Puisi

Sajak Sosiawan Leak

JARANAN KODOK DAN KALONG

siapa mengusir portugis
dari pelabuhan sunda kelapa
merebutnya sebagai kota kemenangan
berpanji jayakarta?

siapa menyuluh cahaya
dikepung gelap pingitan
diancam gulita penindasan
mengobarkan kebangkitan kaum perempuan
atas nama kemajuan bangsa?

siapa rela bergerilya
ditandu
bertahan dari tuber colusa
dengan satu paru-paru
demi menjaga pandu ibu?

kesatria dan putri sejati dari mana
mereka?

kalinyamat, rainha de japara,
senhora paderosa e rica
mengirim 40 kapal berikut 4.000 tentara
agar malaka lepas dari bangsa eropa
membantu orang-orang hitu
melayarkan 1.500 pasukan ke aceh
mencegat penjajah bernafsu remeh

sambernyawa
putra pangeran arya mangkunegara
merumat jiwa merdeka
32 musim meremas senjata
250 medan perang dihadangnya
melawan kasunanan dan kasultanan
yang disandera voc belanda
“tiji tibeh
mati siji mati kabeh,
tiji tibeh
mukti siji mukti kabeh!”
serunya menggenggam keris karawelang

yos sudarso, putra salatiga
mengumpankan macan tutul beserta nyawanya
di laut aru
meloloskan macan kumbang dan harimau
dari meriam lawan di tengah lautan
“kobarkan terus semangat pertempuran!”
komandonya menjelang gugur sebagai kesuma negara

untuk apa mereka berjuang?
atas nama siapa mereka berkorban?

juga rentetan senjata di reservoir siranda
ledakan jepang pada kepala kariadi di pandanaran
hingga pertempuran 5 hari di asem arang
pecah ambarawa menjelma palagan

itu dulu,
di zaman nenek moyangmu
di masa leluhurmu
dulu,
sebelum gerombolan kelelawar dan berudu
menyerbu hatimu

tapi kini
kita malah asyik dolanan jaran kepang
kesurupan tak bisa pulang

gling,
nong neng nung
gling …

menabuh genderang perang
saling silang menebar dendam
saling serang lebih kejam dari pembantaian

gling,
nong neng nung
gling …

maka
kala kodok berloncatan
para kalong pun berseliweran
memaksa kita nguntal kotoran mereka
hingga ayan dan keracunan

gling,
nong neng nung
gling!

mengamuk kita
mengoyak-moyak sang saka
mencabuti bulu-bulu garuda
menginjak-injak bhinneka tunggal ika

gling,
nong neng nung
gling!!

memecah sabang dari merauke
mencacah miangas dari rote

gling,
nong neng nung
gling!!!

untuk apa
atas nama siapa
kita kesetanan
memorak-porandakan kerukunan bangsa?

solo, 25 september 2018


Sosiawan Leak lahir di Solo, 23 September 1967. Buku puisinya, Wathathitha mendapat penghargaan dari Yayasan HPI (Hari Puisi Indonesia) sebagai Buku Puisi Terbaik 2016 (bersama 4 buku puisi karya penyair lainnya). Memperoleh penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Tengah sebagai Tokoh Bahasa dan Sastra Indonesia (2017). Puisinya, Negeri Sempurna, menjadi Puisi Terbaik pada Tifa Nusantara III (2016). Buku puisnya, Sajak Hoax mendapat penghargaan dari Yayasan HPI sebagai Buku Puisi Pilihan 2018 (bersama 4 buku karya penyair lainnya).

Tampil pada Poetry on The Road Festival (Bremen, 2003), Aceh International Literary Festival (Banda Aceh, 2009), Ubud Wiriters and Readers Festival (Ubud, 2010), Jakarta-Berlin Arts Festival (Berlin, 2011), Pertukaran Budaya Indonesia-Korea (Hankuk University of Foreign Studies Seoul, 2012), Asean Literary Festival (Jakarta, 2014), Borobudur Writers and Cultural Festival (Magelang, 2016), dan lain-lain. Menjadi narasumber serta membaca puisi di Universitas Pasau (2003), Universitas Hamburg (2003 dan 2011), Deutsch Indonesische Gesellschaft Hamburg (2011), Kedutaan Besar Indonesia di Berlin (2011), Korea Broadcasting System (KBS) Seoul, Ansan City (2012), dan lain-lain.

Melakukan program apresiasi sastra bersama Martin Janskowski dan Berthold Damhauser (2006-2010), bersama Adam Wideweisch (2012), bersama Charl-Pierre Naude, Vonani Bila, Mbali Bloom, Rustum Kozain, dan Indra Wussow (2012), dan lain-lain. Selain dimuat di media, tulisannya terbit sebagai buku puisi Wathathitha (Azzagrafika, 2016), Sajak HOAX (Elmatera, 2018), dan Wathathitha (Basabasi, 2018). Naskah lakonnya (terjemahan bahasa Jawa oleh Rini Tri Puspohardini) terbit dalam Geng Toilet (Forum Sastra Surakarta, 2012).

Bukunya yang lain, Kepemimpinan Akar Rumput (Jogja Bangkit Publisher, 2015) dan Anai-Anai di Gelap Badai; ODHA Terpencil Melawan Stigma (Yayasan Sheep Indonesia, 2015). Karyanya juga terbit dalam antologi puisi Umpatan (Satyamitra, 1995), Cermin Buram (Satyamitra, 1996), Dunia Bogambola (Indonesiatera, 2007), Matajaman (Eraqu, 2011), Kidung dari Bandungan (bersama Rini Tri Puspohardini, Forum Sastra Surakarta, 2011), Sundel Bolong dalam Senthong (bersama Rini Tri Puspohardini, Forum Sastra Surakarta, 2012), dan lain-lain-lain.

Esainya terbit dalam antologi KATA TIDAK SEKADAR MELAWAN (bersama Gerakan Puisi Menolak Korupsi, Intrans Publishing, 2017). Mementaskan monolog Sarung di Monbijoupark dan Cultur Braureire Berlin (2011), Institut Seni Indonesia Surakarta (2011) serta di Cemara 6 Art Centre Jakarta (2012). Menulis dan menyutradarai drama kolosal Namaku Indonesia (2013), Pulanglah Nak (2014), Wahyu Tumurun (2014), Sedulur Papat (2015), dan Kita Nusantara (2017). Menjadi Koordinator Gerakan Puisi Menolak Korupsi (sejak 2013), Koordinator Penerbitan Memo Penyair (sejak 2014), dan Koordinator Gerakan Antiskandal Sastra (sejak 2018).

HP/WA: 081225801375
Facebook: Sosiawan Leak.
Email: [email protected]

Editor : Happy Hawra

Tulisan yang Tak Kalah Menarik

Berikan Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Tulisan Ini Juga, Yuk!

Close