Kendati demikian, sebagai relawan yang bergiat di bidang kemanusiaan dan sosial, ia menekankan kepada para anggota untuk sigap membantu pasien sampai ke tempat tujuan dengan cepat dan selamat tanpa mengharapkan imbalan.

“Soal profit, tidak ada sama sekali. Dan saya tekankan kepada teman-teman, walaupun kita dikasih duit dengan para si korban atau keluarganya, jangan pernah diterima. Karena saya berpikir, kalau kita menolong seseorang, suatu saat kita sedang kesusahan, mungkin kita bisa ditolong lagi sama orang lain,” kata Heru penuh kepastian.

Dikatakan Heru, para anggota IEA juga turut mendapatkan pelatihan-pelatihan untuk menghindari risiko dalam mengawal ambulans di jalanan.

“Jadi sebelum kita menurunkan anggota-anggota kita ke jalan, kita ada pelatihan-pelatihannya juga. Yang pertama tentang pelatihan P3K, kita biasanya sebulan dua kali. Yang kedua, kalau masalah ngebuka jalan, kita ada namanya safety riding, biasanya kita ngundang dari Polres bagaimana cara untuk ngebuka jalan yang baik dan benar, ngawal,” tandas Heru.

Ia berharap masyarakat dapat lebih meningkatkan kesadaran terhadap jalannya ambulans.

“Jangan pernah egois untuk memberikan jalan kepada ambulans, karena kita tidak tahu kapan dimana kita bisa menyelamatkan nyawa seseorang,” pungkasnya. (hh)

Editor : Redaksi

Related Articles

Berikan Komentar